Teman Gadis Kecilku

Teman Gadis Kecilku
116. Sesuatu Yang Mengganjal


__ADS_3

Saat Adel telah turun dari mobilnya dan masuk kedalam rumah, Adnan terlihat masih diam di depan rumah milik Adel. Ekspresi wajahnya membuat gestur rasa tak percaya pada apa yang baru saja ia pastikan sendiri dari seorang Adel. Diam termenung dan terpaku di dalam mobil miliknya, sembari terus memikirkan jawaban dari apa yang baru saja ia ketahui mengenai perasaan Adel pada Bian sesungguhnya. Hal itu tentu saja membuat Adnan begitu terkejut dan sedikit tak percaya.


"Kalau begitu selama ini perasaanya untuk Bian, kalau bukan suka lalu apa?" Adnan masih cukup bingung akan hal itu, karena selama ini ia mengira bahwa Adel memiliki perasaan yang sama dengan yang dirasakan oleh Bian dulu.


"Ternyata yang dikatakan oleh Bian benar, Adel selalu menghindar setiap kali ditanya soal perasaanya." Ucapnya yang teringat soal Adel yang kembali menghindari topik seperti ini.


"Aku merasa dia juga seperti itu padaku?" Adnan menyadari bahwa selama ini Adel juga bersikap demikian saat bersamanya, selalu menghindar dan berkelit setiap kali ditanya soal perasaanya akan tertuju pada siapa.


"Padahal dia tinggal bilang suka atau tidak, tapi kenapa selalu menghindarinya?" Adnan masih cukup bingung dengan sikap Adel.


"Apa dari awal memang tidak ada yang Adel suka dari kita berdua, ya?" Ucapnya lagi yang mulai merasa aneh pada sikap Adel.


Jika memikirkannya kembali, Adnan merasa asumsinya sedikit benar, mengingat Adel yang hanya ingin selalu berada di dekat dirinya maupun Bian tanpa ingin merusak persahabat mereka. Terlebih, Adel selalu menghindar setiap kali dirinya maupun Bian mengungkapkan perasaan padanya.


"Dia juga selalu bilang suka setiap kali aku mengatakan perasaan padanya, padahal suka yang kumaksud bukanlah sebagai sahabat. Apa Adel benar-benar tidak mengerti soal makna dari kalimat ini?"


Adnan sangat tau bahwa Adel sejatinya telah mengetahui perasaan dirinya maupun Bian, karena baik dirinya dan Bian tidak hanya sekali mengungangkapkan perasaan pada Adel. Namun, reaksi yang dilakukan oleh Adel selalu sama setiap kali mendengarnya. Selalu berusaha menghindari topik itu dan juga memberikan jawaban yang sama jika salah satu darinya dan Bian yang menyatakan perasaan, hingga timbulah berbagai pertanyaan menyertai dirinya yang saat ini merasa aneh maupun bagi Bian itu sendiri.


"Soal Bian, entah kenapa aku yakin hubunganya dengan perempuan yang ia suka ada kemajuan. Haruskah aku bertanya padanya?.." Ucap Adnan ketika mengingat soal Bian yang pernah bercerita tentang dirinya yang telah jatuh cinta dengan seorang perempuan yang ada di jogja.


"Mungkin aku harus menunggu sampai dia mengatakannya sendiri padaku." Tuturnya, yang mulai menghhidupkan kembali mobilnya dan meninggalkan rumah milik Adel.


....


Di dalam kamar miliknya, Adel saat ini terlihat sedang memasang ekspresi wajah yang sedikit kesal. Dari jendela kamar miliknya, Adel bisa melihat bahwa mobil Adnan yang baru saja pergi dari rumahnya meski dirinya sudah masuk kedalam rumah.


"Hari ini, baik Bian maupun Adnan benar-benar bersikap aneh." Gerutunya merasa aneh pada sikap dua sahabatnya.


"Ada apa dengan mereka berdua hari ini?" Gumamnya merasa bingung sendiri.


Ada berbagai pertanyaan yang tengah Adel fikirkan soal Bian saat pulang dari apartemen milik Bian, mengingat betapa merasa aneh dirinya pada sikap Bian yang terlihat tak biasa menurutnya, dan sekarang ia harus dibingungkan lagi pada perubahan sikap Adnan yang tiba-tiba.


"Aku merasa aneh saat melihat Bian yang senyum-senyum sendiri, terlebih dia yang kulihat waktu itu entah mengapa terlihat begitu bahagia. Semuanya terasa asing bagiku." Ujar Adel ketika terfikirkan soal Bian.

__ADS_1


Meski sudah mendapatkan penjelasan dari Bian, namun kenyataanya Adel tetap merasa janggal dengan sikap Bian hari ini, ia juga belum merasa lega setelah mendengar penjelasan dari Bian, karena Adel merasa ada sesuatu yang sengaja Bian sembunyikan darinya.


"Tadi kenapa Adnan tiba-tiba menanyakan soal ini dan membahasnya lagi? Aku benar-benar tidak mengerti dengan tujuanya menanyakan soal ini padaku?"


Kali ini, Adel dibuat bingung pada sikap Adnan yang tiba-tiba menanyakan soal perasaanya pada Bian.


Perasaanku pada Bian?


Sejenak, ia memikirkan kalimat yang dilontarkan oleh Adnan untuknya. Mencoba memahami maksud dari kalimatnya dan mencari jawaban dari pertanyaan itu.


"Memangnya jawaban apa yang ingin dia dengar dariku?" Ucapnya kemudian, mengarah pada Adnan yang sempat bertanya padanya.


"Kalau aku menginginkan keduanya, apa itu salah?"


......................


Di saat Adnan dan Adel tengah berkutat dengan pikiran masing-masing. Dua orang yang tengah dimabuk asmara, saat ini tengah melepas rindu dengan saling menelfon. Namun, tanpa di duga, Kinan lah yang memulai duluan dalam menghubungi Bian, hingga Bian yang menatap layar ponselnya yang tengah berdering dibuat kaget, dan di satu sisi juga merasa senang saat melihat nama orang yang menelfonnya.


"Pak? Apa telfon ini karena masalah pekerjaan?"


"...."


Kinan sempat dibuat bingung oleh perkataan Bian, hingga membuatnya terdiam sejenak.


"Ah itu, kak Bian." Ucapnya ragu dan sedikit malu saat mengatakannya.


Senyum merekah terpancar dari Wajah Bian ketika mendengar perkataan Kinan yang memanggilnya kakak.


"Kalau begitu, telfon ini bukan soal pekerjaan, ya? Apa aku salah?"


"...."


"Kok diam? Tebakanku nggak salah, kan?" Ucap Bian lagi ketika Kinan yang justru terdiam.

__ADS_1


"I-iya." Jawab Kinan kemudian.


"Kalau begitu, apa ada yang mau kamu katakan padaku? atau.. Kamu menelfonku karena merindukanku?" Ujar Bian sedikit menggoda.


"Iya, saya merindukan anda."


Kinan yang langsung menjawabnya, bahkan tanpa keraguan di nada bicaranya, membuat Bian yang saat ini hanya mendengar lewat sambungan telfon memasang ekspresi terkejut disertai perasaan berdebar.


"Wah benarkah?" Balas Bian kemudian.


"Sebenarnya aku sedikit terkejut kamu mengatakanya dengan jujur, tapi itu membuatku bahagia, karena aku juga merindukanmu disini." Lanjutnya, yang merasa bahagia pada kejujuran Kinan.


"Kak, kapan kak Bian akan kembali kesini?" Tanya Kinan pada Bian.


"Kembali ke jogja maksud kamu?"


"Iya."


"Kenapa? Apa ada sesuatu disana?"


"Tidak, hanya saja.." Kinan menjeda kalimatnya. "Ah, bukan apa-apa kok, sebenarnya saya menelfon hanya karena ingin mendengar suara anda, jika anda sedang sibuk anda bisa melanjutkan kembali pekerjaan anda, saya juga akan..."


"Kinan, pasti ada sesuatu kan disana?" Ucap Bian merasakan sesuatu yang aneh pada Kinan.


Deg, hati Kinan tiba-tiba menjadi aneh karena ucapan Bian.


"Tidak kok, pak, ah maksudku kak Bian. Saya.. Tutup telfonnya ya, silahkan anda lanjutkan lagi pekerjaan anda, maaf jika saya telah mengganggu anda."


"Kamu nggak menggangguku.."


Dan tuut.., suara telfon pun langsung terputus sebelum ia melanjutkan kalimatnya. Bian yang melihat itu, tentu merasa aneh dan bertanya-tanya pada sikap Kinan yang tak biasa ini.


"Sepertinya memang ada sesuatu, tapi apa itu?"

__ADS_1


__ADS_2