
"Aaaahhh..." Teriak anak itu melihat mobil yang hampir menabraknya. Ia terduduk lemas dan kemudian jatuh pingsan.
Pengendara yang hampir menabrak anak tersebut, tampak keluar dari mobilnya. Ia menghawatirkan kondisi orang yang hampir ditabrak oleh mobilnya.
Ia melongo kaget begitu melihat seorang anak kecil yang tengah tergeletak di depan mobilnya.
"Nak, kamu gapapa?" Tanyanya kemudian pada anak tersebut. Tanganya mencoba meraih tubuh anak itu, yang sedari tadi tak mendapat sahutan darinya.
"Astaga dia pingsan, cepat bawa ke rumah sakit." Ucapnya lagi dengan panik begitu melihat anak itu pingsan.
Menggendongnya kemudian dan segera membawanya ke rumah sakit dengan ekspresi panik.
Pasangan suami istri Wahyana, bersama sopir pribadinya terlihat tak menyangka, perjalanan pulangnya dari rumah kerabat dekatnya, hampir membuat mereka berada dalam masalah.
Meski bukan kesalahan mereka, karena anak tersebutlah yang salah dengan menyebrang tanpa melihat ke arah jalan, namun jika terjadi masalah dengan anak tersebut, akan membuat kedua pasangan suami istri ini merasa bersalah, apalagi mereka agak sensitif bila menyangkut seorang anak.
"Bagaimana dokter, apa anak itu baik-baik saja?" Tanyanya pada dokter yang selesai memeriksa kondisi anak itu.
"Sebenarnya tidak terjadi apa-apa dengan anak anda, dia hanya pingsan, bahkan tidak ada luka di tubuhnya, kita akan periksa lagi jika anaknya sudah sadar nanti." Jelas dokter yang mengira anak tersebut adalah anak dari pasangan suami istri tersebut.
Rudy dan Risa, yang merupakan pasangan suami istri yang hampir menabrak anak itu, terlihat lega mendengar penjelasan dari dokter, meski sebelumnya agak sedikit kaget karena dokter mengira anak tersebut adalah anak dari mereka.
"Terimakasih dok." Ucap Risa pada dokter.
"Iya, sudah menjadi tugas saya, kalau begitu saya tinggal dulu." Pamit dokter.
Begitu dokter pergi dari hadapan mereka, keduanya masuk untuk melihat kondisi anak yang hampir mereka tabrak itu. Risa menatap wajah anak itu yang tengah berbaring di atas ranjang rumah sakit dengan kondisi lemah.
"Anak ini.. badanya kurus sekali, hampir saja kita melukainya." Ucap Risa sambil mengusap lembut wajah anak itu.
"Dia pasti buru-buru sampai tidak melihat ke arah jalan kan?, tapi.. apa yang membuatnya terburu-buru ya?"
"Bagaimana ini? apa orang tuanya tidak mencarinya?"
__ADS_1
Risa, yang sedari tadi merasa khawatir bertanya pada suaminya dengan berbagai kekhawatiran.
"Kamu tenang ya, dia kan cuma pingsan. kita pikirkan pelan-pelan, kita tunggu dulu anaknya bangun, baru nanti kita cari orang tuanya." Ujar Rudy menenangkan istrinya.
Risa mulai merasa tenang dengan jawaban dari Rudy, suaminya.
......................
"Nak Bian, sudah lama ya kita tidak bertemu." Kata Risa, mama Adel.
"Iya tante, maaf soalnya Bian baru bisa berkunjung sekarang." Jelas Bian yang tengah berkunjung ke rumah Adel.
"Gapapa, tante tau kok kalau kamu itu orangnya sibuk."
Bian hanya bisa tersenyum mendengar itu.
"Tapi, kamu jadi tambah ganteng ya sekarang." Puji Risa.
"Mama lupa nih sama anaknya sendiri." Timpal Adel ikut nimbrung diobrolan mamanya dan Bian.
"Iya, mama kamu juga lupa nih sama papa." Goda Rudy, papa Adel sekaligus suami Risa.
"Ih.. papa apa'an sih, kita pergi aja yuk biar mereka bisa ngobrol." Risa malu-malu menarik suaminya agar menjauh dari anaknya. Membuat Adel tersenyum melihat tingkah kedua orang tuanya.
"Hubungan mereka masih mesra aja ya." Kagum Bian melihat pemandangan itu.
"Iya, setiap hari mereka selalu begitu, apalagi papa yang selalu godain mama, kadang bikin aku geli tau gak." Jelas Adel sambil tertawa kecil.
"Oh iya, kamu udah makan belum? kebetulan tadi mama masak banyak lho hari ini." Tanya Adel.
"Yah.. sayang banget, sebelum kesini aku sudah makan duluan dirumah. Lain kali aja ya, soalnya aku masih kenyang." Jawab Bian.
"Ok deh,."
__ADS_1
Adel tak mempermasalahkanya lagi, ia lalu bangkit dari duduknya, dan mencoba mencari sesuatu.
"Nih.." Ucapnya kemudian, lalu menyerahkan sebuah kotak pada Bian.
"Hah! apa ini?" Bingung Bian.
"Kalung, katanya mau pinjem? gimana sih?"
"Ah... iya, aku lupa." Kata Bian sembari menerima kotak itu.
Ia membuka kotak kalung itu, dan memandangi kalung yang di dalamnya. Sebuah kalung bandul gembok yang sangat ingin ia tahu.
"Kenapa?" Tanya Adel melihat Bian yang tiba-tiba terdiam begitu melihat kalung miliknya.
"Bukan apa-apa cuma..," Ia tak melanjutkan kalimatnya, ada sedikit keraguan untuk menyakan soal kalung ini pada Adel.
"Bukan apa-apa kok." Ucapnya lagi, lalu mencoba menyimpan kalungnya kembali pada tempatnya semula. "Selain soal kalung ini, aku mau bilang sesuatu sama kamu."
"Soal apa?" Bingung Adel.
"Soal keberangkatanku ke jogja."
"Ah.."
Adel terdiam mendengarnya.
"Kapan kamu mau berangkat?" Tanya Adel kemudian.
"Besok."
"Ok, hati-hati ya?" Balas Adel mencoba menerima kepergian Bian ke Jogja dengan senyuman di wajahnya.
Bian ikut tersenyum melihatnya.
__ADS_1