Suamiku, Kekasihku (Revisi)

Suamiku, Kekasihku (Revisi)
Ditabrak Semut


__ADS_3

Rumah Rain mulai didekor, termasuk kamarnya. Rain terus mondar mandir di kamarnya. Hatinya sangat gelisah. Ponsel Rain bergetar, pesan balasan dari Ega


Ragga


Aku udah sarapan koq.


Rain


Aku kangen, Mas. Aku mau ke situ.


Ragga


Tumben bilang kangen duluan. Izin dulu sama Ibu


Rain tak membalas pesan Ega. Dengan segera menyisir rambut dan menyambar cardigan yang ada di balik pintu.


"Ibu, Rain ke rumah Mas ya bentar aja." Rengek Rain pada Ibu yang sedang menata bunga.


"Besok juga ketemu bahkan setiap hari. Serumah bareng." Jawab Ibu tanpa menoleh.


"Izinin ya, please. Aku pengen ketemu Mas." Rain terus merengek.


"Pamali, Rain. Kamu itu calon pengantin." Jawab Ibu kali ini menatap lekat putrinya Ibu.


"Ibu, selama ini bukannya Rain nggak perna minta apa-apa?" Rain mulai berkaca-kaca.


Ibu tidak tega.


"Baiklah, Kamu hati-hati dan jangan lama-lama!" Seru Ibu. Rain mengangguk dan langsung pergi bahkan lupa salam pada Ibu.


Sampai di rumah Ega, Rain langsung masuk karena pintu tidak ditutup.


"Bi, Mas di kamar?" Bibi sedang asyik nonton tv.


"Eeh ini panganten, pamali atuh!" Teriak Bibi seraya mendekat ke arah Rain.


"Apa sih pamali pamali, Aku pengen ketemu Mas!" Seru Rain dengan nada kesal.

__ADS_1


"Dasar budak leutik (anak kecil). Sana langsung panggil di kamar." Bibi mendengus kesal, pasalnya baru kali ini Rain bicara dengan nada tinggi.


Rain sadar dengan tingkahnya barusan. Dia berniat nanti saja minta maaf pada Bibi.


Rain berlari kecil menuju kamar Ega. Ega sedang duduk di atas tempat tidur sambil memangku laptot. Sepertinya mengerjakan sesuatu.


"Mas, Aku kangen!" Rain langsung saja memeluk Ega membuat laptot Ega terguling, untung ke kasur.


Ega yang kaget dan belum siap menerima perlakuan Rain hanya bengong tanpa membalas pelukan Rain. Sadar pelukannya tidak dibalas, Rain melepaskan pelukannya itu dan memasang wajah kesal.


"Lho koq cemberut" Ega segera menutup laptopnya.


"Mas nya nggak seneng ya Aku dateng?!" Rain mulai berkaca-kaca.


"Hei, Aku cuma kaget Yang. Kamu tiba-tiba dateng." Ega menarik kepala Rain ke pelukannya. Rain malah menangis.


"Lho, koq jadi nangis?"


"Mas, Aku tuh ngerasa Kamu tuh bakal ninggalin Aku. Aku tuh ngerasanya ini hari terakhir Kita ketemu." Rain bicara dengan berderai air mata.


"Enggak Mas, Aku takut. Semalaman Aku nggak bisa tidur." Rain mulai menghentikan tangisnya.


"Mungkin ini wajar aja bagi setiap orang yang mau nikah, itu perasaan kamu aja!"


Rain menarik tubuhnya dari pelukkan Ega. Dia meraih pipi Ega dengan kedua tangannya.


"Mas, jangan tinggalin Aku ya!"


"Aku nggak akan ninggalin kamu," ucap Ega.


"Mas, Kita harus sama-sama terus apapun yang terjadi!?"


"Iya"


Rain menarik tangannya, dan berkata lagi.


"Mas, bisa kan buang dendam itu. Aku nggak mau itu terbawa sampai ke dalam rumah tangga kita." Rain terus menatap dalam Ega. Ega menggeleng membuang pandangannya.

__ADS_1


"Mas, Kita akan bahagia. Jadi, mas lupakan masa lalu itu." Rain menggenggam tangan Ega.


Sungguh, Rain tak ingin Ega hidup dengan dikuasai dendam. Rain takut jika kelak Ega akan seperti Pak Rakha.


"Mas, lihat mataku. Tatap aku!"


Ega tidak mengindahkan kata-kata Rain. Sebab, menatap mata Rain berarti Ega akan luluh. Sedangkan dirinya masih dikuasai dendam.


"Yang, kalau kamu ke sini cuma bahas itu. Kamu mending pulang!" Jawab Ega tegas.


Rain menutup mulutnya menggeleng tak percaya.


"Mas, Kamu ngusir Aku?" Rain memukul bahu Ega pelan.


"Yang, tolong. Kali ini aja jangan maksa. Aku selalu nurutin Kamu. Please, Yang" Kali ini Ega memberanikan diri menatap Rain.


Rain mengangguk. Baiklah, mungkin nanti setelah menikah Rain bisa kembali membujuknya. Itu pikiran Rain.


Mereka kembali berpelukan, beberapa menit. Lalu Ega melepaskan pelukkannya.


"Aku masih pengen peluk, Mas!" Seru Rain cemberut.


"Sejak kapan jadi nakal gini? Udah ah, nggak enak sama Bibi." Ega mengacak rambut Rain. Rain masih cemberut.


"Senyum dong, ketawa" Ega menyentil hidung Rain pelan.


"Eh denger, Aku mau cerita" Kata Ega, Rain mulai serius mendengarkan.


"Aku waktu kecil pernah ketabrak. Tapi nggak sakit, nggak berdarah dan Aku nggak nangis." Ega dengan wajah serius bercerita dan Rain antusias mendengarkan.


"Koq, bisa? Mas punya kekuatan kaya Aang gitu?"


Ega menggeleng dan tersenyum


"Bisa dong, kan ketabraknya sama semut bukan sama truk" Lalu terkekeh dan Rain ikut tertawa sambil memukul-mukul Ega dengan guling. Ega terus tertawa.


Mas, Aku nggak sanggup kehilangan kamu. Aku selalu mencintaimu, bahkan sejak awal pertemuan kita.

__ADS_1


__ADS_2