Suamiku, Kekasihku (Revisi)

Suamiku, Kekasihku (Revisi)
Cerita Masa Lalu


__ADS_3

Ega kembali melanjutkan kisahnya.


"Sebelum kamu bingung, sebenarnya Mama tuh istri kedua Papa. Istri pertama Papa memintanya menikah lagi karena kondisinya yang mengidap penyakit dan nggak bisa kasih keturunan. Awal kenal sama Tante Maria Aku senang, Tante Maria baik pantas Papa sangat mencintainya...." Ega menjeda kalimatnya, mengingat wajah cantik Ibu sambungnya yang masih terekam jelas diingatan.


Kemudian lanjutnya, "namun, baru saja ketemu beberapa kali Tante Maria lebih dulu meninggal. Mama ku juga meninggal 3 tahun yang lalu, Rain. Papa yang kasih Aku kabar. Aku cuma bisa menatapnya lewat photo. Aku sayang sama Papa, tapi papa selalu sibuk sendiri dengan wanita-wanitanya...." kalimat Ega kembali terjeda, kali ini akibat tenggorokkannya yang kering.


Menelan saliva kemudian katanya, "Aku pernah menyarankan agar Papa menikah dengan wanita baik-baik supaya bisa hidup bareng Aku dan Bibi. Tapi, Papa selalu lebih suka nikah atau hanya bersenang-senang dengan gadis muda. Padahal Papa sendiri tahu mereka cuma ingin uang Papa...." raut wajah tampan itu menjadi sendu. Rain mengusap punggung tangan Ega seraya tersenyu.


"Aku ngerasa hampa Rain. Terkadang Aku menyalahkan nasibku kenapa jadi putra dari Rakha Hadiwijaya. Aku lelah".


Ega terisak di akhir kalimatnya, Rain segera menarik kepala Ega ke dalam pelukannya. Diusap nya lembut kepala kekasihnya itu. Ega merasa nyaman menyandarkan kepala di dada Rain. Debaran jantung Rain terdengar indah di telinganya.


Rain terus mengusap kepala Ega dengan tangan kanannya dan tangan kirinya mengusap lembut punggung Ega. Biarlah seperti ini sejenak, hanya itu yang dapat Rain lakukan.


Merasa Ega sudah tenang, Rain mendorong bahu Ega dari pelukannya. Ega menurut.


"Kamu harus kuat, Doakan yang terbaik untuk orangtua kamu. Terimalah dengan ikhlas dan jalani dengan bahagia biarkan Allah mengatur jalan hidup kamu." Rain menatap Ega dalam, Ega mengangguk.

__ADS_1


"Bersyukurlah, kamu tidak hidup kesusahan. Allah maha adil. Di luar sana banyak orang memiliki keluarga utuh tapi kesulitan soal uang bahkan nggak punya tempat tinggal. Kamu tinggal mensyukuri yang kamu miliki. Selama ini kamu udah hidup berkecukupan, nikmatilah yang sudah Allah berikan."


Ega seperti mendapat kekuatan dari kalimat Rain.


Ega menghela nafas panjang, Ega akan menuruti kata Rain.


"Sekarang, kamu dong yang cerita." Ega sudah tidak memasang wajah sendu.


"Cerita apa? kamu kan udah tahu."


"Aku pengen tahu dari mulut kamu sendiri, ayo ceritakan"


"Ayahku meninggal saat aku masih dalam kandungan. Ibu nggak punya banyak saudara. Orangtua Ibu meninggal setahun sebelum Ibu dan Ayah menikah. Ibu sangat mencintai Ayah, itu sebabnya Ibu nggak nikah lagi setelah Ayah pergi. Sedari mengandung sampai sekarang kami cuma tinggal berdua. Dulu juga Ibu tinggal di Bandung. Tapi, saat Ayah meninggal Ibu memilih merantah ke sini. Aku lahir dan besar di sini. Aku juga nggak punya nenek, kakek, om ataupun tante...." Rain menggantung kalimatnya, hatinya selalu sensitif saat membicarakan tentang keluarga. Setelah bisa menguasai diri, katanya kembali terucap.


"Sedari kecil Aku dijaga ketat oleh Ibu. Sekolah selalu antar jemput. Baru lah saat SMA ini Ibu mengizinkanku naik angkot sendiri. Aku dari TK sampai SMP nggak punya temen deket. Salahku sih, selalu sekolah di tempat favorit yang isinya anak-anak orang kaya. Nggak mau lah mereka temenan sama Aku. Barulah saat SMA Aku berkenalan dengan Sela yang baik dan tulus. Terus, ada murid baru yang bikin Aku jatuh cinta." Rain terkekeh di akhir kalimatnya.


Rain menyadari hidup Ega sepertinya lebih sulit. Meskipun Ega banyak harta tapi Rain lebih beruntung memiliki Ibu yang menyayanginya.

__ADS_1


Ega tidak membuang kesempatan, dia segera menarik Rain kedalam pelukkannya.


Rain diam saja. Anggaplah ini caranya untuk menghibur Ega.


Ega merasa beruntung mendapatkan hati Rain, Ega sepenuhnya menyadari Rain adalah gadis yang baik. Sejak kapan cinta itu hadir di hatinya? Ega sendiri tidak tahu. Yang pasti saat ini dia hanya ingin terus bersama Rain. Dia ingin terus Rain menemaninya.


"Kamu udah merasa lega?" taanya Rain. Ega mengangguk. Rain menarik tubuhnya dari dekapan Ega.


Rain kembali menatap Ega


"No body's perfect."


Rain melanjutkan kalimatnya


"Bersyukur lah selalu atas apa yang kamu punya. Bahkan menurut ku kamu terlalu sempurna. Terimalah segalanya dengan ikhlas."


Ega mengangguk tersenyum manis.

__ADS_1


Setelahnya Rain memaksa diantar pulang, awalnya Ega tidak mau lebih tepatnya masih ingin bersama kekasihnya itu. Tapi, Rain memaksa pulang. Awqlnya Ega terus membujuk, tapi akhirnya Ega mengalah mengantar Rain pulang setelah Rain janji sebelum tidur menghubungi Ega lewat video call.


__ADS_2