
Berjalan dengan perasaan lebih tenang dari kemarin, Adel menuju ke kantor tempatnya bekerja dengan hati yang lega.
"Hari ini aku lebih senang." Ucapnya memulai menyalakan mobilnya.
Melajukan mobilnya pelan, dan bersenandung kecil di dalamnya, dengan mata yang terlihat berbinar, lalu wajah yang cerah terpancar dalam ekspresinya hari ini. Adelia terlihat lebih bahagia pada hari ini.
"Aku harus membuat surprise pada Bian." Gumamnya dengan penuh senyum.
...
Dalam hotelnya, Bian bekerja seperti biasanya, tak ada yang berubah dari hari-harinya, kecuali soal pikiranya beberapa hari belakangan ini, yang selalu teringat akan Kinan.
Ia bahkan hampir dibuat terus bergadang karena memikirkan itu. Dari memastikan nama dan identitas seorang Kinan, menjadi terus kepikiran, dan timbul rasa penasaran, hingga membuatnya tanpa sadar menaruh perhatian lebih pada Kinan, yang merupakan teman gadis kecilnya dulu.
"Kenapa aku bisa memikirkan dia terus?" Bingung Bian, "Aku bahkan tak terlalu mengenalnya?" Lanjutnya, yang teringat akan hubungan mereka yang hanya pernah kenal sewaktu kecil.
Dalam kebingunganya soal Kinan, dia dibuat tersadar pada kenyataan akan perasaanya pada Adel yang bertahan selama ini. Ada perasaan serba salah, namun juga ada sedikit kegoyahan dalam sudut hatinya.
"Maaf pak, saya datang membawa laporan untuk anda tanda tangani." Dimas datang menghentikan lamunan Bian.
Dimas memberikan sebuah berkas pada Bian dengan segera begitu dia masuk. "Soal tempat yang kemarin anda tanyakan pada saya, saya sudah menemukanya." Ucapnya setelah memberikan berkasnya pada Bian.
"Oh ya? Cepat juga. Baguslah, kalau begitu setelah ini kita pergi kesana saja." Balas Bian dengan segera menyelesaikan laporanya.
"Baik, kalau begitu setelah ini saya akan siapkan mobilnya segera." Kata Dimas, dengan cepat tanggapnya melaksanakan intruksi dari Bian.
Dimas keluar dari kantor sekaligus kamar Bian itu, setelah berkas yang dibawannya untuk Bian selesai ditanda tangani oleh Bian.
...
"Selamat Siang pak," Sapa Kinan melihat keberadaan Dimas.
"Selamat siang." Balas Dimas pada sapaan Kinan.
"Maaf pak Dimas, kalau saya mengganggu langkah anda, sebenarnya ada yang mau saya tanyakan pada anda." Ucap Kinan pada Dimas.
"Sama saya? Ada apa ya?" Tanya Dimas balik, dengan sedikit terkejut.
"Itu.. Sebenarnya saya mau tanya soal pak Bian, apa beliau ada diruangnya ya sekarang?" Jawab Kinan.
__ADS_1
"Oh pak Bian, beliau ada diruanganya. Tapi, kenapa anda mencari beliau? Apa ada masalah?"
"Oh tidak kok, saya hanya ada perlu sedikit sama beliau." Balas Kinan.
"Oh begitu, sepertinya kamu harus cepat kesana, soalnya sebentar lagi kita akan keluar." Jelas Dimas.
"Baik, terimakasih pak. Saya permisi kalau begitu." Ucap Kinan, yang mau pergi keruangan Bian.
Namun, belum sempat Kinan berjalan ke arah ruangan Bian, Kinan tiba-tiba saja dipanggil oleh seorang staff yang meminta bantuanya, hingga mengurungkan niatnya untuk menuju ke ruangan Bian.
"Duh, kenapa timingnya tidak pas gini, sih." Gumamnya yang lagi-lagi sulit untuk bertemu dengan Bian.
"Kamu tunggu disini sebentar ya, aku akan cepat kesana." Ucapnya pada staff tersebut dan kembali menghampiri Dimas yang sudah berjalan agak jauh dari pandanganya.
"Pak tunggu, maaf, saya benar-benar minta maaf." Ucapnya dengan nafas sedikit tersengal karena berlari mengejar Dimas. "Saya boleh menitipkan sesuatu pada anda, kan?" Ucapnya lagi, dan mengeluarkan sesuatu pada kantong sakunya. "Tolong berikan ini pada pak Bian, ya. Saya permisi, maaf kalau mengganggu perjalanan anda lagi." Kata Kinan yang berlalu pergi setelah memberikan sesuatu pada Dimas.
Dimas menatap bingung pada kotak kecil yang diberikan oleh Kinan. Menatapnya lekat-lekat kotak itu, lalu memasukannya pada kantong saku miliknya untuk segera keluar menyiapkan mobil untuk Bian.
...
"Kamu sudah menyiapkan mobilnya?" Tanya Bian pada Dimas, yang kembali menghampiri dirinya ke dalam ruanganya untuk melaporkan persiapan saat keluar.
"Yasudah, kita berangkat saja sekarang." Pinta Bian, lalu bangkit dari duduknya.
"Tunggu pak, itu.. Maaf, ada hal yang mau saya berikan pada anda." Cegat Dimas dan hendak mengeluarkan sesuatu pada kantong sakunya.
"Padaku? Soal apa?" Tanya Bian dengan ekspresi bingung.
"Saya mendapat titipan dari majaer Kinan tadi, beliau meminta saya memberikanya pada anda." Jelas Dimas, lalu memberikan kotak kecil itu pada Bian.
"Apa ini?" Tanya Bian meminta penjelasan pada Dimas.
"Itu, saya juga kurang tahu. Karena saya hanya memberikanya pada anda, begitu diminta olehnya." Jawab Dimas dengan ekspresi tak tahu.
Bian mentap lekat pada kotak kecil itu, ditatapnya penuh pertanyaan hingga akhirnya ia membuka kotak itu untuk melihat isi di dalamnya.
Tak ada ekspresi begitu ia membuka kotaknya. Begitu datar dan terlihat dingin.
"Kita pergi saja." Ucapnya kemudian pada Dimas, lalu menutup kembali kotak itu, dan menyimpanya begitu saja pada kantong sakunya.
__ADS_1
Ia berjalan keluar dari hotel dengan Dimas menuju tempat penjual kalung yang ia minta sebelumnya. Dengan setelan jasnya itu, ia terlihat gagah saat berjalan dan memancarkan aura yang mempesona.
Ia berpapasan dengan Kinan saat keluar bersama Dimas, diliriknya sekilas sebelum akhirnya benar-benar pergi.
"Apa pak Dimas sudah memberikannya pada pak Bian, ya?" Gumamnya ketika melihat kepergian Bian. "Beruntung banget tadi aku titipkan sama pak Dimas, kalau tidak nanti bisa jadi canggung kalau tiba-tiba aku mencegat beliau tadi." Lega Kinan menghindari hal memalukan yang hampir ia lakukan tadi.
......................
Di tempat yang berbeda, terlihat Adel begitu bahagia setelah memilihkan sebuah jam tangan untuk diberikan pada Bian. Setelah berputar pada beberapa toko untuk memilih jam terbaik yang sesuai seleranya, untuk diberikanya pada Bian sebagai hadiah. Adel merasa puas setelah ada jam yang begitu menarik perhatianya dan merasa akan sangat cocok dengan Bian nanti.
"Aku harap Bian suka sama hadiah dari aku." Ucapnya dengan perasaan senang setelah memastikan hadiahnya terpacking dengan rapi sampai nanti dikirim ke jogja, tempat Bian berada sekarang.
"Apa harusnya aku datang kesana, ya?" Gumamnya sedikit memikirkan kemungkinan itu. "Hem.. Boleh juga tuh, aku juga tidak pernah datang ke jogja sebelumnya." Ucapnya pada kemungkinan rencana untuk datang ke jogja.
...
"Maaf, ada yang bisa saya bantu?" Tanya penjaga toko pada Bian yang datang ke tempatnya.
"Saya mencari kalung. Tolong beri saya rekomendasi." Jawab Bian meminta penjaga toko untuk merekomendasikan kalung padanya yang tak tahu soal kalung.
"Kalung apa yang anda inginkan? Apa ini hadiah untuk pacar anda? Kalau iya, saya merekomendasikan yang ini?" Jawab penjaga toko itu dengan menunjuk sebuah kalung yang direkomendasikanya.
Bian terdiam begitu mendengar perkataan sang penjaga toko. " Apa kalung ini hanya diberikan untuk pacar?" Tanyanya kemudian.
"Oh, tidak juga sih, tapi biasanya seperti itu, karena desain kalungnya yang sangat cocok untuk diberikan pada orang terkasih. Dan kebetulan kalung ini yang paling banyak dipesan buat hadiah orang terkasih." Jelas penjaga toko itu.
Bian terdiam menatap kalung di depanya. Rekomendasi dari sang penjaga toko itu tampak menarik buatnya, karena ia yang tak tahu bisa dengan segera suka pada kalungnya.
"Kalau anda tidak suka, saya bisa memberikan rekomendasi pada kalung lainya." Tunjuk penjaga toko itu pada beberapa kalung untuk ditunjukkan pada Bian.
Aku bingung, aku benar-benar tidak tahu soal kalung. Semuanya terlihat bagus, apa yang harus aku pilih?
Bian terlihat kebingungan dengan pilihan yang disodorkan oleh penjaga toko padanya.
"Aku pilih ini saja." Ucapnya memilih kalung pertama.
"Anda tepat sudah memilih ini, karena kalung ini banyak peminatnya dan kebetulan tinggal satu ini." Kata penjaga toko mempacking kalungnya. "Terimakasih sudah membeli ditoko kami, saya harap pacar anda akan suka pada hadiahnya." Kata penjaga toko itu lagi, tersenyum senang dengan kunjungan Bian.
Pacar?
__ADS_1
Bian tersenyum tak percaya setelah mendengarnya.