Suamiku, Kekasihku (Revisi)

Suamiku, Kekasihku (Revisi)
Uang Saku


__ADS_3

Rain masih susah mengartikan tatapan Ega.


"Apa kita nggak usah cari tahu kebenarannya Rain?" Ega membuang pandangannya karena tak kuasa melihat tatapan istrinya yang berubah sendu itu.


"Aku pengen tahu, Mas. Aku pengen pastiin Ibuku bukan wanita seperti itu" Rain mulai merebahkan tubuhnya sebab kepalanya terasa sakit. Rain menarik selimut hingga ke dagunya.


"Besok pagi Pak Riko pulang Rain, Dia langsung ke sini" Ega ikut merebahkan dirinya, nyaman.


"secepat itu Mas?" Rain mengambil guling dan meletakkan di tengah-tengah memberi batas antara tubuhnya dan tubuh suaminya. Ega yang menyadari perbuatan istrinya itu sengaja ingin menggoda. Ega membalikkan badannya menghadap Rain yang posisinya terlentang dan terbungkus selimut. Setakut itukah pada suami sendiri?


"Pak Riko pulih dengan cepat setelah Aku bilang akan membuatkan nya mall di sini" Ega sengaja memeluk guling itu. Rain mulai curiga dengan gelagat suaminya.


"Aku aja yang istrinya nggak pernah dikasih uang saku. Pak Riko mau dibikinin mall. Huhh" Rain mengerucutkan bibirnya. Ega merasa ditampar oleh perkataan Rain. Bagaimana selama ini dirinya memang belum pernah memberikan Rain uang bulanan ataupun sekedar uang saku. Kenapa Ega sampai setega itu.


"Besok Aku kasih deh uang saku, sepuluh ribu cukup?" Ega menggoda Rain dengan menyentil hidungnya.


"Sepuluh ribu Aku juga punya". Rain membalikkan badannya memunggungi suaminya.


"Dosa lho suami dikasih punggung" Ega dengan sengaja menusuk-nusuk punggung Rain yang selimutnya tersingkap itu.

__ADS_1


"Aku nggak denger" Kata Rain pelan.


Baiklah, Ega melempar guling itu ke lantai lalu menyingkap selimut Rain dan menarik tubuh Rain untuk menghadap padanya dan membawanya ke dalam pelukkannya.


"Cuma peluk, nggak lebih. Ayo tidur. Aku ngantuk" Ega memejamkan matanya. Rain berusaha berontak namun pelukkan Ega lebih kuat dari tenaganya. Ega diam saja walaupun merasa sakit dipukul oleh Rain.


"Cepet banget tidurnya" Rain bergumam.


"Gini ya rasanya tidur dipeluk suami. Hangat, damai. Tapi Aku takut ini hanya sesaat. Aku takut Mas akan bersikap kasar lagi. Hatiku hancur saat Mas menyuruhku pindah kamar. Sakit rasanya dibilang wajahku menjijikan. Ini yang selalu Aku inginkan di setiap malam" Rain memejamkan mata dan benar-benar terlelap setelah malam semakin sunyi.


Perlahan Ega membuka mata, Ega tidak tidur. Dia mendengar semua ucapan Rain. Hatinya terasa sakit mendengar perkataan istrinya.


Detik berikutnya Ega sudah terpejam menyusul Rain ke alam mimpo.


🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Rain sudah bangun sejak pukul 03:30 tadi namun suaminya masih terlelap hingga adzan berkumandang. Rain tidak berniat membangunkannya sebab Dia tahu Ega sudah meninggalkan sholat semenjak hari pertama pernikahan mereka.


Setelah shalat shubuh, Rain bergegas menuju ke ruang belakang mengambil gamis serta hijab di ruang setrika sebelum Ibu keluar dari kamar. Cekatan Rain menyetrika gamis abu dan hijab instan warna senada. Segera memakainya dalam keadaan sedikit panas akibat baru disetrika.

__ADS_1


'Ternyata enak ya pake baju anget'. Rain tertawa sambil melangkah ke dapur membuat sarapan. Ibu keluar dari kamar tepat saat Rain sedang mengambil beberapa telur dari dalam kulkas.


"Masak apa, Rain?" Ibu berdiri di samping Rain.


"Omelet aja, Bu. Rain kehabisan akal nih bikin menu sarapan" Rain mulai memecahkan telur itu kedalam mangkuk dan menambahkannya dengan kornet.


"Nanti Ibu bikinkan daftar masakan ya, biar Kamu nggak bingung" Ibu mengusap kepala anak tersayangnynya itu. Rain mengangguk.


"Ega selalu baik kan sama Kamu? Kalian terlihag mesra semalam" Ibu membantu membuang kulit telur ke dalam tempat sampah.


"Dia selalu manis, Ibu tahu sendiri kan?" Rain berbohong.


"Tapi koq dia panggil kamu nama sih, bukannya selalu manggil SAYANG" Ibu menekan kata sayang dan tertawa.


"Aku geli bu dengernya. Malu juga sih, makanya kusuruh panggil nama aja" Rain semakin pintar berbohong. Begitulah kebohongan, jika satu sudah dibuat maka siap-siaplah membuat kebohongan selanjutnya. Bagaimana pula Ibunya bisa sampai sedetail itu?


Rain dengan cepat melakukan kegiatannya membuat sarapan. Tak lupa Dia pun merebus brokoli serta wortel dan memanggang sepotong ikan salmon untuk sarapan Bibi.


Selesai dengan masakannya, Semuanya berkumpul di meja makan begitupun Ega yang baru turun dengan rambut basahnya. Dia tidak mau Rain protes lagi. Dia sedang berusaha tidak membuat Rain pusing dengan hal-hal kecil. Rain tersenyum, sungguh makhluk Tuhan yang satu ini kenapa sangat sempurna di mata Rain?

__ADS_1


__ADS_2