
Hari menjelang sore saat akhirnya Rain memutuskan untuk pulang walaupun enggan rasanya. Perasaan hampa saat meninggalkan rumah kekasihnya itu. Rasanya ada sesuatu yang hilang. Berkali-kali menengok gerbang tinggi itu sampai akhirnya Dia sudah berjalan jauh.
Beberapa menit kepulangan Rain, Pak Rakha datang ke rumah itu. Ega yang baru hendak mandi terpaksa menemuinya.
"Ega, apa Kamu benar-benar sudah yakin dengan gadis itu?" Mereka berdua mengobrol di kamar Rakha.
"Iya Pa, udahlan Papa dari awal juga nggak masalah kan. Kenapa sekarang jadi gini?" Ega menatap jengah Papanya, sejujurnya masih ada rasa benci di hatinya itu. "Kamu yakin, akan tetap mencintai gadis itu walaupun mengetahui sesuatu yang tidak baik tentangnya?" Pak Rakha menatap tajam putranya itu.
Seketika Ega langsung teringat perkataan Ibu Rain
'Kamu akan tetap mencintai Rain walaupun orang membicarakan hal buruk tentangnya?'
Ega hanya mengangguk.
"Lihat poto ini baik-baik!" Pak Rakha menyerahkan poto kusam yang beberapa hari ini telah mengusik ingatannya ke masa lalu.
Dengan tangan bergetar Ega meraih poto itu. Terdapat Empat orang remaja tanggung di poto itu. Dua diantaranya sepertu Ega kenal, Papanya dan Rain?
"Ini Papa dan, ini kenapa mirip Rain?" Ega bergumam namun Pak Rakha dapat mendengarnya.
__ADS_1
"Itu bukan Rain, coba lihat dengan jelas!"
"Ii-bb-bu" Ega bicara dengan bibir bergetar.
"Dialah Zein, Yana Zeinithari. Wanita sialan yang menghancurkan hidup Mamamu, Papa dan Kamu!"
Teriak Pak Rakha mambuat Ega seperti mendengar petir di siang bolong. Poto itu terlepas dari tangan Ega. Hatinya terasa dihujam ribuan tombak. Penglihatannga kabur akibat air mata yang menggenang. Kepalanya rasanya dihujam benda yang sangat berat. Jika Ibu adalah Zein, maka Rain adalah anaknya? Itu berarti Mereka berdua adalah orang yang beberapa waktu ini mengganggu pikiran Ega. Membangunkan sebuah dendam.
Ega ambruk di atas lantai, kakinya lemas tidak lagi dapat menopang. Air matanya mengalir begitu saja. Tiba-tiba rasa cinta yang dalam itu berubah jadi lautan benci yang penuh dendam.
"Papa tahu ini berat, apalagi Rain sedang mengandung anakmu. Tapi, kenyataan inilah yang harus Kamu tahu!" Pak Rakha mencoba meraih pundak Ega namun langsung ditepisnya.
"Dia mengandung anakmu!" Pak Rakha berjongkok di hadapan Ega yang terlihat tak berdaya
"Dia nggak hamil, Aku bahkan belum pernah melakukannya. Dan nggak akan pernah. Cuih!" Ega meludah ke sembarang arah. Hilang sudah wajah cantik yang selalu dia puja itu.
"Kamu nikahi lah dia, buat hidupnya menderita. Balaskan setiap sakit yang selama ini Kamu rasakan. Jika Kamu menyakitinya sebagai suami, Papa yakin hidupnya akan hancur. Jangan beri Dia talaq agar selamanya dia terjebak dalam kesakitan!" Pak Rakha membisik pelan namun sangat perih.
Ega mengepalkan tangannya, dendam dan amarah terpancar dari sorot matanya.
__ADS_1
"Mamamu menderita, gila dan bunuh diri karena ulah dua manusia itu. Setidaknya balaskan setiap sakit yang Mamau alami" Pak Rakha berkata dengan penuh penekanan.
"Sakit hati harus dibalas sakit hati, nyawa harus dibalas nyawa. Biarkan gadis itu perlahan membunuh dirinya sendiri!" Pak Rakha terus meracuni pikiran Ega.
Ega mengangguk lemah, dengan berderain air mata dan wajah yang terasa panas. Tangannya masih mengepal, rahangnya mengeras denga tatapan mematikan.
'Apa Loe udah tahu? Apa ini alasan Loe terus ngelarang Gue nyimpen dendam?'
Pak Rakha berdiri dengan sekilas senyum jahat
'Zein, ini balasan untuk orang yang berani bermain-main denganku. Bertahun-tahun perih dan sakit hati dan Aku tak akan biarkan hidupmu bahagia begitu saja. Tentu saja Aku tidak akan menggagalkan pernikahan putrimu!'
Pak Rakha beranjak, namun baru dua langkah kembali menoleh
"Jangan dibutakan dengan cinta, Serang gadis itu terlebih dahulu maka wanita sialan itu juga akan merasakannya! Papa serahkan semuanya padamu" Setelah bicara seperti itu Pak Rakha benar-benar pergi.
Ega meraih kembali poto itu.
"Mamaaaa, Aku buat mereka lebih sakit dari kematianmu" Ucapnya seraya berdiri lalu memasukan poto itu ke dalam laci dan berlalu ke kamar mandi.
__ADS_1