
"Kamu mau balik ke apartemen sekarang?" Tanya mama Bian.
"Iya." Jawab Bian yang masih di rumah keluarganya.
"Yaudah, hati-hati ya, sering-sering buat mampir ke rumah nanti." Tutur mama Bian.
"Em.. pasti." Jawab Bian.
Keduanya pun turun ke bawah setelah dari kamar Bian.
Meski tak sehangat neneknya, mama Bian termasuk orang yang cukup perhatian kepada Bian, seenggaknya Gauri tak sekaku suami dan mertuanya.
Keluarga yang hanya tau soal bisnis itu terlihat kaku dan tak fleksibel di mata seorang Bian. Ketika dulu neneknya masih hidup, dialah orang yang selalu membuat suasana rumah lebih hangat dan hidup, dan juga yang membuat Bian betah di dalam rumah.
Papa dan kakeknya memiliki karakter yang sulit buat bersosial bahkan cara perhatianya terhadap keluarga adalah dengan sikap cuek dan kakunya.
Mereka berdua tak tau berkata manis maupun bersikap dengan hangat bahkan pada anak mereka, itu kenapa kakek dan juga papanya memiliki karakter yang sama. Mengingat hal itu terkadang membuat Bian tertawa.
"Saya ada urusan sebentar, mungkin nanti akan langsung pulang ke apartemen." Pamit Bian pada Kakek dan Papanya yang tengah duduk diruangan keluarga.
"Em.." Balas kakek singkat, sedangkan sang papa hanya mengangguk.
Bian tersenyum simpul melihat respon dari keduanya, meski sudah terbiasa dan tak kaget akan hal itu, namun terkadang Bian berharap ada kalimat yang agak panjang keluar dari mulut mereka.
"Sering-seringlah kesini, nenekmu pasti akan senang." Ucap kakek Brama agak malu-malu pada Bian yang hendak keluar.
"Baik." Balas Bian yang akhirnya mendengar kalimat panjang dari sang kakek. Bibirnya secara spontan menyunggingkan senyum.
"Kamu ada urusan apa malam-malam begini?" Papa Bian ikut menimpali.
"Ah.. saya mau ke rumah Adel."
__ADS_1
Raut wajah papa Bian agak mengkerut begitu mendengar kalimat itu, seolah tak suka.
"Adel anaknya Rudy?" Tanya kakek.
"Iya, yang dulu pernah bermain kesini waktu kecil."
"Yaudah pergi sana." Kata kakek menyuruh Bian segera pergi.
"Baik, saya pergi dulu." Pamitnya keluar pada keluarganya.
Hanya mamanya yang mengantar ia sampai ke depan pintu.
"Aku pergi dulu ma, mama sehat-sehat ya disini." Ucapnya sembari memeluk mamanya.
"Iya, kamu juga ya."
"Bye.." Pamit Bian sembari melambaikan tangan pada mamanya, dan dibalas oleh Gauri. Keduanya saling melambaikan tanganya.
Gauri menunggu hingga mobil Bian menjauh, baru ia masuk kembali ke dalam rumah.
...
"Kinanti Agustine." Ucapnya dengan panik sembari terus menggoyangkan tubuhnya yang pingsan.
Terbangun dalam nafas tak beraturan, Kinan bangun dari istirahatnya. "Kilasan apa tadi itu ya..." Gumamnya terbangun dari istirahatnya.
Karena kilasan itu yang tiba-tiba muncul dalam tidurnya, membuatnya terbangun dan terjaga dari tidurnya. Ia lalu menatap jam, yang ternyata masih menunjukkan pukul 8 malam.
Raut wajahnya menampakkan kelelahan, mengingat beberapa hari ini lembur karena pemimpin dari kantor pusat yang akan datang ke hotel.
Pembenahan dan detail kecil tak ia lewatkan sebagai penanggung jawab hotel, karena itu membuatnya sedikit kelelahan dan akhirnya pulang lebih cepat hari ini.
__ADS_1
...----------------...
17 tahun lalu.
Panti asuhan tampak kacau dan penuh dengan kepanikan, kobaran api dimana-mana.
Semua anak panti asuhan Cinta Kasih berhambur keluar dari dalam ruangan.
"Gimana nih.. apinya semakin besar, kenapa bisa tiba-tiba kebakaran sih." Kata seorang anak panti yang terlihat panik melihat panti asuhan mereka terbakar.
"Iya, semua terbakar api." Celetuk lainya sembari menangis.
"Eh, Ki-nan masih di dalam." Saut lainya dengan kepanikan, yang belum melihat sosok Kinan diantara mereka.
"Apa?" Jawab mereka bersamaan dan sedikit terkejut, lalu mencari disekeliling dan benar saja mereka tak menemukan keberadaan Kinan. Akhirnya membuat semua panik, dan ada satu yang memberanikan diri menghampiri ibu kepala panti.
"Bu.. bu ..," Panggilnya pada ibu Maria yang sedang mengevakuasi anak-anak yang masih terjebak di dalam. " Bu, Kinan masih di dalam." Ucapnya lagi menyampaikan pada ibu Maria selaku kepala panti asuhan yang tak mendengar panggilanya tadi.
Maria tentu saja kaget, karena ternyata masih ada anak-anaknya yang ada di dalam. Ia mencoba masuk ke dalam untuk mencari keberadaan Kinan. "Kalian tunggu disini ya, jangan kemana-mana, dan lari ke kobaran api." Pinta bu Maria yang hendak masuk ke dalam pada anak yang menghampirinya.
Namun belum sempat Maria masuk, Kinan sudah terlihat mau keluar dengan membawa sesuatu di tanganya. Dengan lari kecilnya dalam kobaran api yang semakin besar.
"Kinan awas diatasmu." Teriak lainya memperingati Kinan agar berhati-hati.
Ibu Maria berlari dan menarik paksa Kinan agar menjauh dari kobaran api dan runtuhan dinding.
Keduanya berhasil selamat, namun sempat mengenai sebuah bangunan hingga membuat Kinan pingsan dan ibu Maria terluka.
Darah yang mengalir di pelipis dan tangan bu Maria yang tengah berderai tak lagi di pedulikanya mengingat Kinan yang di peluknya tengah tak sadarkan diri.
Di tengah kekacauan itu, terlihat salah satu anak tampak ketakutan melihat panti asuhan penuh dengan api, lalu berlari menjauhi kekacauan itu.
__ADS_1
Ia berlari sambil menangis dan beberapa kali menggumamkan sesuatu dimulutnya.
"Aaaaahh...."