Teman Gadis Kecilku

Teman Gadis Kecilku
135. Merelakan Kepergian


__ADS_3

"Apa kamu marah padaku?"


Melihat Kinan yang jadi diam begitu ia selesai menjelaskan tentang rencana yang mengharuskanya kembali ke kantor pusat karena permintaan papanya, bertanya padanya yang saat ini tengah diam termenung.


"Ah, maaf. Sa-saya tidak apa kok, pak. Lagi pula saya tau kalau anda tidak mungkin berada dihotel cabang terus menerus, kan? terlebih alasan kedatangan anda semula karena ingin mengisi posisi yang ditinggalkan oleh pak Roy yang memilih mengundurkan diri dari hotel."


Tersadar dari lamunanya, Kinan pun akhirnya membalas pertanyaan Bian yang menanyakan tentang tanggapanya seputar berita tentangnya yang harus kembali lagi ke kantor pusat.


Meski berat, namun Kinan tak bisa protes ataupun melarang Bian yang hendak kembali, terlebih ia pun sudah menyadari sedari awal saat kedatanganya ke hotel, bahwa Bian suatu hari nanti pasti akan kembali lagi ke kantor pusat. Mengingat alasan kedatangan Bian hanya bertugas sementara dalam menghandle hotel yang ditinggalkan oleh pemimpin sebelumnya sampai hotel kembali stabil dan menemukan pemimpin baru.


"Aku tau kamu pasti akan menjawabnya begini." Ujar Bian menghela nafas kecewa mendengar jawaban Kinan tentang kepindahanya nanti ke kantor pusat.


Seperti sudah memprediksi jawaban Kinan sebelumnya, ia yang berharap ada sedikit perubahan dalam reaksi Kinan tentang kepindahanya nanti, membuatnya sedikit kecewa dan agak sedih, karena sejatinya ia ingin mendengar Kinan membujuknya untuk tak pindah atau melihat Kinan yang sedang merajuk padanya.


"Padahal aku sedikit berharap kamu akan menahanku untuk pergi, atau setidaknya kamu marah padaku." Ujarnya menatap Kinan penuh harap, dengan tatapan lembutnya ia ingin sekali melihat Kinan bertindak lebih manja padanya layaknya seorang pacar biasanya.


"Saya kan tidak ada hak untuk melakukan itu pada anda?" Balas Kinan.


"Kenapa kamu bilang tidak ada hak?, bukankah sekarang kamu itu pacarku? Artinya kamu ada hak untuk melakukanya?" Jawab Bian.


"Apa jika saya melakukan seperti apa yang anda katakan, maka jawabanya akan berbeda?"


Bian terdiam, karena ia menyadari betul bahwa jawabanya akan tetap sama meski sekalipun Kinan merengek padanya untuk tidak pergi.


"Meski endingnya tetap sama, setidaknya aku ingin melihat kamu memperlakukanku layaknya seorang pacar pada umumnya, bukanya sebagai atasan kamu." Ujarnya yang ingin melihat Kinan memperlakukanya sebagai pacarnya bukan sebagai atasanya.


Saat ini ia menyadari betul bahwa Kinan masih cukup merasa canggung denganya, hingga sering kali bersikap formal dan sedikit kaku saat berbicara denganya, dan hal itulah terkadang membuatnya terganggu, karena saat Kinan berbicara denganya seperti sedang berbicara denganya atasanya yang kaku, dan bukanya dengan kekasihnya yang ia cintai.


Walaupun ia sudah mencoba mengerti dan membiarkan hal itu begitu saja, dengan menunggu sampai Kinan terbiasa dengan sendirinya, namun ada kalanya perasaan itu membuatnya terganggu.

__ADS_1


"Haruskah kita menikah sekarang?"


"Eh, maaf?" Kinan tertegun mendengarnya, dengan dua bola matanya yang nampak terkejut mendengar permintaan Bian yang tiba-tiba.


"Aku ingin mendengar kamu memanggil namaku dengan nyaman, bersikap sedikit lebih santai di depanku, dan juga berhenti memanggilu dengan sebutan bapak." Ujarnya yang tak ingin melihat Kinan terlalu kaku di depanya.


Kinan tertegun dengan Bian yang semakin mendekatkan dirinya, dengan ekspresinya yang tampak tak puas dengan jawaban yang ia berikan untuknya.


"Kamu sudah selesai makan, kan?" Ucapnya kemudian.


"I-iya." Angguk Kinan.


"Baiklah, kita berangkat sekarang." Ujarnya dengan senyum tipisnya yang terlihat menggoda.


.....


Namun, kesibukan yang telah mencairkan semuanya, karena tak adanya Dimas yang berada disisinya, membuatnya membawa Kinan ke kantor pusat dengan membantunya menyelesaikan tugas yang ada.


Walaupun kehadiran Kinan telah banyak menarik perhatian dan pandangan orang-orang sekitarnya, namun Bian tampak tak perduli ataupun berniat menjelaskanya lebih lanjut, mengingat ia lebih fokus pada pekerjaannya yang hampir selesai.


"Apa kamu merasa terbebani selama disini?" Tanya Bian pada perasaan Kinan yang berada dikantor pusat bersamanya.


"Tidak juga, mungkin saya hanya merasa gugup saja." Jawab Kinan jujur, yang sebenarnya memang sedikit gugup datang ke kantor bersama Bian, terlebih banyak yang memandangi kedatanganya saat berjalan bersama Bian.


"Maaf ya karena harus membuat kamu datang kesini, soalnya ada hal yang ingin aku lakukan dengan membawa kamu kesini. Meski semuanya tidak jauh-jauh dari pekerjaan juga." Ujar Bian sedikit merasa bersalah.


"Ah, iya, saya tidak apa kok, pak. Selama saya bisa membantu, dengan senang hati akan saya lakukan." Balas Kinan yang tak merasa keberatan sama sekali.


"Terimakasih, ya." Senyum Bian mengembang menutup obrolan keduanya.

__ADS_1


......................


Malam pun akhirnya datang, dan tibalah Bian yang harus menghadiri pesta ulang tahun dari temanya Adel, meninggalkan sejenak Kinan yang masih berada diapartemenya.


"Kamu gapapa kan kalau aku tinggal, mungkin nanti aku akan lama berada disana." Ujar Bian yang lebih dulu mendatangi Kinan untuk pamit padanya sebelum pergi, terlebih ia juga ingin mengambil hadiah untuk Adel yang ia simpan diapartemenya.


"Iya, saya tidak apa, anda tidak perlu khawatir soal itu, karena saya baik-baik saja disini sendirian." Jawab Kinan yang tak merasa keberatan.


"Kalau ada apa-apa hubungi saja aku." Ucapannya itu mendapat anggukan kecil dari Kinan.


Melangkah lebih dekat pada kekasihnya itu, satu kecupan manis ia daratkan pada bibir manis Kinan. Namun, seolah terbawa oleh suasana yang begitu mendebarkan, keduanya pun akhirnya memperdalam ciumanya.


Selang beberapa saat setelah berciuman. Keduanya melepaskan diri dan saling memeluk dalam diam dengan perasaan yang saling mendebarkan. Bian mempererat pelukanya dengan Kinan, dan terlihat enggan untuk beranjak pergi.


"Tidak bisa begini, aku harus segera memberitahu keluargaku agar segera meresmikan hubunganku dengan Kinan." Ujarnya dalam hati yang ingin mengikat Kinan dengan segera.


Meski sedikit enggan, ia pun melepaskan pelukanya. "Aku ingin pergi sekarang, tapi aku juga tidak mau pergi dari sini." Ucap Bian yang tampak tak mau pergi meninggalkan Kinan.


"Kalau kakak nggak pergi, nanti katanya teman kakak akan marah sama kakak?" Ucap Kinan mengingatkan.


"Iya sih, tapi aku tetap nggak mau pergi." Ujarnya yang malah mendusel pada Kinan, membuat Kinan jadi terpaku dengan sikap manja Bian.


Setelah mendapatkan energi dari Kinan, dengan sedikit enggan ia pun akhirnya pergi ke pesta Adel.


"Aku pergi dulu ya." Ujarnya memberi satu kecupan manis dikening milik Kinan.


Dan akhirnya tepat pukul 08.00 malam, Bian pergi dari apartemennya menuju pesta ulang tahun Adel. Kinan yang ditinggal oleh Bian sendirian di dalam apartemen miliknya, hanya berdiam diri dengan rasa kesepianya berada dalam ruangan yang luas itu.


"Aku masih belum terbiasa tinggal disini." Tuturnya.

__ADS_1


__ADS_2