Suamiku, Kekasihku (Revisi)

Suamiku, Kekasihku (Revisi)
Dipisah


__ADS_3

Hari pertama masuk sekolah di semester dua ditemani dengan hujan deras pagi itu. Rain selalu suka dengan hujan deras. Menurutnya suara gemuruh hujan itu seperti alunan musik indah yang menyejukkan jiwanya. Rain hari itu tidak mau dijemput oleh Ega. Ega sudah berusaha membujuknya tapi Rain tidak bisa dipaksa 'Aku mau menikmati hujan, pakai payung' begitu alasannya. Memang aneh Rain itu.


Rain sengaja sekali bermain-main dengan air hujan, bahkan dia berlama-lama di pinggir jalan saat menunggu angkot. Dia tertawa-tawa sendiri memainkan air hujan dengan tangannya. Bahkan saat tiba di gerbang sekolah sengaja sekali Rain itu berdiri lama masih memainkan air hujan. Padahal Ega sudah tiba sejak 15 menit yang lalu. Biar saja, itu yang Rain pikirkan saat melihat mobil Ega sudah ada di parkiran.


Barulah saat bel masuk Rain mempercepat langkah menuju kelas.


Ega sudah memasang wajah masam saat Rain duduk di kursinya. Rain mengerti betul apa yang dirasakan kekasihnya itu, tapi dia hanya tersenyum seraya menyentil pelan hidung Ega lantas segera membuka sweater yang ujung lengannya sudah basah. Rambutnya pun sedikit basah karena saat turun dari angkot sengaja sekali dia tidak segera membuka payungnya, membiarkan air hujan bergelayut manja di rambut bahkan badannya.


Hari itu upacara bendera terpaksa ditiadakan mengingat hujan yang deras. Derap langkah memasuki kelas mereka. Dialah Pak Kepala Sekolah. Tanpa basa-basi langsung menginterupsi murid-murid untuk mendengarkan pembicaraannya. Kepala sekolah mengingatkan mereka untuk lebih meningkatkan belajar guna menghadapu ujian. Beliau ingin semua murid tanpa terkecuali mengikuti bimbingan belajar yang diadakan di sekolah mulai siang ini. Dan, di akhir pembicaraannya dengan lantang kepala sekolah menyebut nama lengkap Rain dan Ega.


"Ragga Hadiwijaya dan Rain Khadija!" Sorot matanya tajam. Serentak Rain dan Ega mengangguk.


"Demi kenyamanan belajar, silahkan Rain berpindah kursi dengan teman di depanmu itu," lanjut kepala sekolah menunjuk kursi murid yang berada paling depan dekat pintu masuk. Rain mengangguk sementara Ega tidak terima


"Koq pindah, pak?" Protes Ega.

__ADS_1


"Semua orang tahu kalian pacaran, enak saja duduk berdekatan seperti itu. Tidak ada pengecualian termasuk Ka-mu!" seru kepala sekolah.


Ingin lebih protes tapi Ega tak ingin dianggap sebagai murid durhaka. Rain dan siswa yang kursinya di depan itu segera pindah bertukar posisi.


"Ingat, pacarannya dikurangi" Seru Kepala sekolah pada Rain saat keluar kelas. Ega mendengus kesal di kursinya. Ingin sekali dia menyuruh Papanya memecat kepala sekolah itu, tapi apa alasannya?. Terima saja, Ga!


Bel istirahat berbunyi, Rain segera merapikan alat tulisnga semwntara teman-temannya sudah banyak yang meninggalkan kelas. Meski sudah SMA kelakuan mereka itu tidak ada bedanya dengan anak SD. Sela menghampiri Rain sementara Ega malah diam saja duduk malas di kursinya.


"Cowok Lo bt abis kayanya?" Kata Sela yang hanya dijawab senyum tipis oleh Rain.


"Buruan sana rayu cowok Lo sebelum digodain yang lain." Kata Sela lagi seraya keluar meninggalkan Rain.


Rain berjalan ke bangku Ega membawa dua kotak bekal makan. Ega masih memasang wajah kesal.


"Mau makan dulu atau dhuha dulu?" Tanya Rain seraya duduk di kursi sebelah Ega. Ega enggan menjawab.

__ADS_1


"Yang, jangan kayak gini dong!" Seru Rain mengelus-elus pundak tangan Ega.


"Sini liat Aku" tambah Rain. Ega sedari tadi memang hanya fokus memandang ke papan tulis.


"Ya udah deh, Aku tinggal aja!" Ancam Rain. Namun, baru saja berdiri, Ega sudah menarik tangannya. Rain tersenyum puas seraya duduk lagi.


"Senyum, dong. Males ah kalo mukanya bt gitu." rengek Rain. Sudahlah, Ega memang selalu tak bisa menolak jika Rain memasang wajah seperti itu.


"Aku bt banget sama kepala sekolah," ucap Ega.


"Ya udahlah, cuma dipisah bangku bukan planet." Balas Rain menyentil hidung Ega, suka sekali Dia melakukan itu.


"Aku pengen makan pancake lagi." tentu saja ini hanya modus supaya pulang sekolah masih bisa bersama Rain.


"Iya, nanti pulang sekolah." jawab Rain. Ega bersorak dalam hatinya. Sudahlah Rain hanya tak mau Ega terus-terusan kecewa.

__ADS_1


"Ayo makan dulu, baru dhuha!" Seru Rain menyerahkan kotak bekal pada Ega yang langsung diterima Ega. Mereka makan tanoa suara. Cinta memang membuat seseorang bodoh dan berlebihan dalam waktu bersamaan.


__ADS_2