Suamiku, Kekasihku (Revisi)

Suamiku, Kekasihku (Revisi)
Sejuta Pesona Rain


__ADS_3

Selesai makan, Ibu meminta tolong pelayan restoran untuk membersihkan meja


"Biar Aku aja Bu yang beresin." kata Rain.


"Mana boleh tuan putri Ibu yang beresin, biar pegawai Ibu aja." Jawab Ibu.


Tak lama datanglah dua pelayan laki-laki untuk membereskan meja.


"Eeh mbak Rain! lama ya nggak ketemu?" Sapa seorang pelayan bernama Reno. Usianya sekitar 21 tahun.


"Iya mas, apa kabar?" Rain balas menyapa ramah.


"sehat dong, mbak. Kalau sakit mana bisa sekarang di sini menyaksikan bidadari tanpa sayap." Reno tertawa kecil. Ega mulai tak suka dengan ucapan Reno.


"Mbak Rain lama nggak kelihatan makin cantik aja. Bu bos harusnya diajak tiap hari ke sini mbak Rain nya biar kita tambah semangat kerjanya." Kata pelayan satu lagi yang bernama Gio.


"Rain sibuk sekolah mas, udah kelas tiga. Harus banyak belajar." Jawab Rain masih dengan senyuman.


"Sudah dong, Reno dan Gio kalian malah menggoda putri saya. Saya mana izinkan Rain ke restoran tiap hari. Bisa-bisa kalian terus menggodanya." Ucapan Ibu Rain membuat Reno dan Gio tak berkutik dan dengan cepat membereskan meja.


Sementara itu, Ega terlihat sedang menahan emosi karena cemburu. Setelah kedua pegawai pergi kini Sela yang berseru "Waah Rain, pegawai di sini koq cakep-cakep semua sih. Harusnya Lo datang tiap hari." Sela cekikikan.

__ADS_1


Rain merasa tidak enak dengan ucapan Sela. Rain sudah merasakan bahwa Ega sedang merasa cemburu.


Belum reda amarah Ega, tiba-tiba datanglah seseorang membawa buket bunga menghampiri meja mereka. Seorang lelaki sekitar 22 tahun bernama Rehan.


Rehan adalah mantan pegawai restoran. Rehan pernah bekerja selama satu tahun dan berhenti sekitar 3 bulan yang lalu karena sedang fokus menyusun skripsi


"Haii Ibu bos!" Sapanya pada Ibu


"Rehan, apa kabar?" Ibu balas menyapa ramah.


"Baik dong, Bu" Jawab Rehan dan langsung saja duduk di samping Ibu.


"Eeh anak cantik. Kamu udah gede makin cantik aja sih Rain. Selamat ulang tahun ya cantik." Rehan menyerahkan buket bunga pada Rain. Rain ragu-ragu menerimanya demi melihat kekasihnya menahan cemburu.


"Aku nggak pernah lupa apapun tentang kamu, Rain." Jawaban Rehan benar-benar membuat Ega geram.


"Kak, kenalin dulu itu Sela dan di sebelahnya Bibi." Rain mengenalkan Sela dan Bibi bergantian.


"Dan yang di sebelahku namanya Ragga" Rain menatap Raga sambil tersenyum


"Sayang, ini kak Rehan. Mantan pegawai di sini." Rain berbicara lembut pada kekasihnya. Ega mengulurkan tangannya, Rehan menerimanya dengan sedikit kecewa. Berkali-kali Rehan menyatakan cintanya namun ternyata Rain memilih laki-laki lain.

__ADS_1


"Ragga Hadiwijaya, calon suami Rain." Ega dengan sorot tak suka menatap Rehan penuh arti. Semua yang ada di situ melongo kaget, kecuali Bibi. Ibu tak menyangka Ega akan mengucapkan kalimat itu.


"Wow. serius nih, Bu? Rain kan masih sekolah." Rehan seakan meledek Ega.


"Serius lah kak. Kalau enggak ngapain sampe Aku kenalin ke Ibu." Rain rupanya sedang berusaha meredam amarah kekasihnya.


Ibu yang paham akan kondisi Ega segera ikut bicara, "iyaa Rehan, lagipula mereka sudah sama-sama dewasa. Daripada pacaran lama-lama Ibu lebih senang mereka nikah aja."


Rain lega, Ibu membantunya mencairkan suasana. Raut wajah Ega sedikit santai. Amarahnya sepertinya mulai reda.


"Iya Bu pacaran anak jaman sekarang tuh kebanyakan suka kebablasan. Ngapa-ngapain sebelum waktunya." Ucapan lebih mirip sindiran itu membuat Ega kembali panas.


"Makanya aku pengen cepet-cepet nikah kak biar ngapa-ngapainnya enak. Iya kan sayang?" Rain menimpali kalimat Rehan seraya menyender manja pada bahu Ega.


Ibu dan yang lain hanya menahan tawa melihat interaksi Rain dan Rehan. Jelas saja, Rain sedang berusaha mati-matian meredam amarah kekasihnya. Rehan dibuat skak mat. Rehan sudah tidak bisa berkata-kata lagi. Akhirnya Rehan pamit dan segera meninggalkan restoran.


Rain menghela nafas panjang.


"siapa yang ngajarin sih Rain bicara seperti tadi?" Ibu senyum-senyum menatap Rain.


"Ibu Aku kan lagi menahan amarah seseorang biar nggak meledak. Ibu mau restorannya jadi berantakan?" kata Rain sambil melirik Ega.

__ADS_1


Ega dan yang lainnya tertawa. Tidak habis pikir Rain dengan segala kepolosannya bisa-bisanya berkata seperti tadi. Dalam tawanya Ega menatap dalam Rain. Sungguh Rain semakin membuat Ega jatuh cinta. Bagaimana tadi Rain dengan santainya terus membalas perkataan Rehan. Sungguh, Ega tidak salah melabuhkan hatinya pada Rain. Gadis sederhana dengan sejuta pesona.


Lanjut baca next episode ya. Maaf banyak typo dan kurang rapi dalam penulisan. Happy reading. 😀


__ADS_2