
Siang itu Rain dan bayinya sudah diizinkan pulang. Rain sedang bersandar di tempat tidurnya bersama Bayinya yang tertidur di sebelahnya.
"Sayang, Kamu bahagia?" Ega mendekati istrinya.
Rain hanya mengangguk memandang putranya yang tertidur sambil sesekali menggeliat.
"Boleh Aku yang kasih nama?" Tanya Rain dan hanya diangguki Ega.
"Sini, Mas. Duduk". Rain menepuk tempat kosong di dekatnya.
"Namanya, Ahmad Sakaf. Kaf panggilannya" Ujar Rain.
"Waah, simple dan unik. Apa artinya?"
"Nggak tahu juga, tapi Aku ambil nama Sakaf itu dari hurup Sa dan Kaf pada huruf hijaiyah. Sa itu seperti perahu dengan tiga titik bagaikan cahaya Mas. Perahu yang kuat yang bisa melawan badai dengan cahaya yang selalu bisa memberi terang. Dan hurup Kaf itu seperti sebuah benda yang memiliki banyak fungsi. Lengkungannya seperti kursi yang bisa menjadi tempat istirahat dengan sebuah tiang yang bisa dijadikan tempat sandaran. Nah, ketika huruf Kaf dibalik itu bisa dijadikan tempat bernaung. Berlindung dari segala marabahaya". Rain menjelaskan kenapa dirinya memilih nama Sakaf untuk putra Mereka.
"Sampai sejauh itu Kamu mikirnya, Yang. Terimakasih". Ega menarik istrinya ke dalam pelukkannya. Rain membalas pelukkan Ega dengan erat.
"Terimakasih ya, Mas. Kamu selalu sayang dan membuatku merasa istimewa". Rain mengelus punggung suaminya penuh sayang.
Namun, suara tangisan kecil dari Kaf menghentikan kegiatan keduanya. Rain mengurai pelukkannya dan beralih menggendong Kaf, membawanya ke dalam pelukan dan memberinya ASI.
"Pelan-pelan, Sayang". Rain mengelus pipi Kaf yang sudah dengan lahap menyusu padanya padahal ASInya masih belum keluar.
"Hai Sakaf. Jadi anak sholeh ya, Nak" Ega menciumi kepala Sakaf yang wangi khas bayi itu.
"Iya, Baba. Kaf nanti jadi anak pintar dan sholeh". Rain menimpali perkataan Ega dengan suara dibuat seperti anak kecil. Lalu keduanya tertawa membuat Kaf kembali menangis walau sebentar lalu kembali menyusu pada Rain.
🍂🍂🍂
Ahmad Sakaf. Usianya kini sudah 1 tahun 2 bulan. Kaf tumbuh menjadi anak yang menggemaskan. Pipinya yang chubby akan terlihat menggemaskan saat tersenyum. Membentuk sebuah lesung di bagian pipi kanannya. Dagunya belah dengan alis tebal dan bulu mata lebat. Kaf menjadi pusat kebahagiaan keluarga mereka.
Desember kembali lagi, sore itu Rain yang baru selesai membuat nasi tim untuk Kaf dibuat kaget dengan teriakan Suaminya yang sedang menggendong Kaf di luar.
"Kenapa, Mas?" Rain dengan mangkuk kecil berisi nasi tim di tangannya berlari ke luar menghampiri Ega yang sedang kewalahan menggendong Kaf yang meronta-ronta ingin memegang air hujan.
__ADS_1
"Kaf minta main hujan, Yang". Ega masih mencoba menenangkan Kaf yang badannya terus menggeliat. Rain tersenyum, ditaruhnya nasi tim itu di meja bundar.
"Kaf, sini sama Bunda". Rain meraih tubuh gembul anaknya dari pangkuan Ega.
"Tuuh tuuh jan jan, Kaf muu". Bibir Kaf sampai monyong-monyong.
"Ooh, Kaf ingin main air hujan? Waah, boleh tapi mamam dulu ya. Mamam nasi tim campur wortel dan hati. Ok, anak ganteng". Rain mencium pipi gembul anaknya penuh sayang.
"Mamam ya Kaf mamam, Bababa mamam". Kaf menunjuk-nunjuk Ega yang kini duduk di depan meja bulat itu.
"Ooh Kaf mau mamam dekat Baba, boleh. Ayoo". Rain berlari kecil menuju meja bulat membuat Kaf tertawa memperlihatkan giginya yang sudah lumayan banyak. Kaf makan dengan lahap seraya sesekali meminta minum.
"Mimi da mimi".
Rain dan Ega tertawa melihat tingkah menggemaskan putranya yang memiliki kulit putih itu.
"Ayo, ini suapan terakhir. Habis ini boleh main hujan".
Sakaf membuka mulutnya lebar dan menerima suapan dari tangan Bundanya. Pipinya yang bulat terlihat lucu saat mengunyah.
"Jan da uuh uuh jan". Kaf kembali menunjuk-nunjuk pada hujan.
Rain mengelap pipi putranya yang belepotan dengan tisu basah. Ega segera melakukan apa yang dikatakan Rain.
"Sebentar aja ya main hujannya, nanti kedinginan". Rain berdiri menggendong putranya yang lumayan berat itu. Ega kembali membawa payung besar.
"Aku yang gendong Kaf, Kamu payungin ya Mas".
"Iya sayang, ayo"
Ega membuka payung besar itu. Mereka berjalan ke halaman rumah beriringn. Rain membantu Kaf menengadahkan sebelah tangannya agar merasakan percikan air hujan. Ujung baju Rain basah, begitupun Kaf yang hari itu mengenakan kaus panjang.
"Aa haha aaa, jan jan iih hi hi". Kaf senang sekali saat tangannya terasa dingin terkena air hujan. Rambut dan bahu sebelah kiri Ega bahkan sudah basah akibat menahan payung agar melindungi anak dan istrinya.
"Sudah ya main hujannya, sekarang waktunya Kaf mamam Jeruk. Kaf suka Jeruk?" Rain mencium kembali pipi gembul menggemaskan itu.
__ADS_1
"Ya ya, mamam mamam" Kaf mengangguk-angguk seraya tersenyum lebar. Memamerkan deretan gigi putihnya dan tak lupa sebuah lesung yang sangat manis.
Rain, Ega dan Kaf kembali ke teras rumah dan sudah disambut oleh Ibu.
"Aduuh, Main hujan ya cucu Enin". Ibu mengambil Kaf dari gendongan Rain. Sementara Ega menyandarkan payung basah itu di dekat pintu. Kepala Ega dan badan sebelah kirinya basah.
"Mas, koq bisa sampai basah?" Rain menghampiri suaminya mengelap pipi suaminya dengan kedua tangannya.
"Aku tadi arahkan ke Kamu semua payungnya. Takuy Kamu sama Kaf kebasahan". Ega melingkarkan tangannya di pinggang Rain.
"Ya udah Kamu mandi dulu, yuk". Rain meraih pergelangan tangan suaminya.
"Bu, titip Kaf sebentar ya. Rain ke kamar dulu".
"Iyaa". Ibu yang sedang asyik menyuapi cucunya Jeruk menjawab tanpa menoleh.
Rain mengatur suhu air hangat dalam bak dan menyuruh Ega segera mandi sementara dirinya menyiapkan baju ganti Ega. Rain sendiri melepas hijab serta gamisnya yang juga sedikit basah. Menyisakan singlet dan celana pendek membalut tubuhnya yang berisi.
Ega sudah selesai mandi, dia langsung memakai baju yang disiapkan istrinya. Rain sedang menyisir rambutnya di depan meja rias.
"Jangan ngaca terus, kasihan cerminnya nanti insecure lihat cewek cantik".
Ega dengan rambut basahnya menghampiri Rain.
"Sini duduk" Rain menyuruh Ega duduk di kursi meja rias, Ega pun menurut. Ega duduk menghadap Rain tangannya langsung mwlingkar di pinggang istrinya. Rain biarkan saja, Dia mulai mengeringkan rambut Ega dengan handuk kecil yang tadi Ega pegang.
"Kamu tuh sekarang sibuk terus. Ngurus Kaf, kuliah. Aku banyak kehilangan waktu sama Kamu". Ega menarik tubuh Rain agar lebih mendekat ke wajahnya.
"Suruh siapa nikahin anak orang yang masih usia belajar". Rain mendengus.
"Bukan gitu, Kamu nggak paham"
Rain menghentikan gerakannya mengusap kepala Ega dengan handuk. Menyampirkan handuk itu di bahunya.
"Iya, Aku ngerti. Maaf ya, Nanti Aku coba bagi waktu buat berduaan sama Mas".
__ADS_1
****
Mau TAMAT tapi nanggung. Nanti dilanjut lagi Koq. Like, komen dan votenya yaa. Boleh bantu promosi juga dong.