Teman Gadis Kecilku

Teman Gadis Kecilku
134. Berita Baik dan Buruk


__ADS_3

Esoknya, Kinan yang masih ada di dalam apartemen Bian, terlihat tak bisa menikmati malamnya karena terlalu bahagia dengan hal yang baru saja terjadi denganya. Ia tampaknya masih tak menyangka mendapatkan lamaran dari Bian.


"Ini beneran, kan?" Masih tak percaya ia pun mencoba mencubit pipinya sendiri. "Auwh.. sakit." Keluhnya merasa kesakitan pada pipi kirinya.


Tersadar kalau itu bukanlah mimpi, dengan tangan yang masih memegangi pipi kirinya yang terasa sakit karena cubitan, Kinan nampak bengong dengan kenyataan yang baru saja ia pastikan sendiri.


"Ternyata ini memang bukan mimpi."


"Apanya yang bukan mimpi?" Masuknya Bian kedalam apartemen membuat Kinan terkejut dan langsung menoleh ke arahnya, mengingat kedatanganya yang begitu mengejutkannya dan bahkan ia tak mendengar suara langkah kakinya ketika masuk kedalam.


"Oh, anda sudah datang. Apa sebaiknya kita berangkat sekarang?" Ucap Kinan pada Bian yang hari ini memang berniat pergi ke kantor pusat bersama.


"Kamu belum jawab pertanyaanku, apa maksud dari bukan mimpi yang kamu katakan tadi?" Balas Bian yang berbalik bertanya karena masih penasaran dengan perkataan yang ia dengar tadi.


"Ah, bukan apa-apa kok, tadi saya cuma bergumam saja, bukan hal yang penting kok." Elak Kinan yang agak enggan untuk mengatakan dengan jujur pada Bian, karena merasa malu menceritakan apa yang sedang ia pikirkan tadi.


"Serius?" Bian yang masih belum terlalu yakin dengan jawaban Kinan, kembali bertanya untuk memastikanya lebih jelas.


"Iya, benar kok." Namun, Kinan hanya menjawab singkat dengan anggukan kecilnya.


"Yaudah deh, aku nggak akan maksa kamu lagi. Sebelum kita berangkat ke kantor, aku sengaja datang lebih pagi untuk membawakan kamu sarapan, soalnya dikulkasku jarang ada makanan, takutnya kamu nggak bisa makan nanti."


Tak lagi mempermasalahkan apa yang digumamkan oleh Kinan tadi, Bian yang datang lebih pagi untuk mengunjungi Kinan yang tinggal di apartemenya, membawakan Kinan sebuah makanan dari rumah.


"Ini makanan dari mamaku, jadi gimana kalau kita makan sekarang? Soalnya aku juga belum sarapan." Ujarnya lagi mengajak Kinan untuk makan bareng.

__ADS_1


"Iya."


Kinan pun mengiyakan ajakan Bian dan bersama-sama menuju dapur untuk sarapan bersama.


.....


"Malam nanti aku harus datang ke pesta ulang tahun temanku, kamu tidak keberatan kan kalau jadwal kita kembali sedikit tertunda? Lagipula Dimas sudah kutugaskan untuk menghandle sementara hotel cabang, jadi masih cukup aman juga buat kamu." Ujar Bian disela sarapan mereka.


"Iya, saya tidak merasa keberatan. Tapi, teman yang anda maksud itu, apakah teman dekat anda yang ada disalah satu foto yang pernah kulihat dikamar?" Balas Kinan yang tak merasa keberatan dan lebih tertarik pada teman Bian.


"Iya, kamu benar. Tapi, yang mengadakan pesta ulang tahun hari ini adalah temanku yang bernama Adel, karena itu aku harus datang ke pestanya, karena kalau tidak, dia pasti akan ngambek dan marah sama aku." Ungkap Bian.


Kembali teringat pada salah satu teman Bian yang sedikit menarik perhatianya, Kinan jadi mencoba memikirkan kembali sosok teman Bian yang baginya terasa familiar itu. Sosok Adel yang ia lihat dalam foto masa kecil Bian membuatnya teringat ssosok yang dulu pernah ia kenal.


"Iya, mungkin lebih tepatnya saat aku berumur 10 atau 11 tahun gitu, aku juga agak lupa soal itu. Yang jelas saat umurku segitu aku mulai mengenal Adel dan jadi dekat sama dia sampai sekarang." Jelas Bian.


"Oh iya, kalian berdua seumuran lho, karena aku ingat saat itu aku dan Adnan beda 3 tahun sama Adel, dan dulu dia juga memanggilku kakak seperti kamu memanggilku, cuma sekarang sudah enggak, sih." Ujarnya lagi sedikit tertawa ketika mengingat awal pertemuannya dengan Adel dulu.


Mendengar penjelasan Bian, Kinan menjadi yakin akan satu hal, tapi juga tak terlalu yakin tentang itu. Mengingat ia hanya sekilas melihatnya dalam sebuah foto. Namun, samar-samar ingatan tentang Adel yang terlihat seperti orang yang ia kenal dulu membayangi pikiranya.


"Kapan-kapan aku akan memperkenalkan kamu sama mereka, soalnya aku ingin mereka tau soal hubungan kita." Kata Bian, yang berkeinginan memperkenalkan Kinan pada kedua sahabatnya.


Kinan hanya tersenyum mendengar itu, karena tak tau harus menjawab apa. Namun, rencana Bian yang hendak memperkenalkanya pada kedua temannya, sedikit membuatnya antusias, karena ia juga ingin bertemu dengan Adel secara langsung.


"Aku nggak terlalu yakin soal ini, tapi wajah itu sedikit mengingatkanku pada seseorang." Batinya ketika memikirkan wajah Adel yang terasa familiar.

__ADS_1


.....


Tak lagi melamunkan soal Adel, Kinan pun kembali melanjutkan sarapannya, ditemani oleh Bian disampingnya. Memakan makanan rumah yang begitu ia rindukan, membuat perasaanya senang karena bisa merasakanya lagi setelah sekian lama.


"Aku belum cerita sama kamu soal berita buruk dan baik yang sempat kukatakan beberapa hari lalu, kan?" Ucap Bian yang tiba-tiba teringat pada isi pembicaraannya beberapa hari lalu dengan Kinan, sebelum kedatanganya kesini.


"Iya," Jawab Kinan, yang tiba-tiba jadi tegang setelah Bian mengatakan itu.


"Aku rasa berita baiknya sudah kukatakan kemarin malam, soal lamaran yang kukatakan padamu. Sekarang tinggal mengatakan berita buruknya, apa kamu tidak apa jika aku mengatakanya sekarang?" Tanya Bian memastikan Kinan tak merasa terbebani atau perasaan kurang nyaman saat ia hendak menjelaskan berita buruknya.


Kinan diam mendapatkan ucapan seperti itu dari Bian, ia yang memang sudah mempersiapkan hati untuk ini, namun saat akan mendengarnya, tiba-tiba saja perasaanya jadi tegang dan sedikit takut. Hal yang ia khawatirkan sejak beberapa hari lalu, akhirnya akan ia dengar secara langsung dari Bian hari ini.


"Iya, saya tidak apa. Anda bisa mengatakanya sekarang." Ucapnya kemudian. Meskipun sedikit ragu, ia pun mempersilahkan Bian untuk mengatakan berita buruk itu padanya.


"Baiklah kalau kamu merasa tidak keberatan. Jadi, yang sebenarnya ingin kukatakan sama kamu adalah.." Bian pun juga terasa berat untuk menjelaskannya pada Kinan, terlebih ia baru saja melamarnya, takutnya akan malah merusak momen bahagia itu.


"Maaf, mungkin ini akan sedikit menyakitkan untuk di dengar, tapi aku tidak ingin menutupinya lagi dari kamu." Ucapnya memulai pembicaraan.


Kinan yang duduk tepat disampingnya, hanya diam menunggunya bicara.


"Keluargaku sudah menyetujui hubunganku denganmu, tapi ada satu syarat dari mereka yang harus kulakukan, dan syarat itu adalah.., dengan aku yang harus kembali lagi ke kantor pusat." Jelasnya akhirnya.


Terdiam karena penjelasan itu, Kinan sampai tak tau harus memberikan tanggapan seperti apa. Hal yang ia khawatirkan itu, kini benar-benar terjadi.


"Ah..."

__ADS_1


__ADS_2