Suamiku, Kekasihku (Revisi)

Suamiku, Kekasihku (Revisi)
Extra chapter


__ADS_3

Selama ini ternyata Ega masih mengurusi perusahaan. Dengan alasan berbelanja kebutuhan restoran, Ega sering bolak balik ke jakarta bahkan tak jarang menginap. Rain awalnya percaya, tapi kebenaran itu terungkap dari mulut Cecil siang tadi. Rain terus saja menghindari Ega setelah itu. Bahkan Rain tidak menyiapkan pakaian ganti saat Ega mandi sore. Dia berusaha menjauhkan diri agar tidak bertegur sapa. Hingga malam, Rain memilih kembali tidur bersama Kaf. Di elusnya pucuk kepala Kaf yang sudah terlelap sejam yang lalu itu.


Ceklek


Pintu kamar Kaf dibuka oleh Ibu. Rain menoleh ke arah Ibu dan langsung merubah posisi untuk duduk dan bersandar pada headboard tempat tidur.


"Jangan terlalu kejam pada Mas mu!" Ucapan Ibu semakin membuat moodnya tidak baik.


"Tapi Dia bohong, Bu!" Rain meremas bedcover yang menutupi kakinya.


"Dia memang berbohong, tapi demi menghindari perdebatan denganmu. Rain, perusahaan itu menyangkut orang banyak. Bagaimana kalau tidak dikelola dengan baik imbasnya akan terasa oleh para pekerja kecil yang ada di bawahnya!" Ibu berusaha memberi pengertian.


"Ibu tahu hal ini dari awal?" Rain mencurigai Ibunya tahu sesuatu.


"Iya, Mas mu dari awal sudah bilang. Bahkan Ibu mendukungnya". Jawaban Ibu menohok hati Rain. Bagaimana dua orang yang paling Rain sayangi membohonginya secara bersamaan dan selama bertahun-tahun.


"Kenapa kalian tega sekali?"


"Memangnya jika Kami jujur, Kamu akan berlapang dada menerima? Jangan egois, Rain. Kasihan suamimu. Di saat-saat seperti ini Kamu harusnya ada di sampingnya!" Ibu meninggikan intonasi bicaranya.


"Ibu, jangan buat Aku takut. Kenapa jadi marah ke Aku?" Rain meraih tangan Ibunya, Dia tahu amarah Ibunya sedang memuncak.


"Perusahaan sedang goyah waktu itu, sepertinya ada musuh dalam selimut. Riko tidak bisa menanganinya sendirian karena Dia sendiri sibuk mengurusi usahanya. Ibu sendiri yang menyuruh Ega untuk turun tangan. Kamu tahu nggak gara-gara kejadian itu beberapa orang menarik sahamnya dan ada satu pabrik terpaksa memecat seluruh karyawannya karena keteledoran seseorang yang dengan sengaja memanipulasi laporan keuangan kantor pusat". Ibu menjelaskan alasan Ega yang kembali mengurusi perusahaan dan diam-diam tidak memberi tahu istrinya.


"Rain tidak tahu kalau dampaknya sebesar itu, Bu". Sesalnya yang telah menyudutkan suaminya walau sudah dijelaskan berkali-kali.


"Sana minta maaf, biar Kaf Ibu yang temenin". Ibu menyingkap bedcover dari tubuh Rain. Rain segera beranjak hendak menemui suaminya.

__ADS_1


Lampu kamar masih menyala, pintunya hanya tertutup setengah. Rain dengan perasaan sesal bercampur malu masuk diam-diam menatap punggung suaminya yang sedak duduk di tepian tempat tidur. Rain segera merangkak ke tempat tidur dan memeluk suaminya dari belakang.


"Kaf kayaknya butuh adik, Mas. Gimana kalau kita lembur?" Rain berbisik di telinga sang suami. Rain memang jeli membaca situasi. Jika sudah berbuat salah dia tidak akan langsung meminta maaf. Rain akan menggunakan cara licik seperti ini untuk meraih hati suaminya. Dia berfikir meminta maaf lalu berbaikan itu seperti anak SMA saja. Ada cara lain yang lebih jitu, ya seperti sekarang.


Ega menghadapkan wajahya ke arah istrinya yang matanya masih sembab. Rain mengulas senyum lalu mengecup singkat hidung suaminya itu.


"Kalau nggak mau lembur, Aku tidur sekarang nih". Rain berpura-pura beranjak dan suaminya langsung menarik tubuh itu ke dalam pelukkannya.


"Nyonya yang satu ini paling bisa menyenangkan hati suaminya". Bisikkan itu berhasil membuat darah Rain berdesir.


"Merengek-rengek minta maaf sudah bukan zamannya lagi buat Kita. Ada hal lain yang bisa Kita lakukan untuk bisa saling menerima dan memaafkan. Bisa Kita mulai sebelum Aku berubah fikiran?".


"Tentu saja, Nyonya". Ega mengembangkan senyum. Dia yakin ini ulah Ibunya yang berhasil membujuk si kepala batu ini. 'Setiap hari saja buat kesalahan, Rain'.


🍂🍂🍂


"Kaf, nggak boleh gini dong. Kan di sekolah dan pengajian juga ada teman yang lain bukan hanya Frea". Ega membujuk putranya yang sedang bersembunyi di dalam lemari pakaian.


"Nanti deh Bunda kasih adek bayi, ya. Kaf mau cewek atau cowok?" Rain sebenarnya asal bicara. Namun, siapa sangka justru perkataan itulah yang membuat Kaf keluar dari lemari seraya tersenyum menampakkan barisan gigi putih dan gusi merah mudanya.


"Besok bisa langsung main sama adek bayi?"


Pertanyaan Kaf membuat Rain saling melempar pandang dengan suaminya. Ega mengangkat bahu sedangkan Rain membulatkan matanya, seolah ingin bicara 'Kamu yang jelaskan!'.


"Besok belum bisa, mungkin di hari-hari berikutnya. Kan Adeknya harus bobo dulu di perut Bunda sembilan bulan. Sekarang Bunda sama Baba mau panggil Adek dulu ya biar cepet-cepet bobok di perut Bunda?" Ega panjang lebar menjelaskan alasan yang asal saja keluar dari mulutnya. Membuat Rain rasanya ingin menncengkram mulut suaminya itu.


Kaf terlihat berfikir sebentar dan mengangguk-anggukkan kepala.

__ADS_1


"Ok, silahkan panggil adek bayinya. Kaf bobok sama Enin, ya". Kaf segera berlari ke kamar Ibu minta ditemani tidur.


"Alhamdullillah, akhirnya Dia percaya. Semoga Dia tidak inga kejadian ini saat pelajaran Biologi di sekolahnya nanti". Ega merebahkan dirinya di lantai kamar Kaf, lega.


"Jadi Kita harus lembur lagi gara-gara janji Kamu itu, Mas?" Rain menatao sebal suaminya.


"Memangnya Kamu mau Dia merajuk terus? Ayo cepat biar nggak kesiangan bangunnya". Ega segera beranjak menarik pergelangan tangan istrinya meninggalkan kamar Kaf.


🍂🍂🍂


Kabar pernikahan Pak Riko dan Mika baru bisa Ega utarakan pagi itu.


"Minggu ini? mandadak banget, Mas!" Rain yang sedang menyuapi Kaf sarapan merasa terkejut.


"Sebenernya udah dari bulan lalu, tapi kan Aku cari-cari waktu yang pas buat kasih tahu Kamu!".


"Nggak nyangka ya, padahal Mbak Mika lebih cocok jadi anaknya atau keponakannya deh". Rain tertawa geli membayangkan Mika yang masih muda bersanding dengan Pak Riko.


"Mungkin Allah kasihan Rain sama si Riko, lama menjoblo jadi dikasihnya yang masih segar". Timpal Ibu yang baru bergabung di meja makan. Rain hanya menggeleng-geleng dengan ucapan Ibu.


"Oh iya, habis jemput adek bayi paginya langsung cuci sprei ya? Kayaknya tiap hari cuci sprei nih?" Ibu menaik-naikan kedua alisnya menggoda anaknya itu.


Rain membulatkan matanya sementara Ega hanya tersenyum simpul saja.


"Semalam Kaf bilang sama Enin kalau Bunda sama Baba mau jempu adek bayi". Kaf menjelaskan mengapa Eninya bisa tahu tentang menjemput bayi.


"Hajar terus, Ga. Sampai dia encok karena setiap pagi harus cuci sprei". Ibu tersenyum puas membuat Rain tidak dapat menjawab perkataan Ibunya. Ega tertawa mendengar celotehan mertuanya. Sementara Rain merasa kesal karena terpojokkan.

__ADS_1


__ADS_2