
"Bagaimana?'' Ucap Bian menatap Kinan meminta persetujuan.
''Itu...'' Namun Kinan terlihat begitu kesulitan saat hendak menjawab, hingga begitu terpaku karena saking terkejutnya dengan perkataan Bian.
Tok.. Tok.., suara ketukan dua kali dari luar mengalihkan pandangan keduanya, yang juga menahan kalimat yang hendak Kinan ucapkan.
"Sepertinya itu Dimas.'' Ujar Bian menatap ke arah pintu. ''Kita lanjutkan lagi nanti pembicaraan kita.'' Lanjutnya menatap Kinan dengan senyum tipisnya, lalu beralih pada Dimas yang sudah masuk kedalam ruangan dengan membawa beberapa berkas ditanganya, dan meninggalkan Kinan yang masih diam terpaku karena terlalu terkejut.
Meski beberapa menit yang lalu sempat terjadi kecanggungan, hingga menciptakan suasana yang kikuk antar keduanya. Namun, begitu Dimas masuk kedalam, sikap keduanya kembali seperti biasanya, dan melakukan meeting dengan profesional seperti tak pernah terjadi sesuatu sebelumnya. Keduanya bersama dengan Dimas terhanyut akan tugas masing-masing, hingga tak lagi memikirkan momen itu.
Namun, begitu meeting selesai dan ia yang keluar dari ruang rapatnya bersama dengan Bian dan Dimas, ingatan akan kalimat yang di lontarkan oleh Bian menyeruak kedalam pikiranya.
Luangkan satu hari untukku?
Kinan tak berhenti memikirkan kalimat yang di lontarkan oleh Bian untuknya tadi, hingga sulit baginya untuk mencerna, karena saking tak percayanya akan itu. Namun, ketika ia ingin menjawabnya dalam keadaaan bingung, Dimas datang dan masuk kedalam ruangan, yang akhirnya menahan hal yang ingin ia katakan pada Bian. Yang bisa ia lakukan dalam menyikapi kebingunganya sekarang adalah dengan menghela nafas panjang.
...
Hal yang sama juga dirasakan oleh Bian saat ini. Dalam ruanganya, ia tak bisa berhenti memikirkan pembicaraanya dengan Kinan tadi.
"Akhirnya aku memberikanya.'' Gumamnya mengacu pada kalung yang ia beli.
Saat bernafas lega karena telah memberikan hadiah dan menepati janjinya dulu, tiba-tiba dia teringat akan pembicaraan terakhirnya bersama Kinan yang sempat terputus karena keberadaan Dimas.
"Apa aku coba hubungi dia, ya?" Ucapnya yang jadi kepikiran akan pembicaraanya yang terputus. "Ah, harusnya aku tadi meminta nomornya." Gumam Bian agak menyesal.
Menyender dalam kursi yang tengah ia duduki, Bian kembali mengingat akan ekspresi Kinan yang terlihat kebingungan ketika ia mengungkit kenangan masa lalunnya dulu. Meski tak mempermasalahkan, namun ada sedikit rasa kecewa ketika Kinan tak mengingat satupun janjinya dulu.
__ADS_1
"Apa ini karena dia yang dulu pernah hilang ingatan, ya?''
Karena ucapanya itu, membuat Bian meraba-raba apa yang telah terjadi dalam panti asuhan tempat Kinan berada dulu. Meski ia tahu tentang kebakaran panti asuhan Cinta Kasih, namun hingga kini ia masih tidak tahu detailnya, bahkan siapa yang mneyulut apinya.
"Haruskah aku mencari tahu?''
...
Seolah tersambungkan dengan apa yang di fikirkan oleh Bian. Dalam tempat yang berbeda, terlihat Adel tengah menyimpan rapat kenanganya dalam panti asuhan Cinta Kasih dulu.
Barang yang ia bawa dari panti asuhan dulu tak terlalu banyak, karena ia pergi begitu saja ketika kebakaran panti asuhannya terjadi. Saat itu, ia berlari bahkan tanpa memakai alas kaki, dan hanya sebatas dua pasang pakaian yang sedang ia pakai, bersama potongan lilin yang ada dalam saku celanannya, juga kalung berbandul gembok yang tengah ia pegang.
Entah apa yang membuatnya kembali mengingat akan barang peninggalan miliknya dulu, hingga kembali mencari keberadaanya dan sekarang justru ingin membuangnya jauh darinya. Namun, matanya tiba-tiba terpaku ketika menatap potongan lilin yang sudah hampir tak berbentuk itu. Membuatnya kembali mengingat akan peristiwa panti asuhanya dulu, dan seketika kembali mengingatkan akan jati dirinya dulu.
"Adel, ayo makan." Panggil Risa mencari keberadaan Adel yang saat ini tengah berada dalam halaman belakang rumah.
"Iya, ma sebentar." Balas Adel dengan segera mengubur barang-barangnya dulu, lalu beranjak pergi ketika menyelesaikanya.
"Iya, tadi Adel ngadem sebentar, habisnya di kamar agak pengap." Jawab Adel yang langsung duduk di depan makanan yang sudah mamanya siapkan untuknya.
"Oh gitu, yasudah sekarang kamu makan dulu, mama sudah siapkan lauk kesukaan kamu." Ujar Risa tak mempermasalahkan lagi hal itu, dan memilih mengambilkan nasi untuk Adel.
Adel menerima piring berisi nasi dari mamanya, lalu beralih mengambil lauknya sendiri.
"Terimakasih, ma." Ucap Adel pada Risa, lalu menyantap makanananya.
"Iya," Jawab Risa tersenyum menatap anaknya makan. "Gimana waktu kamu di jogja kemarin?, apa menyenangkan?" Tanya Risa disela makan mereka.
__ADS_1
"Menyenangkan kok, Bian memperlakukan Adel dengan baik, dan mengajak Adel jalan-jalan juga." Jelas Adel, yang kini tersenyum setelah tadi sempat bad mood.
"Harusnya papa juga di ajak, dong." Celetuk Rudy yang kebetulan baru pulang dari kantor, dan ikut nimbrung dalam obrolan anak dan istrinya.
"Lho papa sudah pulang." Timpal Risa yang langsung menyambut kedatanganya, dan membantunya menyiapkan makanan untuknya.
"Papa kan, sibuk. Gimana bisa ikut? Dan lagi, kalau papa jadi ikut, nanti gak asik dong." Ujar Adel membalas ucapan papanya.
"Dasar, masa gak asih sih, gini-gini papa juga pernah muda lho." Cemberut Rudy mendengar jawaban dari anaknya.
"Sudah, papa mending makan dulu saja, masa baru datang, malah meledekin anaknya." Kata Risa menghentikan obrolan keduanya.
Anehnya keduanya diam, dan tak lagi saling sindir maupun meledek. Membuat Adel dan juga Rudy saling melempar senyum, seolah bertelepati, karena mereka berdua yang tak bisa melawan Risa. Ketiganya pun akhirnya menyelesaikan makan malam mereka dengan suasana yang hangat.
......................
Hal yang ditutup rapat, pada akhirnya akan terungkap. Baik itu perasaan, rahasia yang disimpan, kejahatan yang ditutupi, bahkan luka lama yang coba dihapus, pada akhinya satu persatu akan terbuka dengan sendirinya.
Entah dengan diri sendiri, ataupun lewat orang lain.
"Bukan, bukan aku yang melakukanya. Aku tidak bersalah." Masih dalam keadaan yang belum sepenuhnya tersadar, anak kecil yang hampir tertabrak oleh pasangan Rudy dan Risa, berulang kali mengigaukan kalimat dalam tidurnya, hingga membuat kondisinya semakin drop karena rasa ketakutanya.
Karena inilah, mengapa pasangan Rudy dan Risa membawa anak yang bernama Fidelia kerumah mereka untuk dirawat dan juga di jaga.
"Bagaimana kalau anaknya punya keluarga?" Tanya Rudy yang merasa keberatan untuk membawa anak itu pulang.
"Anaknya saja tidak tau siap dia, bagaimana kita bisa membiarkan ini?" Kata Risa meyakinkan suaminya.
__ADS_1
"Anak ini berlari dari arah panti asuhan yang terbakar, dan semua anak-anak terlihat tak ada tempat tinggal lagi, karena itu kita membawa anak ini, ya? Apalagi anak ini hampir kita tabrak, jadi otomatis ini tanggung jawab kita." Ujar Risa meyakinkan kembali suaminya.
"Baiklah, tapi kita tetap harus meminta izin pada pemilik panti asuhan." Jawab Rudy yang tak bisa menolak permintaan istrinya.