Suamiku, Kekasihku (Revisi)

Suamiku, Kekasihku (Revisi)
Mulai Bekerja


__ADS_3

Seminggu sudah usia pernikahan Ega dan Rain. Ega masih sama dengan sifat dinginnya dan Rain mulai terbiasa walau pada akhirnya selalu tangis yang menghiasi malam panjangnya. Di rumah itu Rain seperti seorang pencuri, melakukan segala aktifitas selalu mengendap-endap. Rain begitu bahagia bisa memasak untuk suaminya dan selalu dipuji enak walau Bibi yang mendapatkan pujian itu. Kebiasaan barunya adalah mengintip Ega dan Bibi makan sebab di sana Rain akan melihat wajah tampan itu tersenyum walau bukan untuknya. Melihat senyum itu sungguh mendebarkan hatinya, ada perasaan hangat menjalar saat senyum manis itu ditangkap matanya. Seperti malam itu, Rain memasak daging teriyaki dan capcay. Berkali-kali Ega mengucapkan enak sambil tersenyum. Rain yang sengaja mengintip di balik pintu kamar tamu hanya bisa menghela nafas karena tidak bisa bergabung di sana.


Setelah Ega selesai makan dan kembali ke kamar, barulah Rain akan keluar dari kamar tamu untuk membereskan alat makan. Rain selalu melarang saat Bibi yang akan melakukannya. Setelah selesai semua aktifitasnya Rain seperti biasa dengan langkah pelan memasuki kamarnya. Kali ini Ega belum tidur. Masih sibuk dengan laptopnya di hadapan meja blajar. Rain duduk di kursi meja rias yang persis berada di sebelah meja belajar Ega.


Rain melirik Ega dengan ujung matanya. Ega sesekali memicingkan mata membaca sesuatu di layar laptopnya. Sesekali Ega tersenyum, menganguk-anggukkan kepalanya lalu membaca lagi. Bahkan Ega pun sesekali mengumpat dengan bergumam "shit" sambil membuang kepalan tangan. Rain terus melirik dengan ujung matanya. Suaminya itu dilihat dari sisi manapun tetap saja tampan. Jari-jari panjangnya yang sedang mengetik menjadi pemandangan manis bagi Rain.


Ekhem, Rain memberanikan diri bicara dan berjanji untuk tidak menangsi saat Ega berbuat kasar.


"Mas, Kamu mau kuliah di mana? Kamu mau ambil jurusan apa mas?"


Ega tidak menjawab seolah-olah perkataan Rain barusan tidak Dia dengar. Ega kembali mengetikkan sesuatu di laptopnya.

__ADS_1


"Aku mau ambil jurusan keguruan ya, Mas. Cita-citaku dari kecil pengen jadi Guru" Rain tertawa kecil mengingat cita-citanya yang konsisten itu.


Ega masih tidak menjawab kali ini malah memutar musik seolah sengaja tidak ingin mendengar perkataan Rain dan memang tidak sedikitpun Ega mendengarkannya.


"Mas, makasih ya beasiswanya aku terima". Rain terus saja bicara. Kali ini bahkan Ega malah bersenandung tanpa mempedulikan Rain. Rain memutuskan untuk tidur saja. Dia berbaring seraya menyelimuti tubuhnya sampai dagu. Rain memejamkan matanya, ada rasa nyeri yang menjalar di hatinya. Hatinya terasa berdenyut.


'Ya, Allah. Jika ini memang nyata tolong jangan biarkan keadaan ini membuatku lemah dan mengalah. Tolong sentuhlah hati suami hamba agar kembali mencintai hamba' Do'a Rain dalam hati sambil terus terpejam dan air mata yang mengalir. Nyatanya terlalu sakit saat diacuhkan dan tidak dianggap oleh orang yang kita cintai.


******


"Bi, Bibi!"

__ADS_1


Bibi yang sedang ada di kamarnya berlari-lari kecil menghampiri Ega dengan nafas terengah-engah.


"Bi, jangan lari-lari nanti jatoh deh. Siapa yang mau ngangkat?, badannya kan berat" Kata Ega seraya tersenyum memprotes kebiasaan Bibi yang suka berlari-lari itu. Bibi yang memang memiliki perawakan tambun hanya mendengus kesal dikatai badannya berat oleh Ega. Rain masih berdiri di pintu, sambil mengintip sekaligus menguping. Rain tentu saja tersenyum mendengar perkataan Ega barusan. Rain rindu masa-masa indah dengan Ega yang selalu memperlakukannya dengan manis. Hatinya jadi berdebar mengingat itu semua.


"Kenapa sih, A panggil-panggil. Kan sarapannya udah siap?" Bibi menunjuk meja makan.


"Aku minta tolong siapin baju buat kerja, kata Pak Riko Aku harus mulai terjun langsung menangani bisnis Papa. Nggak bisa cuma lihat laporan lewat e-mail doang" Jawab Ega seraya duduk dan mengambil piring. Matanya berbinar melihat sarapan yang terhidang. Nasi goreng lengkap dengan telur coplok dan kerupuk udang.


"Setiap hari, A?" tanya Bibi


"Iya, mungkin sabtu dan minggu enggak". Jawab Ega mulai menyuapkan nasi ke mulutnya.

__ADS_1


"Ya udah Bibi siapkan dulu". Bibi berlalu meninggalkan Ega yang lahap menyantap sarapannya. Dia masih berfikir itu masakan Bibi.


Rain bergegas ke belakang dengan membawa harapan sederhana, bisa menjadi orang yang paling dibutuhkan Ega. Yang selalu Ega cari bahkan untuk sekedar menyiapkan baju gantinya, bukan Bibi.


__ADS_2