Teman Gadis Kecilku

Teman Gadis Kecilku
110. Hubungan Yang Mengikat


__ADS_3

Masih di dalam kamar milik Bian, Kinan yang baru saja mengatakan perasaanya pada Bian, merasakan perasaan yang canggung dan malu karena harus bertatap muka dengan Bian dan duduk berdekatan dengannya sekarang.


"Kamu tadi bilang mau pulang, kan?" Ucap Bian mencoba mencairkan suasana yang hening itu dengan mencoba mengajak ngobrol Kinan, dan pertanyaanya hanya mendapat anggukan kecil dari Kinan.


"Maaf ya, aku jadi menahanmu begini." Ucapnya lagi, yang kini menatap lekat Kinan disampingnya.


Kinan tersenyum canggung melihat Bian yang menatapnya penuh lekat dengan sorot matanya yang menatapnya penuh perasaan itu, hingga membuatnya sulit untuk mengalihkan pandangannya dari tatapan Bian.


"Apa anda datang bersama pak Dimas?" Kinan mencoba mengalihkan kecanggunganya dengan bertanya pada Bian.


"Tidak, aku datang sendiri." Balas Bian.


Kinan memberikan ekspresi terkejutnya pada jawaban Bian.


"Anda datang sendiri? Lalu bagaimana dengan pak Dimas?" Tanyanya mencari keberadaan Dimas.


"Kenapa kamu malah membicarakan Dimas, padahal lagi ada aku di depan kamu sekarang?" Ucap Bian, dengan memasang ekspresi yang berubah menjadi cemberut.


Kinan menatap bingung pada Bian, dan merasakan perasaan yang aneh pada perubahan ekspresi Bian.


Apa kata-kataku ada yang salah, ya?


Kinan mencoba bertanya pada dirinya sendiri tentang hal yang membingungkan dirinya saat ini di depan Bian.


"Apa kata-kata saya tadi ada yang menyinggung anda?" Tanyanya kemudian dengan sedikit keraguan.


"Benar, kata-katamu begitu menyinggungku, hingga membuatku kesal dan cemburu." Jawab Bian yang malah memberikan senyum manisnya pada Kinan yang sedang kebingungan.


Kinan yang masih bingung hanya bisa diam tanpa mencoba merespon jawaban Bian.

__ADS_1


"Maksudku, berhenti membicarakan laki-laki lain selagi kamu bersamaku saat ini." Bian mendekatkan dirinya pada Kinan lebih dekat hingga membuat Kinan manatapnya canggung.


"Kamu tau, aku sebenarnya sedikit cemburuan lho." Senyumnya yang kini beralih memeluk Kinan.


Tentu saja ungkapan itu membuat hati Kinan semakin berdebar, hingga terasa sulit untuk mengespresikan rasa keterkejutannya.


Dadaku berdebar lagi, bagaimana ini? Pak Bian pasti sedang mendengarnya, kan?


Kinan sedikit menahan perasaan malu ketika dipeluk oleh Bian, terlebih pada debaran dadanya yang sedang bergetar lebih cepat saat di peluk oleh Bian.


"Hari ini aku benar-benar bahagia, terimakasih ya?" Bian melepas pelukanya dan menatap bahagia Kinan di depannya. Senyumnya yang merekah membuat Kinan ikut merasakan perasaan bahagia.


"Terimakasih sudah membuat perasanku jadi lega dan bahagia seperti ini. Kedatanganku yang mendadak juga menjadi lebih berwarna." Ucap Bian merasa begitu gembira, hingga tanpa sadar terus menyunggingkan senyumannya. Satu kecupan manis darinya ia daratkan pada kening milik Kinan.


Perlakuan yang Bian lakukan padanya, lagi-lagi membuat Kinan terpaku dan juga merasa aneh sendiri. Ada perasaan yang begitu menggelitik, berdebar tak karuan, namun juga rasa bahagia disaat bersamaan, ketika ia yang harus mendapatkan perlakuan manis yang bertubi dari Bian.


Karena ini adalah pertama kalinya ia merasakan perlakuan yang hangat dan manis dari seorang laki-laki yang menyukainya, agaknya masih membuat Kinan sedikit canggung dan terus betanya-tanya pada dirinya sendiri, terlebih pada perasaan anehnya ketika merasakannya secara langsung.


"Wah, sepertinya aku terlalu lama menahanmu disini." Ucap Bian merasa menyesal karena terlalu lama menahan Kinan.


"Sebenarnya aku tidak ingin kamu pergi, tapi karena hari semakin malam, sepertinya memang aku harus merelakanmu untuk pulang." Ucapnya lagi yang merasa agak sayang ditinggal oleh Kinan.


Kinan menatap langit yang semakin gelap dan waktu yang juga semakin larut. Eskpresinya seolah tak menyangka bahwa waktu bisa berjalan secepat itu, padahal ia merasa bahwa baru saja Bian datang di hadapannya.


"Katanya anda masih ada pekerjaan dikantor pusat, apa tidak apa anda meninggalkanya seperti ini?" Tanya Kinan kemudian, pada Bian yang harus datang ke hotel yang di jogja.


"Kamu benar, memang masih ada hal yang harus aku bereskan dikantor pusat, tapi karena seseorang, membuatku jadi harus terbang kesini seorang diri." Balas Bian sembari menatap ke arah Kinan.


Kinan yang dimaksud oleh Bian, hanya bisa diam dengan ekspresinya yang kebingungan pada hal yang di maksud oleh Bian. Sedangkan Bian terlihat tersenyum pada ekspresi yang Kinan buat, sebuah ekspresi yang seolah meminta penjelasan lebih darinya.

__ADS_1


"Kalau bukan karena kamu yang telah menolak ajakan pacaran selama seminggu dariku, mungkin aku tidak akan datang kesini hari ini." Ungkap Bian, yang akhirnya mengatakan alasan kedatangannya.


Kinan terdiam, ia mengerti arah dari perkataan Bian. Mengingatkan pada pembicaraan yang ia dan Bian lakukan pada sambungan telfon beberapa saat lalu sebelum Bian akhirnya datang langsung kesini.


"Saya minta maaf soal itu, karena sebenarnya saat itu saya juga merasa bingung harus menjawab apa." Balas Kinan yang merasa menyesal.


"Aku tau kok, jadi kamu tidak perlu meminta maaf. Meski sebenarnya aku juga sedikit kecewa saat itu, tapi kalau kamu tidak menolak ajakanku saat itu, mungkin aku tidak akan ada disini dan mendengarkan perasaanmu, kan?" Senyum Bian yang sekarang lebih menerima dan tak lagi mempermasalahkan penolakan itu.


Kinan tersenyum simpul dan mengangguk setuju pada perkataan Bian. Membenarkan ucapanya yang memang benar adanya, karena mau bagaimanapun hal itu sudah terlanjur terjadi saat ini padanya. Meski sudah terlanjur terjadi, nampaknya, hingga saat ini Kinan masih tak menyangka bisa mengatakan dengan jujur perasaanya pada Bian yang sebenarnya selalu ia ragukan dan ia hiraukan selama ini.


"Sekarang kamu tidak punya alasan lagi untuk menghindar dariku, karena itu.. kamu tidak bisa lari lagi dariku seperti sebelumnya. Dan aku juga tidak ada niatan untuk melepaskanmu." Ujar Bian menatap Kinan dengan keseriusannya, meski ada senyum simpulnya dari sudut bibirnya.


Apa itu artinya..


"Benar, kamu dan aku sekarang sudah saling terikat dengan sebuh hubungan." Ucap Bian yang seolah bisa membaca pikiran Kinan.


"Apa tidak apa anda dan saya seperti ini?" Kinan agaknya masih belum merasa tenang pada hubunganya dengan Bian, meski perasaan keduanya sudah saling terikat satu sama lain.


"Kenapa memangnya? Kamu takut? atau justru malu karena bersamaku?"


"Saya tidak malu bersama dengan anda, hanya saja saya sedikit merasa takut." Jujur Kinan pada hal yang membuatnya khawatir, meski ia mengatakannya sedikit agak ragu dan hati-hati di depan Bian.


"Lihat mataku Kinan." Bian memegang wajah Kinan yang tengah menunduk, lalu menatapnya lekat pada kedua bola mata perempuan yang ia suka.


"Cukup merasa rendah diri seperti ini, kamu mengatakan perasaanmu padaku, karena kamu percaya sama aku, kan?"


Ucapannya itu mendapat anggukan kecil dari Kinan.


"Karena itu, cobalah percaya padaku dan jangan merasa takut lagi." Senyum Bian menenangkan perasaan Kinan. Kinan yang mendapatkan kepastian dan keyakinan dari Bian sedikit lebih tenang dan mulai mempercayainya.

__ADS_1


"Nggak bisa begini, nih. Kalau kamu terus ada disini, takutnya nanti aku jadi melewati batas. Aku akan mengantarmu pulang sekarang." Ucap Bian yang langsung berdiri untuk mengantar Kinan pulang sebelum kewarasanya hilang di depan Kinan.


__ADS_2