
Rain setengah berlari menuju ruang kerjanya sebelum masuk ke dalam kelas. Ega sengaja menunggu di depan ruangan itu. Setelah mengucap salam Rain menyapa seluruh Guru yang ada di dalam ruangan itu. Rain mengambil Buku panduan mengajarnya dan memohon diri pada rekan-rekan nya untuk masuk kelas. Rain tersenyum ke arah Ega yang setia menunggunya.
"Mas yakin mau nunggu Aku?" Tanya Rain berdiri di hadapan Ega yang sedang duduk.
"Aku ikut ya ke dalam kelas, Aku janji nggak ganggu". Ega ikut berdiri. Baru keduanya akan melangkah seorang Guru dengan tubuh gempal menghampiri mereka.
"Rain, ini siapa?" Tanya Bu Nana seraya menunjuk ke arah Ega.
"Ah iya, Bu. Ini suami Rain. Mas, kenalin ini senior Aku" Rain memperkenalkan Bu Nana pada Ega begitupun sebaliknya. Bu Nana dan Ega saling melempar pandang dan saling tersenyum mengangguk.
"Saya pikir Kamu masih single, Kamu terlihat masih gadis. Padahal saya ingin sekali mengangkatmu jadi menantu Saya". Ucap Bu Nana membuat wajah Rain merona dan tentu saja raut wajah Ega berubah tidak suka.
"Saya bukan gadis lagi, Bu. Pernikahan saya sudah empat bulan" Jawab Rain.
"Apa udah tanda-tanda kehamilan?" Tanya Bu Nana, terlalu banyak ingin tahu.
"Saya masih menunda, Bu" Jawab Rain, sekenanya.
"Jangan terlalu lama menunda, nanti malah susah. Seperti kepala sekolah kita" Ujar Bu Nana sedikit berbisik.
"Nanti Saya pikirkan, Bu. Saya duluan Bu. Permisi". Rain menarik tangan Ega agar mengikutinya. Mereka berjalan menuju kelas saling menggenggam tangan. Bu Nana yang melihatnya hanya geleng-geleng kepala.
Rain mengucap salam saat masuk ke dalam kelas II itu. Anak-anak kompak menjawab salam.
__ADS_1
"Mas, Kamu duduk gih di bangku sana". Rain menunjuk pada bangku kosong yang ada di pojok kiri paling belakang.
"Siap, Ibu Guru cantik". Jawab Ega seraya melangkah menuju bangku yang ditunjuk Rain.
"Anak-anak apa kabarnya hari ini?" Tanya Rain tersenyum menyapukan pandangannyavke seluruh ruangan. Terlihat Yugo yang senyumnya paling lebar.
"Baiiik, Buuu" Semua menjawab serempak.
"Pinter, sudah sarapan belum?" Tanya Rain lagi kali ini berjalan pelan mengitari murid-muridnya.
"Sudah, Bu" Lagi-lagi kompak menjawab.
"Sudah siap belajar?" Tanya Rain masih berjalan mengitari tempat duduk murid-muridnya.
"Siaap Buu" Aah mereka selalu kompak.
"Berdo'a selesai". Rain melangkah kembali ke mejanya. Saat hendak membuka Buku panduan mengajarnya tiba-tiba Yugo berdiri dan berteriak
"Bu Guru cantik, Aku mau bicara sebentar"
Rain tertawa lalu mendekat pada Yugo.
"Bu Guru sudah makan?"
__ADS_1
"Sudah"
"Sudah minum?"
"Sudah"
"Sudah sayang belum sama Aku?"
Rain kaget, bagaimana Yugo tahu dialog seperti itu. Itu kan dialog sebuah film remaja. Atau apakah Yugo membaca novelnya juga.
"Yugo tahu darimana kalimat seperti itu?" Tanya Rain semakin mendekat pada Yugo.
"Yugo nonton film itu sama Kakak juga baca kata-kata itu di buku Kakak" Mungkin maksud Yugo novel. Rain memijat pelipisnya. Ada apa dengan Yugo yang terlalu dewasa di usianya yang baru Delapan tahun ini?
"Yugo, denger Ibu ya. Yugo jangan lagi nonton seperti itu dan jangan baca buku lain selain buku pelajaran ya" Rain mengusap sayang kepala Yugo. Yugo mengangguk
"Naah sekarang semuanya buka halaman 58 yaa". Rain kembali berjalan mengitari murid-muridnya.
Ega dibuat takjub oleh Rain. Rain memang selalu mempesona. Bahkan anak usia delapan tahun saja bisa tertarik olehnya. Hari ini Ega benar-benar dibuat cemburu. Saat sedang asyik memandangi istrinya itu tiba-tiba sebuah pesan masuk di ponselnya.
Ega terbelalak membaca pesan itu
📩Selamat pagi, Mas. Saya sekretaris Pak Riko. Pak Riko sudah kembali ke jakarta namun Pak Riko mengalami kecelakaan dan keadaannya kritis. Sekarang di rumah sakit Husada.
__ADS_1
Ega tiba-tiba merasa lemas sekali. Bagaimana jika Pak Riko tidak bisa selamat. Ega segera berdiri lalu memperlihatkan pesan itu pada Rain. Rain sama kagetnya.
"Aku pergi dulu, selesaikan pekerjaanmu. Nanti Aku jemput". Ega mengecup dahi Rain singkat lalu segera berlari keluar ruangan itu.