
Ternyata Bian membawa kalung kunci miliknya ke jogja, bersama dengan kalung gembok milik Adel yang sempat ia pinjam sebelumnya. Dan, saat ini dia tengah menatapnya lekat di sela-sela jari tanganya.
"Apa yang harus aku lakukan saat hendak memberitahunya?" Ucapnya dengan menatap lekat kedua kalung tersebut di tanganya.
"Haruskah aku bilang, apa kabar? sudah lama ya tidak bertemu? atau aku sudah menepati janjiku padamu, nih. apa kamu masih mengingatku?." Ucapnya mencoba menyusun kalimat yang hendak diucapkanya pada Kinan.
Karena terasa aneh dan canggung, dengan kesalnya, Bian membuang begitu saja kalung itu diatas ranjangnya. Ia membuat ekspresi frustasi dan beberapa kali menghela nafas panjang.
"Aku mau apa sekarang? dia bahkan tidak mengingatku." Ucapnya yang merasa sia-sia karena Kinan sendiri tak mengingat dirinya.
"Padahal aku sempat merasa bersalah, karena sempat melupakan kalung itu dan juga namanya." Sambungnya. "Dan lagi, dia sendiri yang mengusulkan untuk memberi inisial huruf di kalungnya, agar suatu hari nanti aku tidak melupakannya."
Bian benar-benar tak habis fikir dengan apa yang dilakukanya sekarang ini.
"Tapi, itukan 21 tahun yang lalu. Bukankah hal yang wajar kalau dia tidak mengingatnya? Aku, kan juga sempat tidak mengingatnya?" Ucapnya lagi mencoba memahami posisi Kinan.
Karena merasa frustasi sendiri, ia tak lagi perduli dan mencoba membaringkan tubuhnya di atas kasur. Kalung yang sempat ia buang diatas tempat tidurnya, ia taruh kembali disamping tidurnya.
Meski berusaha tidak perduli, dan hendak menyingkirkan kalung tersebut, namun dia masih saja menatap sayang pada kalung miliknya tersebut.
...
"Bagaimana? apa kamu sudah menyiapkan semuannya?" Tanya Bian pada Dimas, perihal kesiapan keberangkatan mereka nanti.
"Sudah pak. Saya sudah menyiapkan semuanya." Jawab Dimas.
"Baiklah, ayo pergi." Ucap Bian lagi, untuk mengurus urusan mereka yang terakhir. Kali ini mereka hanya pergi berdua tanpa Kinan.
__ADS_1
Keduanya kembali menemui seseorang, ini adalah pertemuan terkahirnya sebelum ia kembali ke kantor pusat. Ada urusan sebentar yang harus segera ia selesaikan disana, karena itu ia memutuskan untuk kembali lebih cepat.
Karena janjinya dengan Adel, Bian terpaksa harus bolak-balik antara kantor dan hotel untuk beberapa waktu ke depan. Ia tak bisa lebih lama tinggal disini mengingat ada hal yang harus segera dia pastikan, yaitu hati dan perasaanya.
"Saat tiba nanti, akan segera kulakukan, agar aku merasa yakin dan tenang soal ini." Ucapnya dalam hati.
Sepertinya, ini adalah keputusan yang sudah dia pikirkan dengan serius beberapa hari yang lalu, untuk mengatasi kekalutan dan kegundahan hatinya selama beberapa hari ini. Ekspresinya tampak begitu mantap dan yakin pada keputusan yang akan diambilnya nanti.
...
Bian bukan orang yang mudah goyah sebenarnya, dia selalu percaya dengan apa yang diyakininya selama ini. Ia akan fokus pada satu tujuannya, dan bertanggung jawab dalam hal tersebut bagaimanapun caranya, termasuk pada perasaanya. Karena itu, ia terkesan tegas dan tak mudah untuk di goyahkan. Dia orang yang selalu menepati janji yang dia buat sendiri.
Namun, entah mengapa, hanya karena sebuah kalung sudah membuatnya kalut dan tak fokus selama beberapa hari ini.
Perasaan yang dia pegang untuk Adel dari dulu, bahkan ia masih jaga sampai detik ini. Meski ia dekat dan bertemu dengan beberapa perempuan selama di kanada, tak ada satupun niat darinya untuk mengingkari janji tersebut. Sepertinya, ini adalah kali pertama baginya merasakan dilema dalam hatinya.
Meski masih bisa berkomunikasi dengan baik, namun untuk bertemu rasanya begitu sulit, mengingat dia yang terkadang tidak dalam satu tempat, karena harus bertemu beberapa klien dan investor.
Baik dirinya, Adel dan juga Adnan, sama-sama sibuk dengan kehidupan masing-masing hingga sulit bertemu dan membuat hubungan ketiganya sempat canggung, karena telah lama tak bertemu.
"Aku kembali karenanya, karena itu aku mencoba percaya dengan perasaanku dan juga perasaanya.."
Bian meyakinkan dirinya sendiri bahwa apa yang diyakininnya selama ini benar adanya dan tak akan pernah berubah. Karena itu, ia memutuskan untuk pulang lebih cepat dari waktu yang ditentukan.
...
Bian dan Dimas kembali ke hotel setelah menyelesaikan meeting dengan beberapa koleganya. Sebelum berangkat, dia mencoba mengajak Kinan untuk bertemu, karena ada sesuatu yang harus dia sampaikan padanya sebagai manajer hotel.
__ADS_1
"Aku minta maaf harus balik begitu cepat." Ucap Bian pada Kinan di depanya. "Ini adalah hal yang harus selalu kamu ingat, dan lakukan pada hotel." Ucapnya lagi sembari memberikan sebuah map berisi panduan dan hal-hal peningkatan hotel pada Kinan selama dia tidak ada.
"Aku akan datang lagi dalam beberapa hari, aku masih belum tahu kapan, tapi akan segera aku hubungi jika urusanku selesai." Kata Bian lagi.
"Baik, akan saya lakukan sesuai permintaan anda." Jawab Kinan menerima map itu.
Bian menatap lekat wajah Kinan yang berada di depanya. Ada keraguan dalam dirinya yang hendak menanyakan soal kalung.
"Maaf pak, apa masih ada hal yang ingin anda katakan pada saya?" Kata Kinan merasa Bian terus menatapnya tanpa berkataa apapaun.
"Tidak ada, kamu boleh pergi." Balas Bian kemudian.
"Kalau begitu saya permisi." Sambung Kinan, lalu pamit pada Bian dan juga Dimas.
Begitu Kinan pergi, Bian kembali terdiam. Ia mengatupkan kedua tanganya dan menaruhnya diatas meja, sembari berpikir.
"Kita pergi saja." Ucapnya kemudian pada Dimas, dan melangkah keluar dari restauran.
Banyak hal yang ia bicarakan dengan Kinan tadi, salah satunya perihal apa yang harus dia lakukan selama ia tak ada. Seperti sedang terburu-buru, Bian pergi begitu saja setelah mengatakan apa yang ingin dikatakan pada Kinan hari ini. Karena jadwal keberangkatanya yang dipercepat, dengan segera dia menuju ke bandara hari ini.
...----------------...
"Kakak, berjanjilah padaku, kalau kakak tidak akan melupakanku."
"Aku berjanji. Tapi, kenapa kamu tidak mau aku melupakanmu?"
"Karena kakak adalah keluarga." Senyum merekahnya begitu terpancar dan menggetarkan hati anak laki-laki itu. "Aku sangat suka saat bersama kakak, soalnya kakak baik."
__ADS_1