
Rain sudah didandani sejak lepas shalat shubuh.
"Rain, jangan nangis terus dong. Susah nempel bedaknya" Kata Dona yang entah sudah ke berapa kali mengelap air mata Rain.
"Itu make up nya aja kali yang murahan, makanya nggak nempel" Jawab Rain dengan menahan tangis.
Sementara di kamarnya Ega masih enggan beranjak, bahkan melewatkan shubuhnya. Entahlah, Dia rupanya protes dengan Tuhan. Berkali-kali mengumpat bahwa takdir terlalu kejam mempermainkannya. Bibi terus mengetuk pintu kamarnya namun nihil. Berkali-kali mencoba membuka namun masih dikunci.
'Dari sekian banyak manusia, kenapa harus Loe?'
'Kenapa Tuhan nggak adil?'
Sampai pukul 06:30 Ega masih saja di kamar,
Menenggelamkan kepalanya di bawah bantal.
"A, udah setengah tujuh. Jam delapan loh akadnya". Teriak Bibi.
Ega tidak menjawab, mengepalkan kedua tangannya erat.
'Gue nggak sanggup lagi liat muka Loe, denger suara Loe'
"A, ayo. Jangan bikin masalah!" Bibi masih berusaha membangunkan Ega.
__ADS_1
Akhirnya Ega beranjak dan membuka pintu.
"Ya ampun, ayo siap-siap" Bibi segera menarik tangan Ega dan membawanya ke kamar mandi.
Sementara Ega mandi, Bibi merapikan tempat tidur Ega. Pakaian Ega sudah tergantung rapi.
Ega keluar dari kamar mandi, Dia tidak mandi hanya mencuci muka dan gosok gigi.
"Lho koq nggak mandi? Nanti Neng Rain nggak mau dipeluk lho!" Bibi berusaha bercanda. Ega tak menjawab. Dengan malas memakai pakaian yang sudah Bibi siapkan sejak malam.
'Peduli apa Gue tentang Dia? Bahkan neraka menantinya'
Setelah selesai dengan pakaiannya, Ega segera keluar kamar tanpa bicara pada Bibi.
"Eeh eta budak teh kunakn? kitu tah loba teuing gaul jeung si neraka jahanam sih' (eeh itu anak kenapa? begitulah jika terlalu banyak bergaul sama neraka jahanam/Pak Rakha)
"Ayo berangkat, minta sarapan di sana aja" Kata Bibi yang hari itu memoles wajahnya dan terlihat segar.
"Beliin bubur aja, Bi. Kita nggak usah lagi makan disana. Mati diracun baru tahu rasa!" Jawab Ega ketus.
Bibi mengerenyitkan dahi seraya berlalu karena Ega kalau sudah begitu tidak bisa dibujuk.
************
__ADS_1
Tepat pukul 07:30 Rain selesai didandani meski penuh dengan drama.
"Kamu tuh kayak nikah dijodohin sama bujang tua Rain, nangis terus. Inget, calon suami Kamu itu ganteng. Aku aja dulu yang nikahnya dijodohin nggak nangis gini" Kata Dona seraya merapikan rambut Rain, sebenarnya tidak berantakan.
"Aku nggak tahu Mbak, Aku ngerasa hampa" Jawab Rain mendongakan kepala menahan tangisnya. Feeling kuat ya, Rain.
Sementara Ega masih enggan berangkat, setelah buburnya habis Dia malah menyalakan televisi tapi tatapannya kosong. Berkali-kali Ibu menelpon namun nomornya tidak aktif.
"Ayo, A. lima menit lagi acaranya dimulai. Kata Ibu penghulunya udah dateng" Seru Bibi yang baru saja ditelpon oleh Ibu.
Ega memejamkan matanya, membuang nafas kasar. Lalu beranjak menyambar kunci mobil di atas meja makan dan berlalu keluar diikuti Bibi.
Ibu di rumah terlihat gelisah karena Ega yang belum muncul padahal sudah jam delapan. Ibu terus mondar-mandir di teras. Tidak banyak yang hadir di acara itu. Hanya tokoh masyarakat, Para karyawan restoran, Sela dan Rehan. Untuk wali, Ibu memakai wali hakim sebab menurut Ibu jikapun harus mencari keberadaan keluarga almarhum Ayah Rain itu hanya akan membuka luka lama.
Ega mengendarai mobil dengan pelan, Bibi sangat kesal dibuatnya.
"A, ini nikahnya mau jadi nggak. Dulu aja ngebet pisan, Lha ari ayeuna jadi kieu? kos lain lalaki wae" (A, ini nikahnya mau jadi nggak? Dulu aja ngebet banget, kenapa sekarang jadi gini?)
Ega tidak menjawab hanya memutar bola matanya jengah.
'pasti loe lagi nangis ya nunggu Gue? Gue dateng, tapi telat. Gue bukan pengecut yang ingkar janji buat nikahin Loe!'
Ega menyeringai jahat,
__ADS_1
Bibi melihat seringai jahat Ega.
"A, Kamu jangan-jangan sekarang udah jadi ganteng-ganteng serigala ya? Muka koq meuni serem pisan?" Bibi menunjuk-nunjuk wajah Ega. Ega hanya menggeleng datar tanpa menoleh.