
Kembali ke aktifitasnya seperti biasa sebagai manajer hotel, namun bayangan akan pertemuanya bersama Bian diperpusatakaan tadi tak bisa lepas juga dari ingatan Kinan.
Kinan teringat terus soal pengakuan yang dilakukan oleh Bian tadi, perihal identitas dirinya yang merupakan kakak kenalannya di panti asuhanya dulu.
"Apa yang harus aku lakukan jika bertemu dengan beliau?" - Batinya masih setengah tak percaya. " Aku benar-benar bingung sekarang."
Di tengah lamunanya, seseorang tiba-tiba datang menghampirinya lalu menepuk pundaknya pelan, yang akhirnya membuatnya tersadar dari lamunanya.
"Melamun aja nih." Ucapnya pada Kinan yang tengah melamun.
"Aura." Panggil Kinan melihat sosok Aura disampingnya.
"Ngelamun apa sih? sampai-sampai tidak dengar waktu aku panggil, tadi?"
"Ah, maaf ya?" Ucap Kinan merasa bersalah. "Ada apa? kamu ada perlu sama aku?" Tanya Kinan.
"Tidak ada apa-apa sih, cuma tadi tidak sengaja lewat dan mau menyapa saja." Balas Aura.
"Oh.., kirain ada apa?"
"Mbak Kinan lagi ada masalah ya?" Tanya Aura melihat Kinan yang sedari tadi melamun.
"Masalah? Oh.. enggak kok, cuma ada beberapa yang aku pikirkan saja sih." Balas Kinan.
"Apa nih? apa masih soal masalah kemarin? soal rumor itu?" Kata Aura.
"Enggak kok, kan masalahnya sudah selesai kemarin. Adalah, tapi aku tidak bisa bilang ke kamu." Jawab Kinan.
"Hem.. coba kutebak? apa jangan-jangan mbak Kinan lagi dekat sama cowok?" Kata Aura semangat menebak.
"Hus, ngawur kamu. Jangan bikin rumor baru ya! Sudah sana, kamu kembali bekerja saja." Kata Kinan lagi sembari memberi peringatan kecil pada Aura, salah satu rekan kerja yang selalu baik padanya.
"Baik bu manajer.." Kata Aura memberikan hormat pada Kinan, lalu pergi dari hadapan Kinan.
Melihat hal itu, tentu saja membuat Kinan menggeleng tak percaya dengan tingkah Aura. Dia tersenyum melihat tingkahnya yang tak terduga.
Berkat kedatangan Aura, sejenak membuatnya lupa soal Bian. Kinan tak lagi kepikiran soal kakak kenalannya itu, dan kembali bisa fokus pada pekerjaanya.
......................
Tiga orang yang sedang berkaitan saat ini, sepertinya tengah dilanda kegelisahan yang sama pada perasaanya. Terpikirkan kembali hal-hal yang hampir membuat pikiran mereka kacau.
__ADS_1
Jika Kinan, tentang terkejutnya pada identitas kakak kenalannya, lalu Bian pada kegelisahanya pada perasaanya yang kini terlihat mulai goyah, lalu Adel pada perubahan kecil sikap Bian padanya.
Masa lalu, dan masa kini begitu terikat diantara mereka. Saling tersambung hingga menimbulkan kegundahan hati setiap pemiliknya. Benang takdir diantara mereka, sepertinya akan sulit untuk diputuskan. Bian, Adnan, Adel dan juga Kinan. Semua saling terikat pada benang takdir kehidupan.
Antara cinta dan persahabatan, semua telah ditakdirkan pada mereka, hanya takdir cinta itu mengarah pada siapa sekarang? hanya waktu yang akan menjawabnya.
...
Malam telah datang menjemput, kini Bian tak lagi sendiri di dalam kamarnya, karena Dimas telah berhasil menyusulnya ke jogja. Kini dia tengah memberikan laporan pada Bian seperti biasannya.
"Maaf, pak. Tadi waktu saya ke apartemen anda, ada non Adel di dalam, dan tengah menunggu anda." Kata Dimas pada Bian yang tengah sibuk melihat-lihat isi laporan.
Bian terdiam, dan menjeda sejenak aktifitasnya. Ekspresinya sedikit kaget mendengar Adel datang ke apartemenya.
"Oh ya? lalu apa yang kamu katakan padanya?" Tanya Bian sembari terus menatap isi laporan.
"Saya bilang, bahwa anda sudah pergi ke jogja." Jawab Dimas.
"Apa lagi katanya?" Tanya Bian lagi soal Adel.
"Beliau sedikit terkejut, bahkan bertanya kapan saya berangkat."
"Saya bilang akan berangkat agak siang, lalu beliau pergi dari apartemen anda begitu saja." Jelas Dimas.
"Memangnya kamu datang ke apartemenku jam berapa?"
"Sekitar jam 6 pagi."
Jam 6 pagi? tumben dia datang sepagi itu?
Bian sedikit heran mendengar kedatangan Adel ke tempat apartemenya, terlebih masih pagi. Diapun jadi teringat dengan telfonya tadi bersama Adel. Saat itu, anehnya Adel tak pernah menyinggung soal kedatangannya ke apartemen miliknya, mengingat terlalu sibuk dengan berbagai pertanyaan soal kedatanganya ke jogja.
"Apa kamu tidak tanya alasanya kenapa dia mencariku?" Tanya Bian lagi.
"Maaf, beliau sudah terlanjur pergi sebelum saya menanyakanya." Jawab Dimas.
Obrolanpun terputus, dan Bian kembali pada aktifitasnya lagi bersama Dimas. Mereka berdua sibuk dengan kegiatanya masing-masing di dalam ruangan kamar Bian yang juga menjadi tempat kerjanya.
"Kamu sudah mencari rumah yang aku minta sebelumnya?" Tanya Bian kemudian.
"Sudah pak, besok mungkin anda sudah bisa melihatnya." Jawab Dimas.
__ADS_1
Benar, Bian memutuskan untuk mencari tempat tinggal, karena dia merasa tak nyaman jika bekerja di dalam kamar seharian, karena itu dia meminta pada Dimas untuk mencarikannya sebuah rumah.
Melihatnya hingga mencari sebuah rumah, sepertinya dia akan sedikit lebih lama untuk tinggal di jogja.
...
Di tempat yang berbeda, terlihat Kinan dan semua rekan-rekanya tengah bersiap untuk pulang.
Hari pulang kerjanya sudah dekat, Kinan berjalan ke arah motornya yang tengah terparkir. Ia berjalan seorang diri ke arah parkir, sebelum Aura menegurnya dan akhirnya saling berbincang di sepanjang jalan.
"Mbak, kenapa kemarin lusa motornya ditinggal?" Tanya Aura pada Kinan yang berdiri disampingnya.
"Oh.. kemarin aku lagi tidak enak badan, jadi aku memutuskan untuk meninggalkanya." Jawab Kinan.
"Oh gitu. Yaudah, aku balik duluan ya mbak. Aku sudah di jemput nih.." Ucap Aura memilih untuk balik lebih dulu setelah melihat pacarnya datang menjemputnya.
Kinan menatap kilas kepergian Aura, sebelum akhirnya mengalihkan pandangannya pada motor yang ada didepanya sekarang. Saat hendak menaiki motor miliknya, Kinan melihat bahwa ban motornya sedikit kempes dan agak berat untuk digerakkan.
"Kenapa ini?" Ucapnya pada motornya yang sedikit ada gangguan.
Iapun turun, lalu mengecek kembali ban motornya, dan mendapati ban motornya sedikit robek.
"Robek?" Kinan sedikit kaget melihat ban motornya yang robek. "Perasaan tadi pagi masih baik-baik saja." Ucapnya lagi.
Melihat lagi sekeliling, mencoba mencari seseorang, namun tak ada siapapun. Merasa tak bisa membawa motornya, Kinan akhirnya meninggalkan begitu saja motornya ditempat parkir setelah ia kunci motornya.
Sepertinya dia sedikit curiga bahwa itu disengaja, mengingat ban motornya yang robek, namun karena tak mempunyai sebuah bukti membuatnya sulit untuk mencari siapa pelakunya.
"Siapa ya, yang melakukan hal semacam ini?" Ucapnya menghela nafas kesal, lalu berjalan menjauh dari arah parkir motornya.
"Sudah petang begini, apa aku pakai ojek online saja ya?" Ucapnya yang melihat hari sudah mulai petang.
Kinan berjalan perlahan sembari menatap langit yang mulai gelap. Dengan pelan dia berjalan ditengah-tengah kondisi jalan yang masih ramai-ramainya. Dari samping dia hanya bisa melihat kendaraan-kendaran itu berjalan dengan kecepatan sedang dan cepatnya.
"Wah, sepertinya aku lapar." Ucapnya memegang perutnya yang mulai keroncongan.
Kebetulan sekali di depanya ada penjual martabak telor. Ia mempercepat lajunya, dan menghampiri penjual tersebut untuk membelinya. Namun, dia dikejutkan dengan kehadiran orang yang dikenalnya, yang juga tengah mengantri disana.
Mata keduanya bertemu dan saling membuat ekspresi terkejut.
"Oh.." Ucap keduanya berbarengan.
__ADS_1