Suamiku, Kekasihku (Revisi)

Suamiku, Kekasihku (Revisi)
Kedatangan Riko


__ADS_3

Semua menyelesaikan sarapan tanpa obrolan. Rain segera merapikan meja makan dan membawa piring-piring kotor ke tempat cucian piring. Ega yang bingung mau bicara apa ikut membuntuti langkah Rain.


"Bi, Aa mu itu setiap hari begitu? kasihan anakku, Bi. Aku saja liatnya pusing apalagi Rain?" Bibi memperhatikan Ega yang berdiri di samping Rain yang sedang mencuci piring. Bibi jadi bingung hendak menjawab apa, sedangkan sikap Ega sendiri baru-baru ini saja hangat terhadap Rain.


"Maaasss, bajuku basah semua nanti" teriak Rain saat Ega menjahilinya dengan mencipratinya air dari keran.


"Mana ada basah? orang diciprat doang juga" Ega kembali menciprat muka Rain.


"Aku tuh lama-lama berasa punya anak kecil bukan suami. Sana pergi" Rain menyiku perut Ega dengan keras sebab kedua tangannya penuh dengan sabun cuci piring.


Ibu dan Bibi senyum-senyum melihat mereka terus berdebat


"Tuh denger sendiri, pasti pusing itu anakku" Ibu geleng-geleng kepala dan diangguki Bibi.


Kejahilan Ega baru berhenti saat ponselnya berdering


📞 Hallo, Pak? Oh udah di depan? Iya, Sebentar saya buka gerbangnya.

__ADS_1


"Aku bukain pintu buat Pak Riko bentar ya" Ega berlalu dan sempat-sempatnya menciprati muka Rain lagi.


"Massssss" percuma Rain, Ega tidak takut dengan teriakanmu.


Rain menyelesaikan cucian piringnya dengan wajah dan jilbab bagian depannya yang basah. Rain kembali ke meja makan bergabung dengan Ibu dan Bibi.


"Kamu pelankan suaramu saat bicara dengan suami mu Nak, nggak baik" Ibu berusaha menegur anaknya yang tadi sempat meneriaki suaminya.


"Ibu nggak tahu sih rasanya kalau Mas udah jahil, Rain kesel Bu" Rain mengambil tisu dan mengeringkan wajahnya.


"Dia romantis ya, Ibu seneng lihatnya. Kalo kata anak jaman sekarang uwu banget bikin baper" Ibu tertawa mencubit gemas pipi Rain yang masih cemberut karena kesal dengan kejahilan suaminya. Rain belum sejauh itu ilmu agamanya. Dia tidak mengerti bahwa bersenda gurau dengan suami itu memiliki pahala dan termasuk ibadah juga.


"Gimana nggak berusaha cepet sehat kalau ada yang mau membuatkan mall" Pak Riko yang hari itu mengenakan kaos polo berkerah warna biru mint dengan jeans sebagai celananya terlihat lebih muda.


Rain, Ibu dan Bibi merasa penasaran siapa yang datang. Mereka kompak menuju ruang tamu. Hati Rain sebetulnya gundah antara siap dan tidak mendengar semua kenyataan masa lalu orangtuanya. Seperti dikomando, mereka bertiga jalan mengendap-endap menuju ruang tamu.


"Pak Riko udah sembuh?" Rain berusaha tersenyum menyapa Pak Riko walaupun jantungnya terasa mau cepat.

__ADS_1


"Iya Mbak, kan Saya mau dibikinin mall. Jadi saya berusaha sembuh. Saya takut dibunuh Mas Ragga kalau berlama-lama sakit". Gelak tawa Pak Raka di akhir kalimatnya membuat Ibu teringat akan seseorang. Ibu yang sedari tadi menundukkan kepala berusaha melihat ke arah Pak Riko.


Deg. Ibu kenal wajah itu. Iya sempat bertemu saat akad pernikahan Rain? Bukan? Saat itu Ibu tidak terlalu memperhatikan wajah Pak Riko. Tapi Ibu kenal itu adalah wajah orang yang sempat dekat dengannya beberapa tahun lalu.


"Riko?" Ibu menunjuk ke arah Pak Riko. Pak Riko sendiri tidak kaget. Dia sudah tahu lebih dulu pasti akan bertemu dengan Zein, wanita yang pernah membuat hatinya bergetar walau hanya melihat senyumnya. Zein, wanita yang membuatnya jatuh cinta dan patah hati dalan waktu bersamaan.


"Kalian sudah saling mengenal?" Bibi kaget saat Ibu menyebut nama Pak Riko seperti seorang teman dekat.


Ega dan Rain saling melempar pandang. Mereka sudah melihat lewat potret masa lalu itu. Mereka hanya belum tahu persis seperti apa hubungan antara keduanya di masa lampau.


Ibu ambruk di tempatnya berdiri. Lututnya terasa bergetar dan lemas tak dapat menopang lagi badannya. Haruskah kebenaran ini dibongkar di depan anak dan menantunya sekarang? Haruskan anak dan menantunya mengetahui masa lalu yang bisa saja membuat mereka saling membenci?


Rain dan Ega kompak meraih tubuh Ibu dan Bibi segera ke dapur mengambilkan air minum. Ega dan Rain memapah Ibu untuk duduk di sofa. Ibu berusaha mengatur nafas, Bibi kembali dengan segelas air putih yang langsung diserahkan pada Rain. Perlahan Rain meminumkan air itu pada Ibu. Ibu menerimanya walau hanya sedikit yang diteguk.


"Zein, Kita tidak bisa terus-terusan sembunyi" Pak Riko membuka pembicaraan. Ibu mengangguk mantap.


"Loe yang cerita Ko, Gue nggak sanggup" Pelan sekali Ibu menjawab.

__ADS_1


Dari cara mereka berinteraksi Rain sudah paham bahwa keduanya memang sangat akrab pada masanya.


__ADS_2