Suamiku, Kekasihku (Revisi)

Suamiku, Kekasihku (Revisi)
Satu Kamar


__ADS_3

Setelah benar-benar merapikan dan membereskan kamar tamu dan membuat ruangan itu seperti tidak pernah berpenghuni, Rain dan Ega menyilahkan Ibu untuk masuk dan istirahat di sana. Ibu segera saja menurut, badannya terasa lelah setelah seharian ini berkutat dengan kegiatan katering pada sebuah acara resepsi pernikahan mewah di gedung tidak jauh dari komplek menantunya itu. Selain merasa rindu pada Rain Ibu juga ingin melihat bagaimana keadaan rumah tangga putrinya. Sebab, Ega selalu saja absen saat Rain mengunjunginya. Ibu merasa lega karena nyatanya Rain dan Ega terlihat bahagia dan mesra. Andai Ibu datang dan menginap pada awal pernikahan Mereka. Mungkin, Ibu sudah membawa Rain kembali pulang sedari dulu.


Rain dan Ega masuk ke kamar atas dengan Ega menjinjing tas Rain yang berisi skincare dan beberapa potong hijab serta cardigan yang awalnya tergantung di pintu kamar tamu.


"Astagfirullah, Mas" Rain menepuk jidatnya sendiri.


"Kenapa?" Ega meletakan tas itu di meja belajarnya.


"Aku lupa bawa baju tidur, Aku nggak bisa tidur dengan baju ini. Terasa lengket.


"Baju Kamu kan masih ada di lemari ini" Ega mengetuk-ngetuk pintu lemari Rain. Rain tersenyum, beruntung tempo hari Dia tidak membawa semuanha ke bawah. Rain segera membuka lemarinya itu. Dia memilih-milih tapi rasanya kenapa tidak ada yang pas. Isinya hanya celana pendek rumahan dan kaos-kaos yang sangat pas di badan. Pakaian yang menurutnya laknat, pakaian yang selalu Rain gunakan saat masih gadis dulu.

__ADS_1


"Kenapa lagi?" Ega bingung melihat Rain yang berjongkok di depan lemarin tapi belum juga mengambil bajunya.


"Bajunya kurang bahan semua Mas" Rain kembali memeriksa siapa tahu ada piyama lengan panjang. Tapi, nihil.


"Pakai yang ada aja, atau mau ketahuan Ibu selama ini kita pisah ranjang?" Ega membuka lemari mengambil baju ganti asal hingga semua isinya berantakan. Lalu melakukan hal sama saat mengambil pakaian dalam. Tempo hari Rain sudah merapikannya tapi sekarang sudah tak karuan lagi. Rain yang melihat semua itu merasa kesal dan mengambil salah satu kaos Ega yang jatuh ke lantai sedangkan sang pemilik cuek saja masuk ke kamar mandi.


Rain akhirnya mengambil celana pendek dan kaos itu daripada tidak ganti baju. Suara gemericik air di kamar mandi membuat Rain tidak sabar juga ingin merasakan segarnya air itu saat menyiram tubuhnya yang terasa lengket. Ega tak lama keluar dengan handuk kecil di kepalanya yang dia gunakan untuk mengeringkan rambutnya. Rain terpana melihat wajah tampan suaminya dengan rambut basah. Wajahnya benar-benar terlihat segar ditambah aroma shampo dan sabun yang begitu lembut.


"Bisa marah juga Dia" Ega terus mengeringkan rambut dengan handuknya. Rain mulai melakukan aktifitas mandinya. Dia menggelung tinggi rambutnya sebab malas keramas. Aroma sabun membuatnya sedikit rilex. Rain mencuci wajahnya dan memberikan pijatan-pijatan lembuh di bagian keningnya. Kepalanya nyeri akibat tingkah suaminya sendiri.


Sebelum keluar kamar mandi, Rain mematut pantulan wajahnya dicermin. Dia meraba lehernya dan terlihat sekali tonjolan tulang pada bagian atas dadanya.

__ADS_1


"Koq keliatan kurus banget ya? Jangan sampai Ibu lihat"


Ceklek. Rain membuka pintu kamar mandi dan melihat Ega yang sedang sibuk dengan ponselnya duduk bersandar di pinggir tempat tidur.


"Mas, Aku tidur di mana?" Tanya Rain sambil mengambil ponsel di dalam tas tadi.


"Di sini lah, Kita kan suami istri" Ega bicara tanpa menoleh dan masih fokus dengan ponselnya.


"Tapi Kita kan?" Rain ragu jika harus tidur bersama. Pasalnya Ega masih enggan membuang dendamnya kan. Mereka masih mencari kebenarannya kan? Ega saat ini hanya sedang berusaha tidak membuat Bibi dan Ibu merasa sedih kan?


"Udah Rain, jangan mempersulit keadaan. Sini tidur" Ega menepuk-nepuk tempat kosong di pinggirnya.

__ADS_1


"Nggak akan terjadi apa-apa ya Mas sebelum kita pastikan kebenarannya. Aku cuma takut jika yang dibilang Papa itu benar Kamu pasti nggak mau melanjutkan mencintaiku kan?" Rain mulai beranjak dan naik ke atas tempat tidur. Ega melepas pandangannya dari ponsel dan beralih menatap bola mata Rain. Ega sebenarnya ingin apa yang dikatakan Papanya itu tidak benar. Walaupun benar, Ega sedang berusaha mengikhlaskannya dan menata kembali cintanya untuk Rain.


__ADS_2