Teman Gadis Kecilku

Teman Gadis Kecilku
77. Akhirnya Mengakui


__ADS_3

"Em, pak." Kinan menghampiri Darren yang tengah menunggunya diluar.


"Apa kamu sudah selesai berbicaranya dengan teman kamu?" Ucap Bian melihat Kinan yang menghampirinya.


"Iya, saya sudah selesai berbicara dengan Aura." Balas Kinan.


"Kalau begitu, apa kamu mau pulang sekarang?" Tanya Bian kemudian.


"I-iya." Jawab Kinan agak ragu.


"Yasudah, ayo." Ujar Bian yang hendak ikut pergi.


"Ah, tunggu pak." Tahan Kinan pada Bian yang hendak pergi.


Bian menoleh ke arah Kinan, namun ekspresi Kinan justru memperlihatkan keraguan ketika hendak mengatakan sesuatu.


"Ada apa? Apa ada hal yang hendak kamu katakan padaku?" Tanya Bian.


"Itu.., anu..," Kinan terlihat gugup ketika hendak mengatakanya. "Itu.. saya.., sepertinya saya bisa pulang sendiri." Akhirnya Kinan berhasil mengatakanya, meski harus dengan sedikit terbata.


Mendengar jawaban dari Kinan, anehnya membuat Bian tersenyum. Ia bahkan tidak bisa menyembunyikan ekspresinya yang terlihat menahan ketawa.


"Aku tau kamu bisa pulang sendiri, tapi aku tetap mau mengantarkanmu pulang." Ucapnya kemudian, yang membuat Kinan berekspresi kaget.


Dalam rasa terkejutnya, Kinan menjadi diam terpaku ketika mendengar hal yang dilontarkan oleh Bian.


"Tadi, maksudnya apa ya?" Batinya dalam hati, seolah masih belum bisa mencerna maksud dari Bian.


Melihat Bian yang berjalan terlebih dahulu, dan meninggalkanya yang masih mencoba mencerna kalimat yang dilontarkanya, membuat Kinan terus saja bertanya-tanya akan itu, hingga tanpa sadar membuatnya terpaku.


Meski masih menunjukkan rasa bingung, dan ekspresi terkejutnya, Kinan mencoba menyusul keberadaan Bian yang telah berjalan terlebih dahulu darinya.


"Lho, Kinan. Kok, kamu bisa ada disini, sih?" Ucap seseorang ketika Kinan hendak melangkah keluar dari rumah sakit.


"Mas Bayu." Kinan sama-sama terkejutnya ketika tak sengaja berpapasan dengan Bayu, dan baru tersadar bahwa dirinya tengah berada dalam rumah sakit tempat Bayu praktek.


"Kenapa kamu ada dirumah sakit? Apa kamu sakit?" Tanya Bayu dengan ekspresi khawatir.

__ADS_1


"Ah, enggak kok mas. Kinan baik-baik saja, kebetulan tadi habis jenguk teman yang lagi dirawat disini." Jelas Kinan.


"Oh gitu, syukurlah kalau begitu. Mas Bayu sempat khawatir kamu kenapa-napa tadi." Ujar Bayu merasa lega begitu mendengar penjelasan dari Kinan.


"Iya, mas Bayu tenang saja, soalnya Kinan beneran baik-baik saja, kok. Dan, yang sakit itu rekan kerja Kinan, karena itu tadi Kinan menjenguknya kemari." Ujar Kinan mencoba memberikan penjelasan pada Bayu yang menghawatirkan kondisinya.


Namun, ketika mengobrol dengan Bayu yang tak sengaja ia temui ketika habis menjenguk Aura, agaknya Kinan sedikit melupakan keberadaan Bian yang saat ini tengah menunggu keberadaanya yang tak kunjung muncul juga.


"Duh, gawat. Aku lupa pak Bian kan sedang menungguku." Ucapnya dalam hati begitu mengingat hal yang ia lupakan itu.


"Kinan pamit dulu ya, mas. Soalnya Kinan masih ada kerjaan." Kata Kinan yang hendak segera menyusul Bian, meski harus sedikit berbohong soal sosok Bian yang mengantarnya kemari.


"Oh begitu, yasudah hati-hati kamu di jalan." Bayu pun membiarkan Kinan pergi, meski sebenarnya ingin menahanya sedikit lebih lama lagi.


"Sepertinya dia benar-benar terburu-buru." Gumamnya melihat Kinan yang pergi dengan ekspresi sedikit panik.


...


Tentu saja hal itu membuatnya berekspresi panik, mengingat ia yang sudah membuat Bian menunggu dirinya. Meski sebenarnya ia tak menginginkan untuk di antar pulang oleh Bian, namun karena Bian yang kekeh membuatnya tak lagi bisa menolak.


"Kamu sudah selesai berbicaranya dengan dokter itu?"


Kinan menatap kaget melihat Bian datang dari arah belakangnya, ketika ia yang hendak menghampirinya ke tempat parkiran.


"Eh," Namun, Kinan tampak terkejut ketika Bian tau soal dirinya yang sempat berbincang dengan Bayu tadi.


"Iya, saya sudah selesai. Maaf ya, pak. Jika tadi anda menunggu agak lama, soalnya tadi saya sempat berpapasan dengan orang yang saya kenal disini." Sambung Kinan mencoba menjelaskan maksud keterlambatanya.


"Sepertinya kamu dekat sekali dengan dokter itu, ya?"


"Iya, meski dulu hanya senior saya dikampus, tapi sekarang dia sudah seperti kakak bagi saya."


"Kalau begitu, aku yang ada di depanmu saat ini, akan di anggap apa oleh Kinan?"


"Eh.."


Saking terkejutnya, sampai membuat Kinan tak bisa berkata-kata.

__ADS_1


"Coba panggil kakak mulai hari ini, soalnya aku tak mau dipanggil pak kalau lagi berdua dan diluar kerja begini."


Kinan sedikit kesulitan ketika mendengar hal yang dilontarkan oleh Bian dengan tiba-tiba itu, ia bahkan tak bisa mengkondisikan ekspresinya yang sekarang berubah gugup. Ia menjadi canggung hanya dengan menatap wajah Bian.


Ekspresi bingungnya, tak lepas dari pengamatan Bian yang kebetulan tengah berdiri di depanya langsung. "Tidak harus sekarang, kamu bisa melakukanya pelan-pelan. Aku akan menunggu saat Kinan memanggilku kakak seperti dulu." Ucapnya kemudian mencoba membuat Kinan agar tak terlalu terbebani dengan permintaanya.


"Kakak? Bagaimana aku bisa memanggil beliau begitu! Lagipula itu sudah 21 tahun yang lalu!"


Kinan telihat berdebat dengan pikirannya sendiri. Selama dalam perjalanan pulang, ia bahkan terlihat lebih banyak melamunkan permintaan Bian yang tiba-tiba saja menyuruhya memanggilnya kakak.


"Apa kamu masih memikirkan permintaaku tadi?" Tanya Bian yang menyadari Kinan terlihat tak banyak bicara dan cenderung melamun.


"Ah, itu.." Kinan terlihat kesulitan ketika hendak menjawab.


"Tidak usah terlalu dipikirkan, aku kan sudah bilang pelan-pelan saja." Ujar Bian tenang.


Wajah Kinan tetap merasa tak nyaman akan jtu, meski Bian menguruhnya berpikir pelan-pelan. "Pak, itu.."


Ciit... Bian memilih menghentikan mobilnya begitu mendengar Kinan yang hendak mengatakan sesuatu padanya.


Kinan menoleh ke arah Bian yang tengah menghentikan mobilnya. Raut wajahnya mengisyaratkan banyak pertanyaan pada Bian yang duduk disampingnya. "K-kenapa kita berhenti, apa terjadi sesuatu di depan." Tanya Kinan kemudian.


"Tidak ada apa-apa. Tadi, bukanya kamu ingin mengatakan sesuatu padaku? Karena itu aku menghentikan mobilnya." Jawab Bian.


Kedua bola mata Kinan menatap gugup wajah Bian. Ia bahkan memalingkan wajahnya segera, begitu mendengar jawaban dari Bian. Dengan sekuat tenaga, Kinan mencoba menenangkan ekspresinya yang tengah gugup.


"Pak," Kinan akhirnya memberanikan diri menoleh ke arah Bian, namun wajahnya tambah gugup ketika melihat Bian yang tengah menyenderkan kepalanya pada setir mobil, dan tengah menatap lekat wajahnya sambil tersenyum.


Terjadi keheningan sejenak, ketika mata keduanya bertemu, hingga menciptakan suasana yang sangat canggung, terutama bagi Kinan yang menatapnya.


"Itu, tadi saya hanya ingin bilang untuk diturunkan dekat perempatan saja." Ucap Kinan kemudian mencoba mengalihkan kecanggunganya.


"Apa kamu tidak penasaran kenapa aku bersikap begini?"


Kinan terdiam, karena sejatinya hal itu yang hendak ia katakan sebelumnya, namun tertunda karena terlalu gugup menatap Bian tadi.


"Itu karena aku tertarik padamu."

__ADS_1


__ADS_2