
"Langkah apa yang harus aku lakukan? Karena setiap kali aku mendekatinya, dia selalu memberikan jarak padaku."
Bian telah kembali ke kamarnya bersama Dimas. Begitu ia mencoba menyibukkan kembali dengan aktivitas dirinya seperti biasanya, dering ponsel miliknya berbunyi dari arah saku celananya.
"Hai, Bi." Sapa seseorang ketika Bian mengangkat telfonya.
"Hai juga, Del." Sapa Bian balik.
"Kamu lagi apa?" Tanya Adel.
"Lagi memeriksa beberapa berkas bareng Dimas. Kamu sendiri ada urusan yang penting sama aku?"
"Oh gitu. Aku cuma mau nelfon aja sih, emang gak boleh ya kalau aku cuma telfon kamu aja?" Ucap Adel dari arah sebrang telfonya.
"Gak juga sih, cuma nanya aja. Siapa tau kalau kamu ada urusan yang penting gitu sama aku." Balas Bian.
"Emm.. ada sih sebenarnya, aku cuma mau bilang sama kamu kalau acara ulang tahunku bakal di majukan menjadi 3 hari sebelum hari jadiku. Siapa tau kamu belum ada yang ngasih kabar soal ini, jadi karena itu aku menelfonmu hari ini."
"Oh gitu, aku baru tau lho. Tapi, kenapa jadi di majukan?"
"Permintaan mama sih, katanya sekalian mengadakan acara berdirinya perusahaan. Biar lebih hemat katanya." Jelas Adel.
"Oh, ok. Akan aku ingat."
"Jangan cuma ingat aja lho. Pokoknya nanti harus datang ya..." Tekan Adel sedikit mengancam.
"Iya, pasti aku datang kok." Jawab Bian dengan tenang.
Obrolan yang mengalir begitu saja, dan seperti biasanya Bian mendengarkan ucapan Adel dari sebrang telfonya dengan sabar. Meski obrolanya cukup panjang, namun Bian tak berhenti mengerjakan pekerjaanya.
"Oh iya, nanti bakal ada ulang tahun Adel sebentar lagi, hampir saja kau lupa." Batin Bian ketika mendapat kabar dari Adel disela obrolannya bersama Adel.
__ADS_1
"Ok, aku tutup telfonya ya, Bi." Ucap Adel yang hendak mengakhiri telfonya.
"Ok."
"Ingat, jangan sampai lupa lho." Ucap Adel mencoba mengingatkan lagi.
"Siap, aku pasti datang kok." Ujar Bian menyakinkan Adel.
Dan tuut.. telfon pun mulai terputus. Bian menaruh begitu saja handfone miliknya di atas meja kerjanya dan melanjutkan kembali pekerjaanya yang masih menumpuk dan senpat ia tinggal sebentar tadi.
"Apa dia sudah makan, ya?" Gumamnya ketika mengingat Kinan.
"Anda sedang berbicara sama saya, pak?" Dimas yang duduk di depanya agak tak mendengar apa yang di gumamkan oleh Bian.
"Bukan, aku bicara sendiri tadi. Kamu lanjutkan lagi pekerjaanmu."
"Baik."
Terjawablah sudah Bian pergi tanpa menyentuh makananya sama sekali agar Kinan dan dua rekan kerjanya bisa makan siang dengan lega dan merasa nyaman.
"Oh iya, apa kamu tau hadiah yang bagus untuk kado ulang tahun?" Tanya Bian pada Dimas.
"Apa kadonya mau anda berikan pada non Adel?"
"Iya, aku mau beli hadiah buat kado ulang tahunya nanti, tapi masih bingung harus membeli apa. Kamu punya rekomendasi atau solusi gitu?" Tanya Bian meminta pendapatnya pada Dimas.
"Eh, bukanya beliau membeli kalung beberapa waktu lalu untuk diberikan pada non Adel, ya? Apa kalungnya sudah diberikan dan sekarang beliau ingin membeli hadiah yang baru?"
Dimas teringat pada kalung yang sempat dibeli oleh Bian dulu saat bersamanya. Meski.ia tidak tahu kalungnya akan diberikan pada siapa, namun ia berfikir bahwa akan diberikan pada Adel, mengingat bentuk dan desainya yang lebih cocok untuk perempuan muda.
"Apa kamu tidak punya gambaran?" Tanya Bian lagi dan membangunkan Dimas yang sedikit termenung karena memikirkan kalung liontin yang sempat dibeli oleh Bian beberapa waktu yang lalu.
__ADS_1
"Saya sendiri kurang tahu hadiah yang bagus untuk non Adel itu apa, dan saya juga tidak yakin apa bisa memberikan solusi yang bagus buat anda." Jawab Dimas kemudian. Ia mengerti betul apapun yang diberikan oleh Bian, perasaan Adel akan bahagia apapun hadiahnya, karena itu, ia tak begitu yakin akan solusi yang tepat untuk Bian.
"Katakan saja apa yang ada difikiranmu, hari ini aku benar-benar ingin meminta bantuan darimu." Bian seolah tak perduli dengan keresahan yang dirasakan oleh Dimas, karena ia hanya butuh pendapat apapun dari Dimas, yang sudah seperti bromance bagi dirinya.
Di satu sisi, Dimas menjadi semakin terbebani dengan perkataan Bian yang memintanya untuk mengatakan pendapatnya tentang hadiah yang cocok untuk Adel.
"Saya rasa kalung akan cocok untuk non Adel." Kata Dimas akhirnya.
"Kalung?" Bian tampak diam sejanak ketikan mendengar pendapat dari Dimas.
"Ok, kalau begitu nanti aku akan beli kalungnya." Bian terlihat suka dengan pendapat Dimas.
"Beli lagi? Berarti kalung yang kemarin memang sudah tidak ada." Batin Dimas sedikit terkejut mendengar perktaan Bian.
Dimas seketika tersadar dan tak lagi memikirkan urusan pribadi dari atasanya dan kembali pada pekerjaan yang ada di depanya.
...
Di tempat yang berbeda, Kinan yang kembali pada pekerjaannya setelah menyelesaikan makan siangnya terlihat terus kepikiran pada Bian yang tak menyentuh makanannya satupun.
"Aku ini kenapa sih, kok terus saja tidak fokus hari ini." Ucapnya sembari menepuk-nepuk kedua pipinya untuk menyadarkan dirinya kembali yang terus termenung dan sedikit tidak fokus tadi.
"Ayo fokus Kinan. Singkirkan hal-hal yang mengganggu pikiranmu itu." Ucapnya mencoba menyadarkan dirinya sendiri.
Baru 3 bulan yang lalu Bian datang ke hotel ini, selama berada dihotel tempatnya bekerja selama ini, ia menjalani pekerjaanya tanpa satupun merasa kehilangan fokus dan melamunkan hal yang terus mengganggunya pikirannya.
Baru 2 mingguan yang lalu setelah perubahan sikap Bian padanya, membuat dirinya menjadi sulit untuk konsentrasi dan terus saja kepikiran akan itu. Saat di kosan bahkan saat ia berada di dalam hotel tempatnya bekerja sekalipun ia menjadi sedikit goyah dan terus merasa kepikiran.
"Padahal aku tidak pernah seperti ini sebelumnya? Kenapa sekarang aku begini, ya?" Batin Kinan, yang seolah bingung terhadap perubahan sikapnya sendiri.
Pengungkapan perasan Bian padanya ternyata begitu membuat Kinan merasa tertekan. Ia masih tak menyangka perubahan hubungannya dengan Bian bisa menjadi sejauh ini. Sebelum mengetahui bahwa Bian adalah kakak kenalanya di masa lalu, ia masih bisa bersikap tenang dan menganggap Bian hanya seorang atasan.
__ADS_1
Namun, semua jadi berubah ketika Bian memberitahukan kepada dirinya secara langsung tentang kenanganya waktu di panti asuhan dulu. Saat itu, yang Kinan rasakan adalah rasa tak percaya, namun ia masih bisa tetap tenang karena mau bagaimanapun kenangan itu sudah terlalu lama bagi dirinya maupun Bian itu sendiri, terlebih mereka yang sudah kehilangan kontak dalam 21 tahun lamanya, hingga hubungan keduanya sudah seperti tidak ada artinya lagi.
"Harusnya kan seperti itu, ya? Tapi kenapa pak Bian malah jadi menyukaiku?" Bingung Kinan pada Bian yang justru menganggap kenangan itu penting dan begitu berharga.