Suamiku, Kekasihku (Revisi)

Suamiku, Kekasihku (Revisi)
Kepergian


__ADS_3

Pukul 09:00 Bibi dan Ega baru sampai membuat Ibu bernafas lega.


"Papa mu mana, Nak?" Ibu celingukan mencari keberadaan Pak Rakha.


"Papa nggak datang, sibuk." Ega berusaha bicara senormal mungkin meskipun rasanya ingin marah dan bertanya mengapa dulu berani sekali menyakiti Mama Rosa?


Ijab qabul pun dimulai. Ega lancar mengucapkannya tanpa mengulang dua kali. Setelah kata SAH menggema di seluruh ruangan, Sela membawa Rain keluar dari kamarnya. Rain sangat cantik dengan balutan kebaya putih yang pas ditubuhnya. Air mata sudah tidak bisa dia tahan. Rain segera menghampiri Ibu dan memeluknya, lama.


"Berbahagialah, sayang. Turuti semua kata suamimu. Tutupilah segala aib suamimu sekalipun terhadap Ibu." Ibu membisikkan kalimat yang semakin membuat Rain menangis saja. Ibu mengurai pelukkannya karena Rain harus menandatangani surat-surat.


Selesai dengan surat Rain dan Ega bergantian memasangkan cincin di jari masing-masing. Lalu atas panduan penghulu, Rain diminta untuk mencium tangan Ega sebagai tanda patuh terhadap suami. Namun belum sempat Rain meraih tangan itu dari luar tiba-tiba ada suara memanggil nama Ega.


"Mas Egaa ...." Itulah Pak Riko. Asisten Pak Rakha. Dengan wajah kusut lari ke dalam rumah.


"Mas, Bapak dan Mbak Mawar kecelakaan. Mereka sekarang di rumah sakit Husada."


Tanpa menghiraukan sekitar, Ega berlari melupakan kegiatan sebelumnya. Dia sebenarnya bukan peduli pada Papa dan Mawar. Dia hanya peduli pada tangannya yang akan dicium Rain, tidak sudi.

__ADS_1


Rain menatap kepergian Ega dengan hati hampa. Sejak kapan Ega tidak memperdulikannya?


"Pak, Saya ikut sama Bapak!" Kata Rain setelah mendengar deru mobil Ega meninggalkan pekarangan rumah.


"Ayo, Mbak!" Pak Riko mengangguk.


"Semuanya, Rain pamit. Pak penghulu makasih. Maaf untuk ketidaknyamanan ini." Rain segera berlalu setelah menoleh pada Ibu seperti meminta izin dan Ibu mengangguk.


'Mungkin lebih baik seperti ini Rakha. Maaf jika nyatanya Aku bahkan tidak merasa sedih dengan kondisimu' batin Ibu.


***


Dokter menyatakan Mawar dan dan Pak Rakha meninggal tepat setelah kedatanga Ega. Aneh, Ega tidak merasakan kesedihan. Ega hanya melihat dari kejauhan saat Pak Rakha dan Mawar ditutupi kain putih. Entahlah, apa yang merasuki hati nurani Ega sampai tiada setetespun air mata.


Rain yang sudah berderai air mata tiba bersama Pak Riko yang kondisi pakaiannya sudah berantakan.


"Mereka meninggal, Pak. Bukan menjadi rahasia kan Pak bahwa hubungan saya dengan Papa tidak baik. Sebaiknya Bapak urus saja semuanya dengan baik. Jangan bawa jenazahnya ke rumah saya." Setelah sekali lagi Menatap dua jenazah itu, Ega berlalu tanpa peduli pada Rain.

__ADS_1


Rain sebenarnya ingin melihat kondisi terakhir mertuanya, tapi demi melihat Ega yang sudah beranjak keluar dengan langkah gontai Rain mengurungkan niatnya.


"Saya duluan Pak, makasih. Maaf merepotkan." Rain pamit pada Pak Riko yang menjawab dengan anggukkan.


Pak Riko menatap kepergian Ega dan Rain dengan tatapan sendu.


"Mungkin Saya juga akan melakukan hal yang sama seperti Mas Ega jika mendapat perlakuan semena-mena dari seorang Ayah. Maaf Pak Rakha, ini setimpal dengan yang sudah anda tanam. Kasihan Ibu Zein dan Mbak Rain jika Bapak masih ada di dunia ini" Gumam Pak Riko seolah sedang bicara dengan bosnya itu.


Pak Riko yang memang sudah tahu tentang jalan hidup Pak Rakha sedari dulu. Ia merasakan kelegaan karena tidak lagi harus menyaksikan bosnya itu melakukan kekejaman.


Setelah dapat menyusul Ega dan mensejajarkan diri dengannya. Rain berusaha meraih tangan Ega dan menggenggamnya. Namun, Ega tidak merespon. Mereka berjalan beriringan dengan Rain yang terus menatap wajah dingin suaminya sementara yang ditatap menatap kosong ke arah depan.


Rain melepaskan pegangan di tangan Ega setelah mereka tiba di parkiran. Keduanya masuk ke dalam mobil. Tidak ada suara dari Ega. Rain terus menatap suaminya itu. Ega masih dengan tatapan kosong melajukan mobilnya itu.


"Mas, kita pulang ke mana?" Rain berusaha membuka pembicaraan namun Ega tak menjawab seolah tak mendengar suara Rain.


Rain tidak lagi mengulang kalimatnya, Dia pikir kemanapun Ega membawanya sudah pasti aman. Rain memilih diam daripada mengganggu konsentrasi Ega saat menyetir.

__ADS_1


__ADS_2