
Rain dan Sela sampai di restoran bersamaan Ega yang turun dari mobilnya. Senyum Ega mengembang saat melihat Rain. Namun, saat mendekat Ega kaget melihat kondisi Rain dengan rambut berantakan dan isak tangisan.
"Kenapa?" Tanya Ega menatap Rain dan Sela bergantin.
"Sebaiknya kita ke dalem aja." Jawab Sela memapah langkah Rain.
Ega mengikutinya. Mereka masuk ke ruangan Ibu. Sela berinisiatif mengambilkan Rain minum. Rain duduk di sofa panjang diikuti Ega.
"Yang, ada apa?"
Bukan menjawab, Rain malah berhambur ke pelukan Ega menumpahkan segala tangisannya.
"Keluarin, sekeras-kerasnya sampai nggak ada lagi air mata itu!" Ega terus membelai rambut Rain lembut.
Rain menangis menumpahkan segala sesak dan takutnya. Tangisan yang awalnya kencang itu melemah setelah 15 menit berlalu. Rain segera menguasai dirinya, Dia merenggangkan pelukannya dan menarik tubuhnya. Rain dengan masih sesenggukan menceritakan kejadian bersama Rehan tanpa terlewat. Ega mengeraskan rahangnya, mengepalkan tangannya. Tatapannya penuh amarah.
Ibu dan Sela hendak masuk namun, Mereka menghentikan langkahnya memutuskan menonton saja.
__ADS_1
"Ega, ayo cium Aku. Cium Ga, agar Kamu jadi yang pertama. Aku nggak mau dicium orang lain selain kamu. Ayo cium, kenapa diem aja. Bukankah kamu selalu bilang pengen cium Aku. Sekarang lakukanlah, ayo Ga. Ayo!" Rain bicara sambil menangis dan memukul-mukul dada Ega.
"Tenanglah Rain, tenang. Aku nggak akan ngelakuin itu dalam kondisi kamu kaya gini. Aku nggak mau rusak kepercayaan Ibu. udah, jangan nangis lagi." Jawab Ega mengusap air mata di pipi Rain.
"Maaf, karena nggak bisa jaga diri. Maaf karena tadi ngobrol sama cowok. Aku sekarang ngerti kenapa Kamu khawatir kalau Aku ke sini. Kamu khawatir kalau Aku memakai pakaian minim. Maaf Gaa...." Tangis Rain pecah lagi, Ega mengambil kepala Rain ke pelukannya.
"Udah ya nangisnya, capek!" Bisik Ega sambil mengusap rambut Rain dan mencium pucuk kepala Rain.
Ekhem! Deheman Ibu membuat Rain menarik diri dari pelukan Ega.
"Minum dulu, Rain!" Sela menyerahkan sebotol air mineral dan diraih Ega.
"Ibuuu..." Rain menatap Ibunya seperti meminta pertolongn. Ibu duduk di sampingnya. Dielusnya kepala anak gadisnya itu.
"Silahkan kalian menikah, Ibu setuju!"Seru Ibu mengusap sayang kepala Rain.
Ega dan Rain saling pandang melongo lalu beralih memandang Ibu.
__ADS_1
"Kenapa kalian ini? nggak mau?" Tanya Ibu. Mereka berdua masih mencerna kata-kata Ibu.
"Ibu nggak lagi becanda kan?" Tanya Rain.
"Apa muka Ibu keliatan becanda?" Ibu bertanya balik. Rain menggeleng.
"Ok, Tan. Selesai kelulusan Ega bawa Papa ke rumah buat lamar Rain!" Seru Ega dengan penuh keyakinan. Ibu menggedigan bahunya sebagai kata iya, mungkin.
Ibu benar-benar tidak bisa lagi mencegah perasaan kedua insan ini. Ibu bisa lihat ketulusan dan keseriusan Ega. Selama pacaran ini pun Rain menggunakan kepercayaan Ibu dengan baik. Sampai akhirnya dengan kejadian hari ini Ibu sadar bahwa Ibu dengan kesibukannya tidak bisa sepenuhnya mencurahkan perhatian dan kasih sayabg untuk Rain.
Menikahkan Rain di usia muda memang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Namun, Jika menikah adalah jalan terbaik Ibu dengan rela melepas anak gadis satu-satunya itu.
"Menjalani rumah tangga bukan soal mudah, apalagi dengan usia kalian yang masih muda. Ibu harap jalani sebaik-baiknya. Menikahlah sekali untuk selamanya!" Seru Ibu seraya meninggalkan keduanya. Rain dan Ega saling pandang dan tersenyum. Rain beranjak mengejar Ibu, saat ini hanya ingin memeluk Ibu. Rain memeluk Ibunya dari belakang seraya berkata
"Makasih, Bu. Rain akan selalu menjadi istri yang baik"
"Ega juga, Tan. Ega janji selamanya menjaga Rain dan hanya Rain" Tambah Ega yang sudah berada di belakang Rain.
__ADS_1
Ibu tak menjawab, hanya mengangguk karena air matanya mulai menggenang. Tanpa menoleh, Ibu berlalu meninggalkan keduanya. Ah Ibu pasti ingin menangis sendiri.