
Rain berdiri di tengah-tengah hamparan perkebunan teh itu menjinjing keranjang seraya memetik teh walaupun dengan gerakkan yang kaku. Senyumnya terus tersungging di bibir yang dia poles dengan lip matte warna pink nude. Hijab abu tuanya belum dia ganti sejak kedatangannya siang tadi.
"Neng, Rain. Sebentar lagi magrib. Pamali lho wanita hamil di luar jam segini". Ucap salah seorang Ibu pemetik teh yang tidak sengaja lewat.
"Iya, Bu. Makasih sudah mengingatkan". Rain tersenyum mengangguk ramah. Ibu itu pergi setelah sebelumnya membalas anggukkan Rain.
Ega melihat tingkah istrinya itu dari teras rumah sambil menghela nafas panjang. Istrinya itu susah sekali diingatkan. Rain menoleh ke arah suaminya dan melambaikan tangan agar suaminya mendekat. Tidak mau membuat Rain marah, Ega berlari menghampiri istrinya yang sedari tadi tidak mau ditemani.
"Tadi mau ditemenin dilarang, sekarang manggil". Ujar Ega saat sudah berada di samping Rain.
"Eits, wanita hamil muda tuh jangan suka diprotes". Rain menjentikan jarinya seraya tertawa cekikikan.
"Bolehnya dicium, ya". Ega sekilas mencium pipi Rain.
"Malu atuh, Mas". Rain mengusap-usap pipinya.
"Ayo, masuk. Kita besok pagi-pagi harus pulang".
Rain menggeleng menahan tangan suaminya.
"Sini, Aku kenalkan pada emmm" Rain menggantung kalimatnya lalu menunjuk pada semburat jingga merah yang menghiasi langit sore itu. Senja.
"Pada?" Ega menunggu kalimat selanjutnya dari Rain.
"Senja, sempurna". Rain merekahkan senyum bahagia melihat keadaan langit yang sudah dihiasi warna jingga itu.
Rain menggenggam tangan suaminya
"Hai, senja. Di sini Kamu terlihat lebih indah daripada di kota tempatku tinggal. Maaf, ya Aku baru memperkenalkanmu padanya". Rain melirik suaminya sekilas.
"Dia Ragga. Dia suamiku, kekasihku. Tapi Kamu tetap senja yang kusuka. Aku tetap penikmatmu walaupun pertemuan Kita selalu sesaat".
Ega hanya tersenyum melihat tingkah istrinya itu, sehatkah dia sudah berbicara pada senja?. Tempo hari dia bicara dengan hujan? Sesepi itukah hidupnya dulu sehingga hanya bertemankan hujan dan senja.
"Tapi semburat jingga merah itu biasanya tak nampak jika hujan kesayanganmu itu hadir". Ega merangkul bahu Istrinya yang terlihat menikmati senja indah itu.
__ADS_1
"Maksud Mas, senja dan hujan tidak akan bertemu? Senja tetaplah hadir walau hujan datang Mas". Rain mengerucutkan bibirnya kesal dengan ucapan suaminya yang seolah-olah menyalahkan hujan.
"Senja itu selalu setia Mas, Dia datang pada waktunya walau hanya sesaat. Dan hujan, hanya sedikit tidak tahu waktu saat datang". Rain berkata lirih.
"Ibarat cinta Rakha dan Zein ya, Sesaat dan tidak tahu waktu". Ucap Ega membuat Rain sejenak mencerna kalimat suaminya itu lalu tertawa bersama menikmati semburat jingga merah yang mulai menghitam.
🍂🍂🍂
"Hati-hati, ya. Segera urus kepindahanmu A. Tante ingin suasana di sini ramai dengan adanya Rain". Ucap Alis melepas kepulangan Ega dan Rain.
"Nggak semudah itu, Tan. tunggu sampai kuliah Kami di semester satu ini rampung". Jawab Ega yang sudah duduk di balik kemudinya.
"Uangmu banyak, pasti mudah mengurusnya". Ucap Mang Odang menimpali.
"Rain nggak mau pakai uang Papa Kek, Uang tabunganku sudah menipis nih. Aku harus putar otak buat usaha di sini selain penghasilan teh". Ega pura-pura terlihat pusing dengan memijit pelipisnya.
"Kenapa?" Tanya Alis dan Mang Odang berbarengan.
"Takut penuh amarah dan dendam, Kek. Kasian Dedek ku". Rain nyengir kuda seraya mengusap perutnya yang tidak merasakan mual sejak kedatangannya kemarin.
"Kamu ini bicaranya lucu, persis Zein saat muda. Selalu bisa menyenangkan hati orang". Ucap Mang Odang sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Rain hanya tertawa kecil.
"Waalaikumsallaam"
Mobil itu melaju pelan meninggalkan pekarangan rumah. Rumah baru untuk Mang Odang dan Alis sudah selesai berkat dibantu banyak warga.
"Gerak cepat juga Kamu, Mas". Rain menunjuk pada sebuah bangunan yang terbuat dari kaca dan kayu yang sedang dalam tahap pembangunan.
"Apa itu?" Ega pura-pura tak mengerti.
"Mungkin kandang burung". Jawab Rain tertawa.
"Nanti mau dinamain apa tempatnya? Rain? senja? atau hujan?" Pertanyaan Ega membuat Rain menherenyitkan dahi.
"Jangan ketiganya, nanti kupikirkan saat Dedek udah lahir".
__ADS_1
Ega hanya mengangguk-angguk. Mobil mereka sudah keluar dari area perkebunan dan menuju jalan besar menuju jalan utama. Rain terus mengusap perut seraya tersenyum tipis. Banyak sekali yang ada dalam benaknya. Salah satunya ingin mengubur segala kenangan menyakitkan tentang Kota kelahirannya.
Rain kecil yang selalu kesepian dan dijauhi, hanya bertemankan hujan dan senja. Dia ingin mengubur semua itu. Dan Bandung akan menjadikannya sebagai jiwa yang baru. Kisahnya mungkin tidak seperti Ibu yang dikelilingi banyak kerabat dan juga teman-teman. Tapi Rain tidak menyesal. Sang pemilik skenario bukan tanpa alasan mengirimnya seorang Ragga dengan sangat cepat dan janin kecil yang ada dalam perutnya.
Rain tidak pernah merasa kehilangan apa-apa, Dia justru mendapatkan terlalu banyak.
"Hei, kenapa diem aja. Mual?" Tanya suaminya yang sedari tadi diacuhkan.
"Kita kapan pindahnya?, Aku ingin bertemu hujan di sana" Rain balik bertanya. Itulah kebiasaannya tidak mau menjawab malah balik bertanya.
"Nggak sabaran amat sih, Yang. Kita harus bicara dulu lho sama Ibu dan Bibi". Ega menghentikan laju mobil di perempatan lampu merah.
"Aku udah bicara, Mereka mau ikut koq. Kamu pikir restoran dan kafe yang Kamu buat akan bisa berjalan kalau Kita berdua yang memulainya?" Rain mulai merasakan perutnya mual.
"Wiih, bisa nebak isi pikiranku ternyata. Kirain nggak tahu bangunan tadi fungsinya buat apa"
"Selain otak mesum, ternyata ada sedikit juga kepintaran yang Kamu miliki". Rain tertawa mengejek suaminya.
Mobil kembali melaju.
"Yaa Allah, ini namanya diangkat lalu dijatuhkan lagi. Perih, Yang". Ega mengusap dadanya, pura-pura terisak.
"Terimakasih ya, Mas. Selalu menjadikanku prioritas. Aku tidak mau kembali lagi ke kota kelahiranku. Biar itu jadi kenangan".
Ega hanya mengangguk, berusaha berdamai dengan hatinya.
Tidak ada lagi percakapan menghiasi setengah perjalanan mereka pulang. Rain tertidur menggenggam saputangannya.
"Maaf jika luka yang ku torehkan di rumah itu terlalu dalam sehingga membuatmu ingin segera pergi. Aku akan mengabulkannya. Kamu harus selalu bahagia, Rain. Bahagiamu harus seperti waktu, terus berputar. Jangan seperti senja yang sesaat atau seperti hujan yang tiba-tiba".
Cinta kedua insan muda di awal bulan penuh hujan itu memang terlalu tiba-tiba. Keduanya kesepian dan saling membutuhkan. Mereka saling meminta, saling menginginkan walau harus dihiasi dendam. Namun cinta memang seharusnya saling memaafkan, sampai sini keduanya paham bahwa kedewasaan tidak dapat diukur dari sebuah umur dan pengalaman.
Bagaimana Rain bertahan saat suaminya dikuasai dendam. Dia dekatkan diri pada Sang pemilik kehidupan. Lalu semuanya terbuka mudah. Ragga yang memilih kembali ke jalan yang dititahkan agamanya mampu meraih hati Rain yang kecewa.
Andalkan saja Allah, maka semuanya akan mudah.
__ADS_1
Jangan lupa apa?
LIKE, KOMEN, VOTE dan RATE.