Teman Gadis Kecilku

Teman Gadis Kecilku
43. Kepo Bian


__ADS_3

"Pak Dimas." Panggil Kinan melihat Dimas yang tengah berjalan ke arah parkiran mobilnya, ketika dia hendak masuk kembali ke hotel setelah dari luar sebentar.


"Selamat sore." Sapa balik Dimas pada Kinan.


"Anda mau pergi ya?" Ucap Kinan mencoba basa-basi.


"Iya, saya ada urusan sebentar diluar. Anda tidak pulang?" Balas Bian dengan bertanya balik.


"Ah iya, tapi saya juga masih ada hal yang harus saya kerjakan, sepertinya saya pulang agak telat hari ini." Ungkap Kinan yang kini sudah tak merasa canggung lagi pada Dimas. "Pak, saya benar-benar berterimakasih soal kemarin dan soal motor saya." Kata Kinan.


"Iya," Senyum Dimas pada Kinan. "Anda tau, ini sudah tiga kali anda mengatakan ini pada saya." Sambungnya merasa geli sendiri.


"Ah gitu ya, maaf kalau anda merasa tak nyaman." Malu Kinan.


"Bukan, hanya saja ini pertama kalinya saya mendapat respon seperti ini. Saya sedikit tidak tau harus bersikap seperti apa, karena itu saya sedikit malu." Jelas Dimas. "Saya juga berterimakasih soal pulpen yang anda kasih, itu bagus." Sambungnya.


Dimas menikmati obrolannya bersama Kinan, ia yang pemalu pada perempuan ternyata bisa senyambung itu berbicara pada Kinan. Sifat Kinan yang mudah bergaul dan mampu menggiring teman mengobrolnya dengan baik sangatlah membuat nyaman.


Tanpa mereka sadari, obrolan dan interaksi keduanya terlihat jelas dari pengamatan seseorang yang kebetulan tengah berjalan ke arah mereka. Menatapnya bingung dan penuh rasa penasaran dengan kedekatan mereka.


"Apa yang sedang kalian lakukan disini?" Ucapnya membelah obrolan keduanya.


Dimas dan Kinan terkejut dengan kehadiran Bian di tengah-tengah mereka.


"Ah, selamat sore pak." Sapa Kinan dengan segera melihat Bian di depanya. "Kami tadi hanya mengobrol biasa." Jawab Kinan kemudian.


"Mengobrol? kalian saling dekat?" Tanya Bian dengan ekspresi dingin pada Kinan.


"Ah.. itu, tidak juga, hanya saja karena pak Dimas yang sudah membantu saya kemarin, kami ja.. di se.. dikit dekat." Balas Kinan agak ragu dengan jawabanya sendiri dan melirik sedikit ke arah Dimas. "Ah.. anda mau pergi ya? kalau begitu saya pamit masuk ke dalam. Silahkan lanjutkan perjalanan anda. Saya permisi." Ucapnya lagi buru-buru pada Bian dan Dimas.


Bian mentap dalam diam kepergian Kinan yang masuk ke dalam hotel.


"Maaf pak, apa kita jadi pergi?" Dimas mencoba menyadarkan Bian yang terlihat termenung menatap kepergian Kinan tadi.


"Kamu.. sejak kapan kamu bisa membuat ekspresi seperti itu?" Bian menatap Dimas dengan serius dan penuh tekanan.

__ADS_1


"Maaf, ekspresi seperti apa yang anda maksud ya?" Dimas bingung dengan maksud Bian.


"Ekspresi yang kamu lakukan pada manajer Kinan tadi."


Memangnya apa yang kulakukan tadi? dan ekspresi apa yang aku buat tadi? aku benar-benar tidak faham.


Dimas tampaknya tak mengerti dengan maksud dari Bian. Dengan maksud yang coba disampaikanya, pada ekspresi seperti apa yang ia buat bersama Kinan tadi, karena tadi dia hanya mengobrol biasa saja denganya.


Agaknya Bian merasa terganggu dengan kedekatan Dimas dan Kinan. Ekspresi yang baru ia tahu soal Dimas selama ini, sepertinya sedikit mengganggunya.


"Dia tersipu malu, dan terus merona. Apa dia tidak sadar soal itu?" Batin Bian menatap Dimas yang masih tak sadar ekspresi seperti apa yang sudah dia buat tadi.


"Sudahlah, kita pergi saja." Ucap Bian tak lagi perduli, meski wajahnya masih agak kesal.


Apa aku berbuat salah ya?..


Dimas merasa bingung sendiri dengan ekspresi kesal Bian padanya. Dalam diam, dia hanya bisa mengikuti Bian menuju ke arah mobil.


...


Selama perjalanan tak ada kata yang keluar dari mulut Bian. Ia termenung di dalam mobil, memikirkan kembali pada kedekatan Dimas dan Kinan. Ia menatap Dimas yang ada di depanya dengan penuh tanya, ekspresinya tertangkap oleh Dimas pada kaca di depanya.


"Maaf pak, apa ada hal yang ingin anda lakukan setelah ini?" Tanya Dimas memecah keheningan.


Tak ada balasan, Bian hanya diam termenung menatap jendela disebelah tempat duduknya. Menatap lurus pada kendaraan yang berlalu lalang disamping mobilnya.


Mendapati itu, Dimas tak lagi bertanya dan fokus mengendarai mobilnya saja seperti semula.


Sepertinya beliau lagi ada masalah. - Batin Dimas menebak sikap Bian yang banyak diam hari ini.


"Apa kamu pernah pacaran sebelumnya?" Tanya Bian tiba-tiba.


"Maksud anda saya?" Keget Dimas mendapat pertanyaan selerti itu.


"Em.." Jawab Bian singkat.

__ADS_1


"Dulu, sudah lama sekali. mungkin saat kuliah dulu." Balas Dimas kemudian dengan tetap fokus pada menyetirnya.


"Sekarang? apa kamu tidak punya pacar? atau dekat dengan seorang perempuan?" Penasaran Bian.


Dimas sedikit kebingungan untuk menjawabnya. Tak seperti biasanya, Bian bertanya hal pribadi padanya seperti ini.


"Tidak ada, saya tidak ada waktu untuk itu."


"Kenapa? bukanya kamu banyak penggemarnya? aku dengar bahkan ada fans club buat kamu."


"Ah.. itu.., iya tapi saat ini saya tidak dekat dengan siapapun." Jawab Dimas agak malu, karena mengingat hal itu. Dimas tak mebgira bahwa Bian akan tau soal ini dari dirinya.


"Dengan Kinan, apa kamu tidak ada hubungan yang spesial?"


Pertanyaan tak terduga dari Bian, sedikit tak terbayang dari Dimas.


"Dengan manajer, beliau orang baik dan ramah. Saya merasakan kenyamanan setiap kali mengobrol denganya, ini pertama kalinya saya merasa seperti itu terutama pada seorang perempuan. Tapi, hubungan kami tak sampai sejauh itu, kami hanya pernah mengobrol sebentar, dan tak lebih karena kami sejatinya tak sedekat itu." Jelas Dimas pada sosok Kinan. Tanpa sadar dia tersenyum ketika menjelaskan sosoknya, hingga tak luput dari pengamatan Bian yang duduk dibelakangnya.


"Jadi, kamu ingin lebih dekat dengannya?"


"Ah.. itu," Dimas sedikit kesulitan untuk melanjutkan perkataanyan, karena dia merasa bingung sendiri. "Em.. mungkin saya hanya ingin mengenalnya lebih dekat. Ternyata beliau..."


"Cukup disana..." Sanggah Bian cepat memotong ucapan Dimas.


Dimas menoleh sejenak ke arah belakang, menatap Bian yang kini memalingkan wajahnya kesamping jendela dengan tatapan datar.


Apa aku salah bicara lagi?


Sepertinya ini hari dimana Dimas dibuat bingung oleh Bian. Muali dari sikap, perilaku dan perkataanya yang ambigu membuat Dimas berada dalam keadaan yang penuh tanya. Untuk pertama kalinya, Dimas merasa kesulitan membaca ekspresi dari Bian.


...


"Kamu mau pulang?" Tanya Bian menghampiri Kinan yang hendak pulang, setelah pulangnya dari pertemuanya yang lalu bersama Dimas.


Kinan merasa bingung dan juga kaget dengan kehadiran Bian yang tiba-tiba menghampirinya ketika ia yang hendak pulang.

__ADS_1


"Iya pak, apa anda ada urusan dengan saya?" Tanya balik Kinan.


"Ada, bisa kita bicara sebentar."


__ADS_2