
Setelah di dalam mobil Ega dan Rain sama-sama menghembuskan nafas panjang. Bahkan Rain belum bisa melupakan raut wajah Pak Rakha yang penuh amarah. Ega terlihat tertekan. Rain meraih tangan Ega menggenggamnya erat. Namun, Ega malah menarik tangannya kembali seraya melajukan mobil dengan kecepatan tinggi.
Rain merasa takut melihat Ega dengan wajahnya yang dingin dan tegas. Ega terlihat menyimpan dendam dan amarah. Tidak ada percakapan. Hanya deru mobil dengan kecepatan tinggi membelah jalanan sore hari yang macet.
Di tengah-tengah perjalanan mereka terjebak macet. Bugh, Ega memukul setir seraya mengumpat
"Ah sialan, koq bisa macet sih!?"
"Egaaa" Rain memanggil dengan suara halus. Ega tak menoleh apalagi menjawab.
Rain memberikan botol minum yang tutupnya sudah Dia buka. Namun, Ega dengan sengaja malah menepisnya. Jadilah air itu tumpah setengahnya ke badan Rain. Rain segera menaruh kembali botol minum ke dalam tas.
*Ja*di begini kalau dia marah? tampangnya seperti Pak Rakha. Batin Rain.
Mobil melaju dengan pelan, barulah setelah 30 menit kemacetan terurai dan jalanan kembali lancar. Rain terus melirik ke arah Ega yang masih dengan wajah penuh amarahnya.
*Bi*caralah, kata Rain dalam hati.
Tiba-tiba Ega menepikan mobilnya di tempat yang agak sepi.
"Kenapa takdir kejam sekali, Rain? Kenapa wanita itu harus datang? Aku lebih memilih nggak dilahirkan daripada hidup seperti ini!" Seru Ega dengan penuh emosi.
"Sejak TK Aku sering mendengar Ibu-ibu itu membicarakan hal jelek tentangku. Mereka fikir Aku ini anak haram dari wanita simpanan Papa. Mereka bilang nasibku jelek. Saat acara-acara sekolah hanya Bibi yang menemaniku. Bahkan teman-temanku bertanya di mana Ibuku? Teman-temanku bahkan mengira Aku adalah anak yang dipungut dari jalanan!" Dengan berderai air mata, Ega mengingat-ingat kembali masa kecilnya.
'Pasti Dia anak yang tidak diinginkan'
__ADS_1
'Dasar anak pungut'
'Lihatlah, menyedihkan sekali hidupnya'
'Aku sudah besar tidak mau pacaran sama dia'
'Aku juga nggak mau'
Suara-suara ejekan itu kembali terdengar di telinganya. Ega menutup telinga dengan kedua tangannya dan berteriak frustasi. Rain semakin ketakutan melihatnya. Tubuh Rain bergetar hebat dengan nafas tersengal.
"Gue nggak akan maafin wanita itu, akan Gue cari!" Gumam Ega yang bisa didengar oleh Rain yang semakin ketakutan.
Kedua tangan Rain mencengkram kuat kain penutup kakinya. Bibirnya bergetar menahan tangis. Sementara itu Ega mulai menguasai diri. Mengatur nafasnya dan mengusap wajahnya.
"Kamu kenapa?" Tanya Ega menatap bola mata Rain yang mulai berderai air mata.
"Aku takut, Aku takut. Takut" Jawab Rain sambil berusaha menahan tangis.
"Oh, shit" Ega mengumpat.
"Ayo kita turun, tuh di sana ada kursi" Ega menunjuk sebuah kursi di bawah pohon di pinggir jalan itu. Keduanya turun dari mobil, Rain hati-hati melangkah. Tubuhnya terasa lemas.
"Jangan takut, Aku bukan marah sama Kamu" Kata Ega yang berjongkok di hadapan Rain karena memang kursi itu terlalu kecil untuk diduduki berdua.
"Ayo, atur nafas Kamu" Ega menangkup kedua pipi Rain dan menghapus air mata itu dengan ibu jarinya. Rain memejamkan matanya, mengatur nafasnya.
__ADS_1
"Huuuh" Rain membuang nafasnya dan perasaannya lebih tenang. Ega menggenggam kedua tangannya.
"Sudah lebih baik?" Tanya Ega menatap dalam.
Rain mengangguk.
"Aku bukan marah sama Kamu" Kata Ega terus menatap Rain.
"Jangan mendendam, ikhlasin aja. Percuma kalau Kamu seperti ini nggak akan bisa mengembalikan semuanya" Kata Rain, kini tangannya sudah mengelus-elus kepala Ega.
"Aku nggak bisa, Aku bahkan memilih tidak dilahirkan daripada Mamaku yang bernasib tragis" Jawab Ega menunduk.
"Kalau Kamu nggak ada, terus Aku sama siapa? Percayalah ini sudah jalannya Tuhan" Rain berusaha meyakinkan Ega.
"Enggak, Rain. Wanita itu harus bisa merasakan apa yang dirasakan Mama" Ega masih menunduk, tangannya semakin erat menggenggam tangan Rain.
"Jangan kaya gini, jangan biarkan dendam dan emosi menguasai diri Kamu!" Rain mengangkat dagu Ega. Rain berusaha menatap Ega namun Ega membuang pandangannya ke segala arah.
Sebab, Ega tahu dirinya akan luluh jika sudah menatap mata teduh Rain.
"Aku nggak bisa Rain, maaf. Aku bahkan akan membenci dan tidak akan memafkan wanita itu!"
Rain menarik nafas panjang. 'Baiklah, nanti mungkin Aku bisa membujuknya lagi'.
"Ya udah, ayo kita pulang" Kata Rain seraya melepaskan genggaman Ega dan berlalu ke dalam mobil dengan kekecewaan mendalam.
__ADS_1