
"Saya..." Saat Kinan hendak membalas kalimat yang dikatakan oleh Bian, tiba-tiba saja Bian kembali mencium bibirnya, yang tentu saja membuat kedua bola matanya terbuka lebar karena kaget. Sejenak tubuhnya terpaku akan itu.
"Pak, saya benar-benar tidak bisa seperti ini." Ucapnya yang kemudian mendorong tubuh Bian dengan segera.
"Saya minta maaf.." Kinan pun berlari menjauh dari hadapan Bian dengan segera, dan saat Bian hendak meraih tangan Kinan, dering ponsel yang sedari tadi terus berbunyi dalam saku celananya cukup mengganggu dirinya.
Dengan raut wajah yang seperti menahan kesal, Bian mencoba meraih ponselnya yang sedari tadi tak bisa diam itu, dan dilihatnya nama Adel yang tertera dalam layar ponselnya.
Bian membisukan suaranya, dan memilih tak mengangkatnya, yang kemudian berjalan keluar perpustakaan untuk menyusul Kinan. Ia mencoba mencari keberadaan Kinan untuk menjelaskan maksudnya, dan juga meminta maaf akan ciumanya yang sepertinya begitu mengagetkanya.
"Kenapa tadi aku seperti itu, ya?." Rutuknya pada dirinya sendiri, seolah tak percaya terhadap dirinya yang bisa melakukan ciuman dengan Kinan. Bian menghela nafas panjang ketika mengingat hal yang ia lakukan, lalu memegang bibirnya yang sempat berciuman dengan Kinan tadi.
Ada debaran dada ketika mengingatnya, karena itu adalah ciuman pertamanya dengan seorang perempuan. Namun disatu sisi ada perasaan bersalah telah melakukan hal itu pada seorang perempuan yang tak sedang menjalin hubungan denganya. Ekspresinya mengisyaratkan banyak hal pada dirinya yang kini tampak terpaku akan kejadian yang ia lakukan sendiri, terlebih pada orang yang ia sukai.
"Apa dia marah, ya?" Gumamnya ketika mengingat soal Kinan yang tiba-tiba pergi dari hadapanya.
Sesaat setelah berkutat akan pikiranya sendiri, Bian mencoba melanjutkan kembali perjalananya setelah terhenti sejenak karena rasa bersalahnya akan perilakuanya pada Kinan, juga pada perasaanya yang kini semakin terlihat jelas adanya.
"Aku sudah memastikanya, dan kini aku sudah tidak ragu lagi pada perasaanku sendiri. Sekarang hatiku merasa lega, tapi disatu sisi juga masih merasa cemas." Batinya, ketika berhasil memastikan perasaanya sendiri pada orang yang dia sukai, namun rasa cemas akan respon Kinan masih membuatnya terus kepikiran.
"Dia pergi kemana, ya?" Gumamnya mencoba mencari keberadaan Kinan.
...
Sesaat setelah kepergianya yang tengah mencari keberadaan Kinan, terlihat sepasang mata telah menangkapnya keluar dari perpustakaan.
"Kenapa pak Bian bisa ada diperpustakaan? Tadi juga aku lihat Kinan keluar dari sana!" Ucap seseorang memasang mode penasaran.Shiva terlihat penuh curiga melihat keduanya yang keluar dari perpustakaan dengan jarak yang tak lama, terlebih pada ekspresi keduanya yang tampak penuh keanehan.
"Hem.. sedikit aneh, tapi mustahil juga jika keduanya ada hubungan yang lebih." Shiva mencoba menyingkirkan prasangkanya meski raut wajahnya masih penuh rasa penasaran.
__ADS_1
Ia berjalan menuju tempat yang hendak ia tuju kemnali, dengan berbagai rasa penasaran yang menyelimuti ekspresi wajahnya.
"Kalau benar mereka ada hubungan lebih, ini benar-benar diluar dugaan!" Gumamnya memasang ekspresi tak percaya. Dalam setengah perjalananya, ia menjadi teringat akan interaksi Kinan dengan Bian selama ini, yang keduanya sering terlibat dalam berbagai kesempatan.
"Mereka memang pernah bertemu beberapa kali karena pekerjaan, tapi apa mungkin membicarakan soal pekerjaan diperpustakaan?" Gumam Shiva melihat keanehan itu. Ia mendecak tak suka akan hal yang dia pikirkan sendiri, terlebih soal hubungan antar keduanya yang terlihat tak biasa.
"Pak Bian bukanya baru pulang dari jepang, ya?" Sviva lagi-lagi merasa aneh dengan hal yang dilihatnya.
"Hem..."
...
Dari sisi Kinan saat ini, yang memilih untuk datang ke toilet setelah melarikan diri dari Bian. Ia terlihat masih tak percaya dengan hal yang baru saja terjadi bersama Bian diperpustakaan.
"Aku berciuman dengan atasanku sendiri!" Gumamnya masih mencoba untuk mencerna dengan hal yang telah terjadi.
"Apa yang akan aku lakukan jika berhadapan denganya nanti?" Gumamnya lagi dengan nada pelan di dalam toilet.
"Aku.. harus apa setelah beliau mengatakan perasaanya lagi?" Kinan terlihat dilema dengan ungkapan perasaan Bian padanya. Ekspresinya terlihat tak percaya setelah mendengar Bian yang menyukai dirinya.
"Dadaku berdetak tak karuan sedari tadi, karena itu aku jadi bingung harus apa?" Gumamnya lagi sembari memegang dadanya yang tak berhenti bergetar sedari tadi.
......................
Ada rasa yang sulit untuk dijelaskan bagi hati keduanya. Penuh rasa debar di dada, rona merah menghiasi kedua pipi, hingga detak jantung yang berdetak lebih cepat dari biasanya, terlihat begitu menghiasi keduanya yang kini sama-sama merasakan ciuman pertamanya.
Tanpa adanya ikatan yang mengikat, perasaan yang terbalas satu sama lain, atau kejelasan dalam hubungan keduanya, membuat keduanya kini berada dalam hubungan yang ambigu.
Bagi Bian yang sudah mencoba mengatakan perasaanya secara jelas, terlihat belum merasa tenang, terlebih perasaanya yang masih belum juga terbalaskan oleh orang yang ia sukai.
__ADS_1
Dari Kinan, perasaanya terlihat masih belum siap setelah mengetahui fakta bahwa Bian menyukai dirinya. Ia masih memperlihatkan perasaan yang serba dilema akan hal itu. Terlebih pada perasaanya sendiri terhadap Bian.
"Aku tidak pernah menganggap beliau lebih, tapi karena ungakapan itu membuatku terus kepikiran." Ucap Kinan pada perasaanya selama ini terhadap Bian.
Perasaanya berdebarnya setelah berciuman dengan Bian tak bisa lepas dari ingatanya, meski ia mencoba untuk tetap fokus pada pekerjaanya.
Tak berbeda jauh dengan Bian yang kini sudah berada dalam kamar miliknya dan telah mengganti bajunya. Dalam ruangan yang hanya menyisakan dirinya itu, ia larut dalam lamunannya. Ia tak berhenti memikirkan ciumanya bersama Kinan.
"Aku tidak bisa jika kamu memilihku untuk menjauhimu." Gumamnya memikirkan kembali ciumanya pada Kinan.
Ia beralih menuju ponsel yang sedang ia pegang. Jarinya terlihat mencari sebuah nama dalam daftar kontak ponselnya. Dan ia menghentikan pencarianya pada sebuah nama, yaitu Kinan.
Membutuhkan waktu yang cukup lama baginya untuk mendengar suara jawaban dari panggilanya.
"Halo.." Dengan nada lembut, namun terkesan hati-hati Kinan mengangkat sebuah panggilan dalam ponselnya yang terlihat tak memiliki nama.
"Apa kamu sudah pulang?" Suara yang keluar saat ia mengangkat telfon miliknnya, membuat Kinan merasa terkejut, karena suaranya yang begitu familira ditelinganya.
"Itu.., iya saya sudah pulang, pak." Jawab Kinan sedikit berbohong dan nada yang penuh ke hati-hatian.
"Baiklah, kalau begitu kita bertemu di kosan milikmu saja." Ucapan Bian yang kembali membuat Kinan terkejut.
"Eh, tapi kosan milik saya tidak boleh ada tamu laki-laki.." Kinan mencoba terus menolak, meski ekapresinya terlihat tak enak.
"..."
Keheningan sejenak menghampiri keduanya. Bian cukup terdiam mendengar perkataan Kinan.
"Aku tunggu kamu di depan gerbang kosan."
__ADS_1
Tuut.. Suara panggilan pun berakhir, dan menyisakan Kinan yang tampak panik.