Teman Gadis Kecilku

Teman Gadis Kecilku
100. Kelanjutan Asmara Antara Bian dan Kinan


__ADS_3

"Kenapa papa bisa tau kalau aku pernah suka sama Adel?" Tanya Bian dengan ekspresinya yang sedikit terkejut.


"Hanya menebak saja, soalnya kan kamu selalu sama dia." Balas Bastian dengan sikap datarnya.


Bian menatap bingung ketika mendengar perkataan dari papanya. Ia seolah merasakan perasaan aneh, namun tak yakin dengan itu.


"Jadi waktu itu papa masih belum yakin soal perasaanku sama Adel?"


"Apa maksudmu, kan kamu tidak pernah bilang ke papa soal itu."


"Terus soal, yang.." Bian tak jadi melanjutkan kalimatnya, ia jadi teringat akan papanya yang tiba-tiba menyuruh dirinya untuk pergi ke kanada setelah lulus kuliah, yang akhirnya membuat dirinya harus berpisah cukup lama dari dua sahabatnya waktu itu, dan juga menjauhkan dirinya dengan Adel, yang saat itu ia suka.


"Lalu alasan papa menyuruhku datang ke kanada, apa dong? Bukan bermaksud menjauhkanku dengan Adel, kan?" Ucapnya kemudian yang meminta penjelasan dari papanya.


Mendapat serangan pertanyaan yang cukup tajam dari sang anak, membuat Bastian sedikit terpaku dan menatap lurus pada sang anak.


"Aku memang menjauhkanmu darinya, supaya kamu bisa lebih fokus soal perusahaan." Ucapnya kemudian.


"Jadi papa saat itu,.."


"Lho, kamu suka sama Adel? Mama baru tau soal itu?" Gauri ikut berkomentar soal obrolan suami dan anaknya.


Bian terdiam ketika mamanya ikut menimpali obrolan antara dirinya bersama papanya.


"Bian memang suka sama Adel, ma. Tapi itu dulu, dan Bian baru menyadarinya kalau rasa sukanya Bian hanya sebagai teman." Balas Bian mencoba menjelaskannya pada sang mama.


"Oh gitu, wah.. sayang banget." Timpal Gauri yang sedikit menyayangkan hal itu.


"Lalu soal orang yang kamu suka itu gimana? Apa kalian sudah saling terikat hubungan?" Sambungnya lagi yang terlihat tertarik pada percintaan sang anak.


"Em.., sebenarnya.." Bian agak bingung ketika harus menjawab pertanyaan dari mamanya.

__ADS_1


"Bahas soal itu lain kali saja, papa mau bertanya padamu, apa kamu mau balik lagi ke kantor pusat?" Ucap Papa Bian yang memotong obrolan istri dan anaknya dengan tanpa basa-basi.


Begitu mendengar kalimat yang dilontarkan oleh papanya, Bian segera beralih menatap ke arah papanya yang kebetulan duduk tepat di depanya.


"Bian akan coba pikirkan lagi soal itu nanti, karena masih banyak hal yang harus Bian urus dihotel yang ada di jogja, jadi Bian tidak mungkin meninggalkannya begitu saja." Jelas Bian.


"Soal hotel yang di jogja, papa sudah menyiapkan penggantimu, jadi hal yang kamu khawatirkan itu tidak akan terjadi. Aku harap kamu bisa memikirkannya dari sekarang."


"Saya tau, pa. tapi tetap saja saya tidak bisa pergi dan kembali sesukanya seperti itu."


Sejenak suasana tiba-tiba menjadi hening dan begitu tegang. Gauri yang melihat ada ketegangan di antara anak dan suaminya, ikut merasakan perasaan tak nyaman dan menutup mulutnya rapat, tanpa berani untuk ikut dalam obrolan.


"Apa ini karena perempuan yang kamu sukai itu?" Dengan ekspresi dingin dan datarnya, Bastian menatap wajah putra semata wayangnya itu.


"Itu juga benar, tapi yang saya maksud itu soal tanggung jawab saya sebagai orang yang sudah papa percaya untuk mengawasi hotel yang di jogja, terlebih saya baru 3 bulan lebih disana. Akan aneh jika saya langsung kembali begitu saja ke kantor pusat." Jelas Bian lebih lanjut.


Bastian terlihat diam mendengar penjelasan dari Bian. Ia yang duduk tepat di depan putranya itu, terlihat menimbang jawaban yang hendak ia keluarkan.


Papa setuju?


Agaknya Bian masih cukup terkejut ketika melihat papanya yang memberikan dirinya izin untuk lebih lama berada dihotel yang di jogja. Karena ia mengerti betul bagaimana sifat papanya yang begitu keras kepala dan sulit untuk membujuknya.


"Mama masuk kedalam ya! oh iya, kamu akan menginap disini atau gimana?" Tanya Gauri ketika suaminya sudah pergi dari hadapan mereka.


"Maaf ma, sepertinya Bian akan kembali ke apartemen Bian."


"Yasudah kalau begitu, nanti biar mama sampaikan ke papa dan kakekmu." Gauri tak memaksa kehendak anaknya, dan menuruti kemauannya.


"Terimakasih, ma. Tapi, sepertinya Bian masih ingin disini sebentar." Ujarnya yang terlihat tak mau beranjak dari duduknya.


"Oh gitu, yasudah, lakukan semaumu. Kalau begitu mama tinggal kedalam dulu, ya."

__ADS_1


"Iya." Bian membalas dengan senyuman pada mamanya yang hendak meninggalkan dirinya masuk kedalam kamar.


Bian menyenderkan sejenak kepalanya pada sofa yang sedang ia duduki, untuk melepas rasa lelahnya. Menatap lurus pada langit-langit diatasnya dengan tatapan penuh berbagai fikiran.


"Kenapa firasatku jadi kenyataan begini, sih?" Gumamnya sambil menghela nafas frustrasi.


"Sekarang, apa yang harus kulakukan padanya nanti? Padahal aku sudah berjanji akan terus mendapatkan hatinya." Bian teringat akan sosok Kinan.


"Padahal aku baru saja menyadari soal perasaanku, kenapa lagi-lagi harus seperti ini?" Ia kembali memasang ekspresi frustrasi.


"Ini sih, sama saja dengan apa yang ku lakukan dulu." Ujarnya lagi yang merasa dejavu dengan kisahnya dulu bersama Adel.


Bian sedikit terpikirkan soal nasib kisahnya bersama Kinan kedepanya nanti. Terlebih ada ketakutan tersendiri dari dirinya yang pernah merasakan kegagalan dalam hubungan dengan orang yang ia suka.


"Kali ini aku yakin, kalau perasaanku ini bukanlah karena rasa penasaran belaka." Bian mencoba meyakinkan dirinya sendiri.


...


Perasaan yang ia rasakan terlihat begitu tulus, karenanya sulit bagi Bian untuk melepaskan perasaannya pada Kinan, karena Kinan adalah orang yang telah mampu mengoyahkan hati dan perasaanya lebih dari apa yang ia rasakan pada Adel dulu. Meski sedikit bingung awalnya, namun begitu ia yakin akan perasaanya, membuat Bian semakin obsesi dan jadi lebih tak ingin melepaskan Kinan dari sisinya.


Namun, hal yang ia takutkan kembali terjadi. Ketika perasaanya sudah begitu yakin, ia harus dihadapkan pada keputusan yang dilakukan oleh papanya. Perasaan dejavu, perasaan bimbang, dan perasaan dilema, kini kembali menghantui dirinya. Memaksa dirinya untuk membuat keputusan yang bijak demi kelanjutan hubungan percintaanya.


"Meski aku disuruh untuk menunggu lagi. Kali ini, aku tidak akan menyerah begitu saja." Ujar Bian dengan penuh tekad.


Ia mengakhiri pergolakan hatinya, dan memutuskan untuk pulang dari rumah keluarganya. Langkahnya tiba-tiba terhenti, ketika melewati ruangan milik almarhum neneknya. Membuatnya berubah fikiran dan memutuskan untuk masuk kedalam.


Seperti biasa saat menatap foto milik neneknya, Bian langsung memberikan salam dengan sopan pada foto yang berisi gambar wajah neneknya.


"Sudah lama, ya nek?" Senyum Bian pada foto neneknya.


"Maaf ya nek, jika Bian terlambat menyapa nenek."

__ADS_1


Cukup lama Bian berdiri di depan foto milik neneknya, ada banyak hal yang ia katakan pada nenek yang sudah lama pergi meninggalkanya itu. Terlihat seperti sedang mengadu pada sang nenek dengan kegundahan dirinya mengahadapi masalah.


__ADS_2