
Satu kalimat yang menghuncam bagai petir yang menyambar itu begitu mengusik hatinya. Kalimat yang tak pernah terbayangkan sama sekali oleh sang pemilik hati, Kinanti Agustine. Gadis yang sudah menjalani kehidupanya selama 25 tahun itu, kini tengah dilanda perasaan yang baru pertama kali ini ia rasakan. Dadanya bergetar sangat keras dari biasanya, dengan tubuhnya yang terpaku merespon akan keterkejutanya.
"Aku gak salah dengar, kan?"
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?"
Dalam kosan mungilnya, ia tak bisa berhenti memikirkan kalimat yang dilontarkan oleh Bian padanya. Ia bahkan kesulitan untuk tidur karena memikirkanya. Meski sudah membolak-balikan badan untuk mencari posisi tidur yang nyaman, namun tetap saja tak bisa memejamkan kedua matanya.
"Ini tidak mungkin. Tadi, pasti aku hanya salah dengar. Iya, pasti begitu." Ucapnya bangun dari tidurnya, mencoba menyangkal apa yang ia dengar tadi sepulangnya dari rumah sakit bersama Bian.
"Meski begitu, aku tetap tidak bisa berhenti memikirkan itu." Keluhnya merasa frustrasi sendiri.
Dalam rasa frustasinya, Kinan kembali teringat akan kejadian dalam perjalanan pulangnya bersama Bian tadi. Saat itu, karena saking terkejutnya, ia bahkan tak bisa mengendalikan ekspresi, juga hatinya yang seolah ikut merespon keterkejutanya.
Dalam mobil yang hanya berisi dua orang di dalamnya, seketika saja menyiptakan keheningan yang menyeruak pada dua orang yang saat itu berada di dalam.
"Kamu tidak perlu merasa terbebani akan ungkapan perasaan yang aku lakukan padamu. Karena ini tentang perasaanku, jadi biar aku yang menyelesaikanya sendiri."
Kinan tetap diam meski Bian sudah mengatakan kalimat itu padanya, karena pada saat itu yang ia rasakan hanya perasaan bingung tak tau harus merespon apa.
Terpaku, bingung, dan berdebar disaat bersamaan, hingga kesulitan untuk sekedar mengucapkan balasan dari kalimat yang dilontarkan oleh Bian saat itu, dan setelah itu pun hanya berakhir tanpa mengatakan apa-apa sampai pulang ke kosan.
...
Di saat Kinan yang terus saja kepikiran akan pengungkapan perasaan Bian, hingga tak bisa tidur meski sudah berusaha memejamkan matanya. Dalam kamarnya saat ini, yang baru saja datang dari mengantar Kinan pulang, terlihat juga mengalami hal yang serupa seperti yang dirasakan oleh Kinan. Tampaknya, ia tak bisa berhenti untuk memikirkan pertemuanya tadi bersama Kinan, terlebih soal pengungkapan perasaanya pada Kinan.
Bian terlihat campur aduk setelah mengungkapkan perasaanya pada Kinan secara langsung. Ada rasa lega, senang, namun juga ada sedikit rasa cemas yang menyelimuti hatinya.
__ADS_1
Meski tadi dia dengan percaya diri mengatakan akan menyelesaikan sendiri perasaanya, dan meminta Kinan untuk tak merasa terbebani akan itu, nyatanya ia tetap merasa kepikiran akan kalimat yang ia lontarkan sendiri. Dalam hatinya tentu saja berharap ungkapan perasaanya tak berhenti sampai disini saja, karena dia yang berharap untuk terus bersamanya.
"Kenapa tadi aku malah bilang begitu, coba!" Rutuknya pada diri sendiri, yang telah mengatakan kalimat terakhirnya.
"Tapi, bagaimana aku tidak bilang seperti itu, kalau dia hanya diam saja tadi. Bahkan ekspresinya tadi terlihat terbebani." Ucapnya mengacu pada Kinan yang hanya diam saja setelah dia mengucapkan kalimatnya.
"Meski begitu, semoga dia benar-benar tidak merasa terbebani." Tutupnya mengakhiri lamunannya.
......................
Satu hari setelah kejadian yang sama-sama membuat keduanya canggung itu kini telah berlalu, meski diantara keduanya sama-sama masih kepikiran akan momen itu. Baik, Bian maupun Kinan tetap disibukan oleh aktivitas sehari-harinya seperti yang biasa mereka lakukan.
"Hey, mbak Kinan, selamat pagi." Sapa seseorang pada Kinan yang terlihat istirahat.
"Lho Aura, kok kamu udah masuk kerja, aja! Bukanya kemarin kamu masih sakit." Kinan terlihat terkejut melihat Aura yang menyapa dan duduk disampingnya.
"Lha, terus kenapa sekarang kamu malah masuk kerja?"
"Justru karena itu mbak aku masuk hari ini."
"Hah! Maksudnya?" Bingung Kinan.
"Aku tuh masih penasaran dan juga kepo banget sama kejadian kemarin. Karena itu, hari ini aku belain masuk, meski badanku belum pulih sepenuhnya." Ungkap Aura.
"Hah! Kemarin? Maksudnya?" Kinan menatap bingung pada Aura yang duduk disampingnya.
"Eiy, mbak Kinan jangan pura-pura gak tau gitu dong, nanti aku jadi sedih nih." Kata Aura menatap wajah Kinan yang masih bingung.
__ADS_1
"Itu lho mbak, soal pak Bian yang mengantar mbak Kinan ke rumah sakit." Ucapnya lagi.
Deg, seketika Kinan menjadi gugup begitu Aura kembali mengungkit soal Bian yang mengantarnya ke rumah sakit kemarin. Ekspresinya terlihat tak nyaman, dan bahkan mengamati sekitarnya agar tak ada yang mendengar percakapan itu.
"Hey, kenapa bahas itu disini. Nanti kalau ada yang dengar bisa jadi salah faham, tau!" Ucap Kinan meminta Aura untuk menutup mulutnya. " Dan, bisa-bisanya kamu masuk cuma karena ini, coba?" Cubit Kinan pada lengan Aura dengan pelan karena gemas pada kelakuan Aura.
"Karena aku masih penasaran, jadi mbak Kinan coba cerita dong, apa yang terjadi kemarin, kenapa.. " Aura mengamati sekitarnya sejenak. "Kenapa mbak Kinan bisa datang bersama dengan pak Bian kemarin." Lanjutnya dengan nada pelan.
Kinan menelan salivanya, karena hal itu ia menjadi teringat kembali akan ungkapan perasaan Bian padanya. "Kemarin kamu kan sudah mendapatkan jawabanya dari pak, em.. beliau maksudku." Jawabnya kemudian.
"Memang sih, tapi aku merasa masih ada yang mengganjal, tau. Terutama hubungan mbak Kinan dan pak, eh.. beliau maksudku."
Kinan sempat terdiam sejenak mendengar Aura mengatakan itu. "Apanya yang mengganjal, diantara kita tidak ada hubungan apapun, kamu itu kurangin dong sikap keponya. Sudah sana kerja lagi, aku juga mau kembali ke kerjaanku." Jawabnya yang mencoba tetap tenang menyikapi sikap Aura.
"Yakin gak ada apa-apa!" Goda Aura.
"Iya lha, memangnya kamu pikir diantara kita ada hubungan apa? Itu kan sesuatu hal yang gak masuk akal." Balas Kinan mengacu pada status mereka yang atasan dan bawahan.
"Iya kan, aku juga mikir gitu awalnya. Mana mungkin kita bisa dekat sama bos sendiri, tapi aku jadi berubah pikiran saat pak B.., beliau yang malah mengantar mbak Kinan ke rumah sakit. Bilangnya sih sekalian jenguk karyawanya, tapi apa itu masuk akal! Lagian aku juga bukan karyawan teladan seperti mbak Kinan." Ucap Aura penuh dengan rasa kecurigaanya.
Kinan sampai terpaku mendengar semua rasa kecurigaan Aura.
"Dasar ini anak, selain kepoan, dia peka pada hal-hal yang gak penting begini. Benar-benar bahaya nih, kalau dia tau nanti." Natin Kinan merasa tak bisa berkata-kata pada sikap Aura.
"Tapi.. diantara kita kan, memang tidak ada apa-apa? Aku juga gak yakin apa kemarin itu benar sungguhan. Beliau hanya bilang tertarik padaku, dan bukannya suka padaku."
"Yey.. Malah bengong, jawab dong ada hubungan apa mbak Kinan dan pak Bian."
__ADS_1
"Hush!, kan aku sudah bilang jangan sebut namanya." Tutup Kinan pada mulut Aura.