Suamiku, Kekasihku (Revisi)

Suamiku, Kekasihku (Revisi)
Salahkah?


__ADS_3

Sudah seminggu Rain meninggalkan rumah suaminya. Hatinya semakin membaik dan ikhlas. Rain tidak pernah membalas pesan ataupun menerima panggilan Ega. Ega menerima itu sebagai hukuman atas perbuatannya. Ega setiap hari datang, namun Rain tidak mau menemuinya. Ega hanya diperbolehkan bicara di balik pintu tanpa dijawab oleh Rain.


Desember kembali. Rain duduk di tepi ranjang memegangi Al-qur'an yang selesai dia baca. Sore-sore begini biasanya suaminya akan datang dan bicara di depan pintu kamarnya. Rain hanya akan mendengarkannya tanpa menjawab.


Deru mobil terdengar berhenti di pelataran rumah. Rain sudah senyum-senyum sendiri bersiap untuk mendengar suara suaminya yang akan bicara panjang lebar tanpa Dia jawab. Rain berlari ke dekat pintu. Menempelkan daun telinganya di daun pintu.


tok tok tok


Biasanya Ega tidak mengetuk pintu, tapi berdehem lalu mengucap salam.


"Rain, sayang. Bukan pintunya. Ada supirnya Sela" Ibu berteriak dan cukup membuat telinga Rain sakit.


Rain membuka pintu dengan hati kecewa.


"Sela masuk rumah sakit, Kamu disuruh ke sana. Itu ditunggu di depan sama supirnya". Ibu menjelaskan maksud kedatangan supirnya.


"Tolong telpon Mas atau Bibi, ya. Minta izin Rain buat ke rumah sakit". Rain segera kembali ke kamar mengambil tas slempang dan memakai sneakernya dengan hati bertanya-tanya. Ada apa dengan Sela.


🍂🍂🍂🍂🍂


Menurut cerita supir Sela, Sela dalam keadaan kritis akibat pendarahan hebat. Sela berusaha melakukan aborsi pada usia kehamilan yang baru 10 minggu. Orangtua Sela juga Ibra adiknya terlihat sedang duduk di depan ruang UGD saat Rain datang.

__ADS_1


"Assallamuallaikum"


Rain menghampiri mereka yang sedang berlinang air mata.


"Rain, Sela kritis nak. Tante takut sekali" Mama Sela memeluk Rain yang merasa kebingungan.


"Rehan mana, Tan?" Rain yakin sekali ini ulah Rehan.


"Rehan juga di rawat Sel. Kepalanya di lempar vas bunga oleh Sela karena berusaha mencegah Sela meminum pil penggugur kandungan itu?" Mama Sela mengurai pelukkannya.


"Kenapa jadi gini, tan? Bukannya Sela ke Malaysia buat kuliah?" Rain mulai histeris. Mama Sela membawa Rain duduk dan mulai menceritakan semua kejadiannya.


"Sela memang sudah berangkat ke Malaysia Rain, tapi Om kembali membawa Sela pulang karena Sela mengeluh sakit dan sering pingsan. Saat diperiksa ternyata Sela sedang hamil 7 minggu" Mama Sela mulai terisak, bagaimanapun ini adalah kesalahannya yang jarang ada di rumah dan lebih memilih berkumpul dengan gank sosialitanya.


"Semalam Sela mengkonsumsi pil pengugur kandungan dengan kondisi tubuh yang sudah seminggu tidak mengkonsumi apa-apa selain meminum minuman bersoda". Rain seperti mendapat tamparan keras berkali-kali di wajahnya.


Sela, bagaimana bisa semudah itu melepas kehormatannya? Rain jadi rindu dengan suaminya yang selalu menjaga kehormatannya.


ceklek


Seorang dokter dan dua orang perawat keluar dari UGD.

__ADS_1


"Maaf keluarga pasien Sela Mariska, Tepat pukul 17:21 pasien menghembuskan nafas terakhir. Kami tidak bisa menyelamatkan nyawanya" Ucap dokter itu dan disusul tangisan keluarga Sela dan juga Rain.


"Kami harap keluarga pasien segera menyelesaikan administrasi agar tidak menghambat prosesi mengurus jenazah" Dokter dan dua orang perawat itu pergi.


Rain berusaha menenangkan Mama Sela yang terus meraung-raung sampai akhirnya tak sadarkan diri. Rain segera menghubungi Ibunya dan bertanya apakah Ega ke rumah. Tapi, Ega memang tidak datang. Rain melihat ponselnya tidak ada pesan ataupun panggilan dari Ega hari ini.


Rain menemani keluarga Sela sampai jenazah Sela di bawa ke rumah duka. Rain pamit pulang dan akan kembali besok pagi saat pemakaman.


Hanya satu orang yang saat ini ingin dia tuju yaitu suaminya. Rain memesan taksi online menuju rumahnya, rumah suaminya tepatnya. Senyumnya terus mengembang sepanjang perjalanan. Dia sudah membayangkan bagaimana nanti terkejutnya Ega melihat kedatangannya. Bagaimana dirinya dan Ega akan memecahkan rindu bersama-sama.


Rain terus tersenyum membuka gerbang tinggi itu dan langsung masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu karena pintu utama memang sudah terbuka. Bibi merasa kaget


"Bibiiii" Rain berhamburan ke pelukkan Bibi yang menerima pelukkan Rain dengan gugup.


"Aku langsung masuk ke kamar Mas, ya" Rain segera berlari menaiki tangga. Baru saja akan memanggil suaminya Rain sayup-sayup mendengar suara perempuan dari kamar Ega


"Ini nggak akan sakit kalo loe nggak goyang-goyang"


"Jangan di situ woy, Gue ngilu" kali ini suara Ega. Rain memelankan langkahnya dan perlahan memasuki kamar Ega yang pintunya tidak ditutup.


"Mas!" Teriak Rain. Tidak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya itu. Ega duduk di tengah ranjang dengan bertelanjang dada dan seorang perempuan duduk menghadapnya dengan posisi tangannya memegangi perut Ega.

__ADS_1


Rain cukup mengerti dengan apa yang dilihatnya. Dia kembali keluar dengan air mata yang berderai terus melewati Bibi yang memanggilnya. Rain dengan cepat memesan taksi online dan berlari secepat mungkin membuka gerbang tinggi itu.


__ADS_2