
Malam itu selepas makan malam dan shalat isya, Rain duduk menyandar dipinggiran tempat tidur seraya memeluk kedua kakinya dengan perasaan kecewa.
'Kenapa Dia nggak inget besok hari apa? besok ulangtahunku. Apa karena sudah menikah jadi nggak penting lagi?'
Batin Rain terus berkecamuk memandangi punggung suaminya yang selalu sibuk dengan laptopnya setiap malam.
'Hallo, kamarnya yang VVIP ya? oke, kalau masih kurang nanti ku transfer. Ok, thanks'
Percakapan Ega lewat telpon itu membuat Rain penasaran sebenarnya apa yang sedang suaminya itu sembunyikan. Seminggu ini terlihat sibuk dan terkadang pulang larut. Rain memicingkan matanya berjalan mengendap-endap mengintip apa yang sebenarnya sedang dilakukan suaminya itu. Matanya menangkap sosok wanita berambut panjang sedang melakukan video call dengannya.
"Mas, Kamu video call siapa itu?" Rain dengan keras memukul bahu suaminya itu. Ega terkejut dan langsung memantikan sambungan video callnya.
"Ya ampun Yang, kirain udah tidur. Itu cuma temen kuliah, koq" Jawab Ega berusaha mencari alasan. Rain tidak percaya, Dia hendak merebut ponsel suaminya namun dengan sigap Ega menepis tangan Rain.
"Kamu koq pelit, Kamu sampai menepis tanganku lho Mas. Kamu punya cewek lain ya Mas?" Wajah dan mata Rain memerah. Ah, kenapa mudah sekali menangis sih Rain?
"Apasih, Rain! Jangan ngaco deh. Tugas kuliahku lagi banyak. Kamu tidur aja, besok kan Kita mau ke taman bunga. Aku ke bawah dulu. Kamu ganggu aja deh". Ega segera membawa ponsel dan laptopnya serta keluar meninggalkan Rain yang mulai menangis. Tiba-tiba Rain teringat Ibu. Setelah kejadian di awal pernikahan itu menimpanya, bukankah Ibu bilang agar Rain selalu membagi keluh kesahnya apapun itu. Rain segera melakukan panggilan pada Ibunya.
๐Assallamuallaikim, ada apa Rain?
๐Waalaikumsalaam, Bu. Rain kesel sama Mas nih Bu. Sikapnya berubah beberapa hari ini.
๐ Berubah gimana? Jangan suudzon, nanti kejadiannya kaya waktu sama Nita itu deh
__ADS_1
๐ Mas tuh sibuk terus, barusan dia juga video call cewek Bu. Bilangnya temen kuliah. Sampe ninggalin Aku di kamar bawa laptopnya ke bawah
๐ Kamu bikin salah kali, apa Kamu udah melakukan kewajibanmu sebagai istri?
๐ Aku selalu baik, Bu. Aku selalu pulang lebih awal dari Mas.
๐ Apa Kamu udah memberikan hak nya sebagai suami?
๐ Belum sih. Kan Rain sedang haid, Bu.
๐ Ya sudah, jangan salahkan suamimu. Kamu sendiri sampai kapan mau betah jadi perawan terus?
๐ Ibu malah belain, Mas. Aku kan anak Ibu.
๐ Iya, Bu. Nanti Rain pikirkan. Terimakasih Ibu. Assallamuallaikum.
๐ Waalaikumsalaam.
Ibu memutus panggilannya. Rain bertambah was-was setelah bicara dengan Ibunya. Ingin menemui Ega, namun percuma jika hanya menambah sakit hati. Rain memutuskan tidur saja, hatinya sedikit baik memikirkan besok akan ke taman bunga.
๐๐๐
Pagi hari suasana gaduh di kamar pasangan suami istri itu, Rain sibuk mencocokkan warna gamis serta hijab yang akan dikenakannya agar teelihat matching dengan pakaian yang akan dikenakan suaminya.
__ADS_1
"Riweuh ih Kamu Yang, udah tiga kali ganti ini. Keburu siang. Kasian Ibu sama Pak Riko nungguin di bawah". Ega yang sudah merasa nyaman dengan celana levis mocca dan hoodie hitamnya juga sneaker hitam merasa kesal jika harus ganti baju lagi. Rain yang masih mencari hijab hitam untuk melengkapi gamis wolfis warna mocca agar terlihat serasi dengan suaminya sama sekali tidak menjawab.
"Yang, kuhitung sampai 5 ya. 1. 2. 3..." belum selesai Ega meneruskan kalimatnya Rain langsung berteriak senang.
"Yeeay, ketemu. Aku bilang sabarlah Mas" Rain segera merias diri. Dia mengikuti saran Ibu untuk sedikit memoles wajah agar terlihat fresh. Dia bentangkan hijab segi empat yang besar itu hingga menutupi perut juga pantatnya.
"Perfect". Ega memeluk Rain dari belakang saat Rain selesai menyematkan bros bunga kecil di bagian depan hijabnya.
"Makasih". Rain mengelus pipi suaminya itu dan pandangan mereka bertemu lewat cermin meja rias lalu sama-sama tertawa.
"Ayo berangkat, nanti mertuaku ngedumel". Ega segera menarik Rain dan membawakan tas slempang kecik Rain yang tergeletak di tepi tempat tidur.
Di ruang tamu terlihat Bibi, Ibu dan Pak Riko sedang asyik berbincang.
"Wiiih gila, titisan surga banget anak Loe Zein". Pak Riko berdiri membentangkan tangannya melihat Rain dan Ega yang baru datang.
"Itu terlalu berlebihan Pak Riko, Rain cuma wanita akhir zaman. Penuh kemunafikan dan berlumur dosa". Rain merasa risih dengan ucapan Pak Riko.
"Pak Riko kalau mau muji kecantikan cewe, cari orang lain aja. Jangan istri Saya. Saya geuleuh ngedengernya". Ega melingkarkan tangannya di pinggang Rain seolah memberi ultimatum pada Pak Raka.
"Sudah, ayo berangkat. Kalau kesiangan nanti macet". Ibu menengahi perdebatan anak buah dan bosnya itu lalu menarik tangan Rain untuk keluar terlebih dulu.
Ega dan Pak Riko membuntuti dua wanita berhijab beda usia itu. Setelah sedikit berdebat akhirnya diputuskan bahwa yang akan menyetir adalah Pak Riko. Ibu duduk di kursi depan sedangkan Ega dan Rain di kursi belakang. Tentu saja, mana mau Ragga itu dijauhkan dari Rain. ck
__ADS_1
Like, Komen, dan vote nya kakak-kakak sayang. Biar ku selesaikan sampai akhir cerita ini. Walaupun masih dibawah standart nih karyaku. Terimakasih buat yang selalu setia mampir. Dan yang belum mampir, ikut mampir yaa