
Seorang anak lelaki berusia 5 tahun berlari-lari kecil mengitari teras yang tak terlalu besar itu sambil membawa sebuah pesawat terbang mainan di tangannya.
"Wiu wiu wiu siap-siap para penumpang, pesawat anda akan segera mendarat".
Ya, Dialah Sakaf. Wajah tampannya sudah menjadi pesona sejak dini. Pipinya sudah tidak sechubby saat usianya satu tahun.
"Kaf, ayo sayang mamam dulu. Habis itu mandi". Rain berdiri di bibir pintu memanggil lembut putra kesayangannya.
"Mamam di restoran Baba boleh nggak, Bun?" Sakaf dengan peluh bercucuran menghampiri Bundanya.
"Boleh, berarti Kaf harus mandi dulu. Langsung pakai koko biar langsung berangkat mengaji. Ok ngga?" Rain membungkukan badannya agar sejajar dengan putranya yang sudah dikhitan saat usia 4 tahun.
"Ok, Bunda cantik" Dan, cup! Kaf mencium kedua pipi Rain bergantian lalu berlari menuju kamarnya yang sekarang terpisah dari kamar orangtuanya.
Rain sedikit kewalahan saat Kaf terus mengajaknya berlari saat menuju restoran yang tidak jauh dari rumah.
"Aduuh Bunda capek nak kalau berlari". Rain mengatur nafasnya, lututnya terasa lemas tak bisa mengimbangi gerakan Kaf.
"Ayo, Bunda. Nanti Baba keburu ke mushola". Kaf terus menarik pergelangan tangan Bundanya.
"Tadi kan Bunda udah telpon minta Baba nungguin Kaf". Rain sampai harus sedikit mengangkat gamisnya agar leluasa berlari.
"Bunda jangan banyak bicara, itu Kita sudah sampai". Kaf melepaskan tangan Bundanya dan mencari keberadaan Baba nya ke dalam restoran besar yang terbuat dari kaca dan kayu jati terbaik dan memiliki 3 lantai itu.
Ega terlihat sedang memberi makan ikan yanga ada di kolam tepat di depan restoran.
"Assallamuallaikum"
Kaf langsung saja meloncat ke pangkuan Ega yang dengan sigap menangkap tubuh putranya itu.
"Waalaikumsallaam".
__ADS_1
Ega hampir tak kuasa menahan tubuh anaknya yang lebih tinggi dari anak seusianya.
"Mana Bunda?" Ega memperhatikan sekitaran tak nampak Rain.
"Tuh, Bunda payah. Lututnya lemas katanya Kaf ajak laru-lari". Kaf menunjuk pada Rain yang duduk selonjoran di parkiran.
"Kaf turun dan minta mamam sama Nenek Alis di dapur, ya. Baba jemput Bunda dulu". Ega menurunkan Kaf setelah anak itu mengangguk. Dengan langkah besar Ega menuju Rain yang memijit-mijit lututnya.
"Assallamuallaikum"
Ega berjongkok di hadapan istrinya yang keningnya dibanjiri peluh itu.
"Waalaikumsallaam"
Rain mengibas-ngibaskan ujung hijab ke wajahnya.
"Aku dikerjain sama Kaf, Mas. Disuruh lari. Udah tahu jalanan ke sini menanjak. Gemetaran nih lutut". Ran mengadukan ulah putranya.
"Boleh, deh. Aku nggak kuat, mau nangis rasanya".
Ega mengankat tubuh istrinya yang kembali mungil itu tanpa kesusahan sedikitpun.
"Ringan sekali badan Kamu, sebentar lagi bisa-bisa Kaf lebih besar nih". Ucap Ega tanpa merasa malu dilihatvoleh beberapa pasang mata pengunjung.
"Disyukuri aja, Mas. Orang lain bahkan harus diet mati-matian biar punya badan langsing". Rain kesal sekali jika selalu dikatakan badannya ringan dan kurus. Padahal Dia sudah berusaha makan teratur dengan gizi seimbang.
🍂🍂🍂
Sore hari Rain dan Ega seperti biasa menikmati senja dengan duduk di kursi yang sekarang diberi nama singgasana Bunda oleh Kaf.
"Mas, Nggak kerasa ya Bibi udah mau setahun meninggal. Aku padahal udah berusaha mengatur pola makan Bibi". Rain menyandarkan kepalanya di bahu suaminya, kedua tangan mereka saling menggenggam. Mumpung tidak dilihat Kaf. Semakin besar, Kaf semakin protective pada Rain. Dia sangat tidak ingin melihat Rain dekat-dekat dengan Babanya sebab bukan muhrim katanya. Tadi saja saat melihat Bundanya digendong Babanya Kaf yang sedang makan langsung menghentikan aktifitasnya dan menceramahi panjang lebar Babanya itu.
__ADS_1
"Nanti coba Kaf tanya sama Pak ustadz, Baba sama Bunda boleh nggak pegangan tangan? boleh nggak berpelukan? Nanti Kaf tanya langsung aja, ya" Rain saat itu berusaha menenangkan Kaf yang terus protes. Dan, Kaf mengangguk lalu kembali memakan makanannya.
"Kamu sudah melakukan yanh terbaik, Yang. Itu sudah ketentuan dari Allah, Kita cukup mendo'akan saja". Ega mengelus punggung tangan istrinya itu. Rain tidak menjawab, memejamkan matanya menghirup udara sebanyak-banyaknya. Angin sore berhembus pelan menyapu pipinya dengan lembut. Hawa dingin mulai terasa, ah rasanya ingin tidur saja. Bersandar pada pundak yang selalu menjadi favoritnya itu benar-benar memabukkan.
Dari arah depan terdengar suara Kaf menangis memanggil Bundanya. Rain dan Ega segera berdiri lalu beranjak menuju rumah dan dilihatnya Kaf sedang menangis sambil ditenangkan Ibu.
"Ya Allah, Kaf. Kenapa bajunya kotor semua, Nak? Anak Bunda kenapa menangis?" Rain segera membawa putranya kedalam pelukkannya.
"Tadi Ibu turun dari restoran lalu lihat Kaf lari-lari sambil menangis". Ibu terus mengusap punggung cucunya yang terus merengek itu.
"Kaf mandi sama Baba ya. Ayo, naik punggung Baba" Ega berjongkok lalu menepuk-nepuk punggungnya. Kaf masih menangis, namun langsung saja loncat ke punggung Babanya.
"Tadi Kaf didoronh oleh Baim dan teman-temannya karena Kaf belain Frea". Malam itu Baba dan Bunda nya Kaf sengaja tidur di kamar Kaf agar anaknya itu mau cerita perihal apa yang membuatnya menangis.
"Frea itu siapa?". Ega mengerungkan keningnya.
"Frea itu salah satu teman mengaji juga teman sekolah Kaf. Dia salah satu muridku juga, Mas" Rain ikut menjelaskan. Rain sudah setahun ini mendirikan sebuah Taman Kanak-kanak dibantu beberapa anak dari para pemetik teh yang mengajar sambil kuliah.
"Frea nya kenapa emang?" Tanya Ega mengelus kepala putranya.
"Frea nya diledek lagi, Bun. Dibilang nggak punya Papa dan dibilangin Mama nya nggak sayang Frea". Jawab Kaf mengepalkan tangannya, masih geram dengan kelakuan Baim.
"Ya sudah biarkan saja ya, lain kali ditinggalkan saja kalau ada yang bicaranya buruk. Ok nggak?" Rain mengacungkan dua jempolnya ke wajah Kaf. Kaf mengangguk tersenyum manis menampakkan barisan giginya yang putih dan lesung yang menawan.
*******
Assallamuallaikum, Sobat. Masih lanjut dong bacanya. Like dan Komennya jangan lupa yaa. Aku kasih extra partnya tiap hari nih. Aku rada maksa dikit nih biar pada baca. Meskipun haduuuh karyaku tuuh receh banget sih ibarat uang sih ini mah pecahan 100 perak mungkin ya. Kalau diibaratkan makanan juga ini mah remahan-remahan biskuit dalem kaleng yang sisa lebaran taun lalu nih.
Aku teh da bukan penulis handal cuma hobby aja ngekhayal sama kebetulan aja pengangguran jadi dengan sungguh tidak tahu malunya sok sok an gitu nulis novel kek gini. Berharap ada yang mau baca sampe dishare di sosmednya segala. Meuni narsis pokoknya si Aku teh.
Tapi makasih banyak yang udah mau view udah gitu nyempetin waktu buat gerakkin jempol ngasih like nya.
__ADS_1
Wassallamuallaikum