Teman Gadis Kecilku

Teman Gadis Kecilku
125. Kejutan


__ADS_3

Setelah obrolan Kinan bersama Bian selesai dan terputus, Dimas yang saat ini masih berada di depan kosan milik Kinan langsung mendapat panggilan dari Bian yang memintanya untuk segera pergi dari kosan Kinan. Meski terkejut setelah mendengar perintahnya, Dimas langsung mengiyakan perintah dari Bian tanpa bertanya alasan maupun menolaknya.


"Maaf, sepertinya saya harus segera pergi, karena pak Bian memberi kabar terbaru pada saya, beliau bilang kalau saya tidak jadi menjemput anda sekarang." Ujar Dimas begitu selesai mengakhiri obrolanya bersama Bian dan beralih menatap Kinan.


"Ah, iya tidak apa kok, pak." Balas Kinan yang sedikit merasa tak enak pada Dimas yang sudah terlanjur datang ke kosannya.


"Kalau begitu saya permisi dulu, maaf sudah menggangu anda." Pamit Dimas hendak pergi.


"Iya, pak." Balas Kinan membiarkan Dimas pergi dari kosan bersama mobilnya.


Kinan menatap Dimas yang telah pergi, hingga mobilnya tak lagi terlihat oleh matanya. Ia diam membatu di depan kosannya, memikirkan kembali sikap Bian yang terasa aneh baginya, terlebih pada maksud dan tujuan dari Bian yang tak dimengerti olehnya.


"Sebenarnya rencana apa yang akan dilakukan oleh beliau, ya?" Gumamnya yang terus kepikiran soal tujuan Bian sebenarnya.


Setelah merenung dan terpaku di depan kosan, ia pun memilih masuk kedalam kosan miliknya, meninggalkan rasa penasarannya pada rencana dan tujuan Bian melakukan hal ini padanya.


....


Di tempat berbeda, Bian yang masih berada di rumah keluarganya, tampak tersenyum di dalam kamarnya setelah panggilan telfonnya dengan Kinan berakhir.


"Dia pasti sedang bingung sekarang." Gumamnya begitu telfon terputus.


Sembari tersenyum hanya dengan memikirkan wajah Kinan, Bian yang saat ini tengah berada di dalam kamarnya, termenung memikirkan sesuatu tentangnya. Ekspresinya tampak serius dan penuh pertimbangan saat memikirkannya. Soal rencana yang ingin mengajak Kinan ke rumah dan memperkenalkan pada keluarganya, Bian terlihat mempertimbangkanya lagi. Meski tak ingin terburu-buru dan membuat Kinan tak nyaman karena hal itu, namun ada hal yang ingin ia buktikan pada Kinan terhadap keseriusanya dalam hubungannya ini.


"Aku tau kalau dia masih banyak keraguan dan pertimbangan soal hubungan ini, karena itu, aku ingin membuktikan padanya soal keseriusanku padanya." Ujar Bian penuh kayakinan.


"Tapi, apa nanti dia bakal marah padaku karena ini terlalu mendadak dan terburu-buru?" Ucapnya lagi memikirkan reaksi Kinan nanti.


Ia yang sudah memberi perintah pada Dimas untuk kembali, dan sudah mengatakan dengan jelas pada Kinan melalui sambungan telfon bahwa dia yang akan menjemputnya sendiri, kini tengah memikirkan waktu yang tepat untuk bertemu dengan Kinan, terlebih alasan yang akan ia katakan saat nanti bertemu dengan Kinan secara langsung.

__ADS_1


Sebelum itu, ada acara penting yang harus ia datangi dalam waktu dekat, hingga membuat Bian memikirkan kapan waktu yang tepat untuk bertemu dengan Kinan.


"Apa besok saja ya aku menemuinya? Toh acaranya masih ada satu hari lagi." Ujarnya.


Acara ulang tahun Adel yang akan di adakan dalam waktu dekat ini, dan tepatnya besok lusa membuat Bian susah untuk meninggalkan acara tersebut, terlebih acara itu penting untuknya karena merupakan acara dari teman baiknya, dan kalau tidak datang akan membuatnya mendapatkan masalah.


"Baiklah, aku sudah memutuskan untuk datang besok." Tutupnya.


......................


Tak ada bayangan, tak ada harapan dan tak juga ada dalam pikiran ia sebelumnya, orang yang ia rindukan kini justru berada tepat di depanya tanpa ia ketahui kabar kedatanganya.


"Pak, Bian, anda sudah kembali." Ujar Kinan terpaku melihat keberadaan Bian.


"Iya, aku kembali." Balas Bian tenang sembari melemparkan senyuman.


Ekspresi wajah yang masih terkejut, dengan bola mata yang menatap tak percaya pada orang di depanya, dan tubuhnya yang mematung karena kehadiranya.


"Ah, maaf, soalnya saya sedikit tidak percaya dan terkejut melihat anda disini." Balas Kinan yang akhirnya menyadari kesalahanya.


Bian justru tersenyum mendengarnya.


"Kemarin malam aku kan sudah bilang sama kamu, kalau aku akan menjemputmu sendiri, jadi aku harus datang dong." Balas Bian yang kini sudah berdiri dekat dengan Kinan.


"Iya, kemarin anda memang bilang begitu, tapi saya tidak menyangka akan langsung datang begini."


Sedikit malu di depan Bian yang jaraknya cukup dekat denganya, Kinan tampak tak berani menatap langsung mata Bian yang sedang menatap dirinya.


"Bukankah alasanya sudah jelas." Ucap Bian menatap Kinan di depanya.

__ADS_1


"Maaf.." Kinan yang tak mengerti, menatap Bian dengan ekspresi bingung.


"Itu karena aku merindukanmu, makanya aku datang langsung kesini." Ungkap Bian.


Kinan tersenyum canggung mendengar pengakuan Bian. Wajahnya sedikit merona karena ucapanya, namun ia memilih mengontrol ekspresinya di depan Bian, karena sedikit malu dan canggung.


"Ada satu hal yang ingin aku lakukan saat bertemu denganmu." Ujar Bian menatap wajah Kinan dengan eskpresi penuh makna.


Tubuhnya tiba-tiba semakin dekat, hingga membuat Kinan canggung untuk menatapnya. Kinan ingin mundur, namun tubuhnya tak mau bergerak dan hanya bisa diam menatap Bian yang semakin mendekatkan wajahnya.


Sebuah ciuman mendarat ke bibirnya dengan lembut, dan ia hanya bisa menerimanya tanpa penolakan, tangan hangat yang menyentuh wajahnya dengan lembut, membuatnya terhanyut dalam suasana.


Ia yang masih membuka matanya, kini menutupnya dan menikmati ciumannya bersama Bian. Dengan ragu, ia melingkarkan tanganya pada pinggang Bian, hingga membuat Bian sedikit membuka matanya dan semakin memperdalam ciumannya karena Kinan meresponya.


Di dalam kamar hotel milik Bian, berciuman di dalam bersama kekasih yang dirindukan menambah kesan romantis bagi keduanya, terlebih karena mereka berdua yang masih di mabuk asmara. Ciuman itu seakan melepas rasa kerinduan keduanya.


....


Ini bukanlah ciuman pertama bagi Kinan, karena sebelumnya dia sudah pernah berciuman dengan Bian, namun ada yang sedikit berbeda dengan ciuman yang saat ini ia lakukan bersama Bian, karena ia merasa kali ini intensitasnya lebih lama, dalam dan terkesan berbahaya.


"Tunggu.., ini terlalu bahaya.."


Mereka berciuman sedikit lama dari ciuman yang dulu mereka lakukan, hingga membuat Kinan merasa tak nyaman karena membuatnya kehabisan nafas dan tubuhnya yang bergetar karena sedikit takut.


"Eumm.." Sembari mengeram, Kinan mencoba memukul dada Bian untuk menghentikan ciumanya. "Ha..." Kinan memegangi bibirnya yang habis berciuman dengan Bian, ia menatap Bian dengan nafasnya yang tersengal karena ciuman Bian yang cukup intens.


"Aku minta maaf, mungkin ini karena aku terlalu bersemangat." Ujar Bian melepas ciumanya dan segera menyadari kesalahannya ketika melihat ekspresi Kinan yang terlihat tak nyaman.


Ia pun beralih memeluk tubuh Kinan yang sedikit tak nyaman karena apa yang ia lakukan.

__ADS_1


"Dasar binatang, hampir saja kamu melakukan kesalahan fatal."


Dalam hatinya, Bian mengutuk dirinya sendiri yang hampir saja melewati batas.


__ADS_2