Teman Gadis Kecilku

Teman Gadis Kecilku
98. Rencana Bian Pada Kinan


__ADS_3

Hari keberangkatan pun tiba, kini Bian akan kembali kerumah orang tuanya. Setelah mengatakan kalimat perpisahannya sebelum berangkat pada Kinan kemarin malam, entah mengapa hari ini membuatnya jadi lebih banyak diam. Selama dalam pesawat, ia hanya termenung dengan ekspresi wajahnya yang cenderung tak bersemangat.


"Maaf, pak. Apa kita nanti akan langsung menuju rumah, atau justru ke apartment?" Tanya Dimas yang duduk disebelahnya.


"Kita ke apartmentku dulu saja, soalnya aku mau istirahat sebentar sebelum ketemu papa. Tadi malam aku gak bisa tidur soalnya." Bian yang lagi merenung, menoleh sebentar ke arah Dimas yang duduk disampingnya.


"Baik."


Pembicaraan keduanya pun terputus begitu saja, dan suasana kembali menjadi hening di antara mereka. Dalam perjalanannya kembali kerumah, setelah hampir lebih dari 3 bulan ia berada dikota jogja, entah mengapa hatinya merasa tak nyaman ketika pergi meninggalkan kota itu.


Perbincangan yang ia lakukan saat bersama Kinan kemarin, agaknya membuat Bian terus kepikiran, hingga terus saja membuatnya tak fokus. Kalimat yang ia terus fikirkan adalah soal pernyataan yang Kinan katakan padanya, yaitu soal pernikahan.


Pernikahan? Hm...


Bian terus merenungkan soal pernikahan itu selama perjalanannya kembali dari kota jogja.


...


Usianya sudah mau memasuki usia yang ke 30. Usia dimana sudah cukup matang bagi dirinya yang kini sudah mapan dalam pekerjaan. Karena tak pernah menjalin kisah bersama seorang perempuan sebelumnya, rencana akan pernikahan belum pernah terlintas dalam pikirannya.


Karena terus bersama dengan kedua sahabatnya, dan fokus pada kuliah dan pekerjaanya, membuat Bian tak memikirkan rencana masa depan miliknya. Karena untuk mendapatkan orang yang ia suka, ia memilih untuk menaikan posisi dirinya dengan menstabilkan profesinya terlebih dahulu. Namun, langkahnya ternyata malah menjauhkanya pada orang yang ia suka, hingga akhirnya berakhir dengan bertepuk sebelah tangan.


Saat perasaan sukanya tak terbalas oleh Adel, yang merupakan temannya dari kecil, sempat membuatnya berfikir tak akan bisa menyukai seseorang lagi, karena perasaannya saat itu ia yakini sudah begitu tulus, terlebih ia sudah menunggu jawaban dari rasa sukanya dalam waktu yang cukup lama. Namun, tiba-tiba saja kehadiran Kinan bisa membuatnya merubah pandangannya. Dengan identitas Kinan, yang merupakan teman gadis kecilnya yang ia kenal dulu, telah mampu mendekatkan dirinya pada Kinan dan membuka kembali perasaanya yang sempat terluka karena tak terbalasnya perasaanya.


Yang membuatnya akhirnya mengetahui tentang arti dari perbedaan rasa suka dirinya pada Adel dan juga Kinan itu sendiri, yang ternyata cukup berbeda arti dan perasaanya. Meski rasa itu terlambat ia ketahui karena masih tak meyakini perasaanya sendiri, namun begitu tau membuat Bian semakin yakin akan perasaanya yang sempat ia ragukan itu.

__ADS_1


"Aku memang menyukai Adel, namun aku baru tau kalau aku tidak mencintainya."


Dalam renunganya, ia kembali mengingat akan perasaan sukanya pada Adel, yang dulu begitu ia suka dan tunggu jawaban darinya. Namun, ia tak mengira bahwa itu bukanlah rasa cinta yang ia fikirkan selama ini. Ia menyukainya, namun disatu sisi juga tak begitu menginginkanya.


"Aneh, padahal ku kira itu cinta?"


Ia pun jadi teringat akan perasaanya pada Kinan yang saat ini telah membuatnya terus merasa kepikiran. Merasakan perasaan rindu untuk pertama kalinya pada seorang wanita, adalah rasa yang ia yakini itu perasaan cinta, karena anehnya, hal itu tak pernah ia rasakan pada Adel dulu.


"Cinta? Benar, aku mencintainya, tak terbayangkan meskipun aku baru mengenalnya tak lebih dari 3 bulan. Apa memang perasaan bisa tumbuh secepat itu, ya?"


Meski perasaanya begitu merumitkan dirinya sendiri, namun Bian meyakini perasaan tertariknya pada Kinan adalah hal yang nyata adanya dan bukan hanya sekedar rasa penasaran belaka.


"Sebelum itu, aku harus memastikan dulu maksud dari papa memanggilku kembali kesini." Tuturnya yang akhirnya mengakhiri rasa dilemanya pada perasaanya yang sempat galau.


Setelah menempuh perjalan yang cukup melelahkan, akhirnya Bian kembali pada apartmentnya yang telah lama ia tinggalkan seorang diri. Ia membaringkan tubuhnya sejenak pada ranjang tempatnya tidur begitu sampai di dalam kamar. Melepaskan sejenak kepenatan, kegundahan dan kegelisahan yang saat ini sedang melanda hati dan perasaanya.


"Aku lelah.." Ucapnya yang mencoba memejamkan matanya sejenak.


Meski mencoba untuk memejamkan matanya, namun tetap tak bisa membuatnya tertidur, dan kembali membuka matanya yang tak ngantuk itu.


"Sial, padahal aku mau tidur sebentar sebelum ketemu papa." Ucapnya yang mulai bangkit dari tidurnya sembari memegang keningnya. Merasakan sedikit rasa pening pada kepalanya yang sejak kemarin malam tak bisa tidur dengan nyenyak.


Banyak hal yang ia pikirkan kemarin malam selepas kepulangan Kinan dan sejak keberangkatanya. Tak hentinya memikirkan jawaban dari penolakan tidak langsung yang dilakukan oleh Kinan padanya. Terlebih pada keinginan terbesar Kinan untuk melakukan pernikahan.


"Kenapa aku bingung? Bukankah aku tinggal serius saja?"

__ADS_1


Belum beberapa detik ia bersemangat, namun kembali di ingatkan pada alasan terbesar Kinan yang menolak begitu tegas pada hal tersebut. Soal Kinan yang merasa sedikit terbebani dengan status sosial dan kedudukanya saat ini.


"Dia benar-benar terlalu merendahkan dirinya sendiri." Ucap Bian yang sedikit tak suka dengan Kinan yang suka merendahkan dirinya sendiri.


"Padahal dia sudah menjadi perempuan yang hebat." Pujinya pada apa yang sudah dicapai oleh Kinan di usia mudanya.


"Harus bagaimana ya, untuk bisa meyakinkan dia?" Bian termenung kembali akan kisah kelanjutan dalam hubungannya dengan Kinan kedepannya.


Menikah ya? Mungkin dari sanalah aku bisa mulai memikirkannya.


Bian memilih bangkit dari tempat tidurnya, dan berjalan ke arah kamar mandi. Setelah merenungkan hal yang membuatnya galau, ia memilih merefreshkan otak dan badanya dengan basuhan air mandi. Ia memutuskan untuk segera menemui orang tuanya untuk membahas hal yang diminta oleh papanya demi kelanjutan hubungan dirinya dengan Kinan kedepan.


...


Tepat pukul 8 malam, ia mengunjungi rumah keluarganya. Kali ini ia tak datang sendiri, karena ada Dimas yang sedang bersamanya. Mengantarnya untuk pulang kerumah orang tuanya.


"Saya sudah memberikan beritanya pada sekretaris papa dan kakek anda soal anda yang akan datang hari ini." Kata Dimas menjelaskannya pada Bian.


"Ok." Balasan Bian hanya singkat dan terkesan tak semangat. Seolah terpaksa dan enggan untuk pulang kerumahnya.


Meski sudah berpakaian dengan rapi, namun ekspresi Bian terlihat tak cukup senang ketika hendak bertemu dengan keluarganya. Meski hubungannya dengan keluarganya tidak terlalu buruk, namun karena tak adanya kehangatan di dalamnya, terkadang membuat Bian malas untuk pulang, dan karena itu pula ia lebih memilih untuk tinggal di apartment seorang diri.


"Apa kamu tidak tanya kenapa papa memanggilku pulang?" Tanya Bian.


"Maaf, saya tidak bertanya soal itu." Balas Dimas dengan perasaan menyesal. Namun, Bian terlihat tak mempermasalahkan hal itu dan kembali diam.

__ADS_1


__ADS_2