
Apa artinya hidup jika tanpa cinta dan kehangatan. Tak melulu harus hubungan dengan lawan jenis, namun juga bisa untuk teman, sahabat maupun keluarga. Karena adanya dua hal itu, setidaknya hidup lebih bermakna dan penuh dengan warna.
"Aku tak memiliki keluarga sedari kecil. Tak tahu keberadaan orang tua maupun kerabat dekatku. Tumbuh di panti asuhan adalah sebuah kehormatan buatku yang tak memiliki keluarga satupun. Karena meski tak punya keluarga, ada teman yang bisa menjadi keluarga baru bagiku."
Kinan begitu menyayangi keluarga Bayu, karena setiap kali hadir kerumahnya sudah seperti pulang kerumahnya sendiri. Ia seperti punya dua rumah untuk pulang selain panti asuhannya.
"Aku tak pernah berharap banyak, namun entah mengapa, harapan kecil untuk memiliki sebuah keluarga yang selalu kubatin dari kecil, kini kembali muncul jika bersama mereka." Batin Kinan mengacu pada keluarga Bayu. "Aku bahagia meski kita bukan keluarga sesungguhnya, namun diterima dengan hangat sudah menjadi kebahagiaan bagiku." Tuturnya dalam hati dengan penuh rasa syukur.
Seperti anak kandungnya sendiri, Kinan begitu disambut dengan baik dalam keluarga Bayu, layaknya anak yang baru datang setelah lama merantau. Setiap merasakan sambutan hangat itu, hatinya tak bisa menyembunyikan rasa senangnya, karena bisa berkumpul di tengah-tengah mereka dan menjadi bagian dari mereka.
Bisa mengobrol dengan santai, bercakap dengan nyaman, dan bercanda dengan leluasa, menjadikan pemandangan yang terasa indah dimatanya, dan sedikit mewujudkan mimpinya waktu kecil untuk bercengkrama bersama seorang keluarga.
Obrolan yang sangat berkesan itu sayangnya hanya bisa berlangsung singkat, karena di ambil oleh sang waktu malam. Hampir pukul 10 malam Kinan masih berada dirumah keluarga Bayu, karena saking nyamanya mengobrol, membuatnya tak sadar jika waktu telah lama berlalu.
"Bagaimana datang kerumah setelah sekian lama?" Tanya Bayu yang mengantar Kinan menuju kembali ke kosan miliknya.
"Rasanya sangat terharu, aku senang." Jawab Kinan tak bisa menyembunyikan ekspresi senangnya.
"Meski kamu sekarang lagi sibuk bekerja, datang saja kalau kamu memang mau datang kerumah. Ibu, bapak, Ayu dan aku akan selalu menyambutmu, jadi jangan sungkan." Ucap Bayu.
"Iya, terimakasih mas. Nanti kalau ada waktu lagi, Kinan pasti akan datang kerumah. Tapi, Kinan sekarang senang karena bersyukurnya ibu sama bapak sudah baikan kondisinya." Balas Kinan, yang juga merasa bersyukur dengan kondisi stabil dari kedua orang tua Bayu.
__ADS_1
"Iya, itu juga yang mas Bayu syukuri sekarang.Terimakasih ya sudah mau datang kerumah. Kalau melihat ibu sama bapak yang gembira seperti tadi, membuat mas merasa bersyukur dan ikut senang karena kamu datang." Kata Bayu merasa senang dengan kehadiran Kinan dirumahnya.
"Iya mas, aku juga merasa senang bisa datang lagi setelah hampir 3 bulan tidak mampir kesana, dan bikin ibuk sama bapak mas Bayu senang." jawab Kinan yang juga merasa senang untuk datang kerumahnya.
"Anggap saja rumahmu sendiri, jadi kalau mau sering datang juga gapapa lho." Celetuk Bayu.
Kinan tersenyum mendengarnya, "Baiklah, nanti aku akan datang lagi." Jawabnya kemudian.
Tak terasa mengobrol santai di dalam mobil,kini keduanya pun telah sampai ditempat kosan Kinan.
"Aku masuk dulu ya mas, terimakasih sudah dijemput dan di antar pulang juga." Ucap Kinan selepasnya ia turun dari mobil.
"Iya, mas Bayu juga berterimakasih sama kamu, karena mau datang lagi kerumah. Masuklah, sudah malam." Balas Bayu meminta Kinan segera masuk ke dalam kosanya.
Bayu tersenyum, dan membalas lambaian tangan Kinan. Saat Kinan menjauh, ia menyalakan kembali mesin mobilnya, dan pergi dari kosanya.
...
Hatinya seolah lega setelah kedatanganya dari rumah Bayu, hingga membuatnya tak berhenti untuk tersenyum sesampainya di dalam kosan miliknya. Sepertinya Kinan begitu bahagia setelah bertemu dengan orang tua Bayu, karena ekspresinya penuh dengan rasa haru dan kebahagiaan.
"Kata apa yang bisa mengungkapkan rasa senangku ini, ya?" Gumamnya dengan senyum merekahnya, sembari tak berhentinya untuk menepuk-nepuk pipinya dengan rasa bahagia.
__ADS_1
Ekspresi yang dibuat untuknya saat ini seperti habis bertemu kekasih, padahal hanya bertemu keluarga dari kenalannya, yang kebetulan begitu dekat denganya.
"Sebenarnya aku takut jika terlalu menyayangi mereka, karena aku gak tahu kapan hubungan kami akan terus bertahan dan tetap akrab seperti ini." Kinan termenung memikirkan bagaimana dia yang sudah terlanjur nyaman dan sayang pada keluarga Bayu, karena itu ia sempat sedih saat tak bisa bertemu dengan mereka beberapa waktu lalu. "Aku sedih banget waktu itu memilih menjauh, padahal aku tidak berniat seperti itu." Ucapnya lagi, mengacu pada dia yang sempat menjauh karena masalahnya dengan pacar Bayu.
Semenjak bergaul dan membaur pada keluarga Bayu, Kinan merasa seolah memiliki sebuah keluarga, karena berasa punya orang tua, kakak dan juga adik disampingnya. Namun kenyataan di depanya, sedikitnya membuatnya tersadar akan batasanya, mengingat dirinya tak ada hubungan darah dengan mereka. Karena itu, ia sebisa mungkin untuk tersadar akan batasan itu, agar tak terlalu berlarut dalam rasa nyaman itu, mengingat ia yang tak tahu hingga kapan mereka akan tetap berhubungan baik seperti ini. Apalagi kejadian kemarin membuatnya tersadar bahwa dia bisa saja tidak bertemu lagi dengan keluarga Bayu, karena itu ia berhenti untuk berharap terlalu jauh dan hanya menikmati momen yang saat ini terjadu saja.
"Pada akhirnya, aku tak akan bisa punya seorang keluarga." Sedih Kinan ketika memikirkannya.
......................
Menatap bulan dalam jendela kamarnya, Bian termenung seorang diri dalam kamarnya, seolah sedang mengistirahatkan sejenak tubuh dan pikirannya.
Apa yang membuatnya terhanyut dalam lamunan? Hingga tak memberikan ekspresi dalam wajahnya, yang terlihat begitu datar dan terkesan dingin.
"Aku bahkan gak sadar kalau lagi sakit." Gumamnya tetap berdiri di depan jendela kamarnya, sembari menatap pemandangan diluar yang hanya terlihat kerlap-kerlip bintang dilangit dengan sinar bulan ditengahnya.
"Sepi rasanya disini, tidak ada yang ku kenal, bahkan tak bisa keluar dari kamar juga, karena tak begitu mengenal kota ini." Gumamnya menghela nafas panjang.
Menjatuhkanya kemudian di atas ranjang tidurnya. Bian menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan kosong dan terlihat tak bersemangat. Hal yang sama seperti ia rasakan waktu berada di kanada. Sendirian tanpa adanya teman dekat yang berada disampingnya.
"Apa aku akan terus terjebak disini?" Ucapnya pada rutinitas dirinya di jogja. "Rasanya mau mati." Ucapnya mengacu pada kondisi tubuhnya yang terlihat tak sehat.
__ADS_1
Bian mencari sesuatu dalam laci kamar tidurnya, "Sial, pusing banget rasanya." Gumamnya merasakan sakit kepada kepalanya ketika hendak duduk untuk mencari sesuatu dalam laci kamarnya.