Suamiku, Kekasihku (Revisi)

Suamiku, Kekasihku (Revisi)
Sakit, Lagi.


__ADS_3

Sudah pukul 18:15 Rain masih saja terlelap. Ega yang baru selesai shalat turun memeriksa kamar tamu. Masih dikunci. Ega segera mengetuk-ngetuk pintu.


Rain mengerjap-ngerjap matanya samar-samar terdengar suara Ega memanggilnya. Rain terperanjat segera lari membuka pintu kamar.


"Yang, udah sholat magrib?"


Rain menggeleng memijat pelipisnya. Kepalanya terasa pusing.


"Sholat dulu gih, trus mandi. Jam 7 Kita harus berangkat kan!" Ega mengelus sayang kepala Rain yang masih dibalut mukena.


Setelah mandi dan berdandan Rain keluar kamar. Rain mengenakan gaun lengan panjang berwarna maroon yang kontras dengan warna kulitnya yang putih. Rain memoles wajahnya dengan make up natural.


Rambutnya dibiarkan tergerai dengan dihias pita di bagian sisi kirinya. Dan, untuk pertama kalinya Rain memakai heels. Sederhana, namun anggun.


Ega lagi-lagi dibuat terpukau oleh penampilan Rain. Rain masih memijat-mijat pelipisnya saat duduk di samping Ega.


"Aku pusing, Mas. Aku pengen teh manis anget deh Mas." Kata Rain meringis.


Ega segera meminta tolong Bibi yang membuatkan teh, yak lama Bibi kembali.


"Neng Rain kenapa?"


Alih-alih menjawab Rain merasa perutnya diaduk dan dia merasakan mual yang hebat. Rain berlari ke dapur dan memuntahkan cairan dari mulutnya. Ega segera mengusap-usap pundak Rain.


"Neng, Neng Rain hamil?" Tanya Bibi. Rain dan Ega kompak berteriak


"Bibiii"

__ADS_1


"Bi, mana ada Rain hamil. Ciuman aja nggak pernah apalagi dibikin hamil." Ucap Ega segera mengelap dahi Rain yang berkeringat.


Bibi menyesal dengan ucapannya. Bibi sadar Ega dan Rain tidak pernah melakukan macam-macam.


"Maaf, ya udah neng ayo duduk. Minum teh manisnya!" Bibi membawa Rain ke meja makan.


"Aku lupa Mas. Aku pagi belum sarapan. Tadi siang juga belum makan. Kayaknya Aku masuk angin." Rain meneguk habis teh manisnya.


"Tadi di sekolah kenapa nggak ikut makan? gitu tuh sedikit aja nggak dikontrol nggak bisa jaga diri!"


Ega tadi siang memang diajak makan di meja kepala sekolah dan membiarkan Rain dengan Sela yang saat itu sedang mengobrol.


"Aku mana bisa makan, Mas. Menunya pedas semua." Jawab Rain masih meringis.


"Bi, Ega minta tolong dibeliin bubur yang di depan komplek ya!" Kata Ega sambil memejat kepala Rain.


"Maaf ya, Aku takut deh Kita telat ke acara." Rain terus memijat pelipisnya.


"Nggak apa-apa. Kalau Kamu masih merasa nggak enak badan. Kita nggak usah dateng!" mengusap-usap pipi Rain.


Bibi kembali dengan membawa bubur. Ega menyuapi Rain dan Bibi membuatkan jahe hangat untuknya. Tepat pukul 20:00 Rain baru merasakan tubuhnya membaik. Sedari tadi Sela sudah menelponnya. Pak Rakha pun sama berkali-kali menelpon Ega.


Ega dan Rain bergegas menuju tempat acara.


"Lo berdua ke mana aja sih? acara udah mulai sejam yang lalu." Sela terlihat kesal melihat kedatangan Ega dan Rain yang terlambat.


Pak Rakha yang melihat putranya baru datang, langsung menghampiri.

__ADS_1


"Ega. Anakku. Kalian ini tidak bisa ditahan sedikit saja bermainnya. Padahal kalian bisa melakukannya setelah pesta usai."


Rain dan Ega saling pandang dengan tatapan tajam. Sela mengerenyitkan dahinya, tidak mengerti.


"Tadi Rain ketiduran, Pa." Jawab Ega pelan. Pak Rakha hanya terkekeh.


"Selamat ya, Rain. Kamu mengharumkan nama baik sekolah. Kamu memang calon mantu idaman." Pak Rakha mengelus kepala Rain. Lalu terdengar MC memanggil nama Rain dan Ega.


"Ok, Mas Ragga dan Rain bisa tolong maju ke depan!"


Ega dan Rain maju dan diikuti oleh Sela dan Pak Rakha.


"Ok, lihatlah raja dan ratu malam ini nampak begitu serasi bukan?" MC memakaikan mahkota kepada Rain dan Ega yang malam itu dinobatkan sebagai raja dan ratu.


Rain dan Ega kembali duduk berasama juga dengan Sela. Acara terus berlanjut dengan menampilkan penyanyi-penyanyi terkenal. Namun, bagi Rain suasana seperti ini sangat tidak nyaman.


"Lo kenapa Rain?" Sela merasa aneh saat Rain terlihat memegangi perut dan wajahnya meringis menahan sakit.


"Yang, apa sebaiknya pulang aja?" Ega mengusap-usap punggung Rain. Rain tak menjawab demi merasakan perutnya melilit dan kerongkongan terasa pahit.


"Rain, Lo kalo sakit pulang aja." Sela ikut panik. Pak Rakha melihat kejadian itu dari kejauhan. Rain menutup mulutnya yang ingin muntah. Rasa mual kembali menjalar dari perut hingga tenggorokan.


"Ayo, Aku nggak kuat kepala ku berat." Rain beranjak dari duduknya.


"Sel, tolong bawa Rain ke mobil. Gue izin bokap dulu."


Sela menuntun langkah Rain yang lemah.

__ADS_1


Setelah mendapat izin Pak Rakha Ega segera berlari menyusul Rain dan Sela. Di dalam perjalanan beberapa kali Rain menahan mualnya. Wajahnya terlihat pucat dengan keringat bercucuran di dahinya, Rain terus meringis memegangi perutnya.


__ADS_2