Teman Gadis Kecilku

Teman Gadis Kecilku
76. Satu Langkah Lebih Dekat


__ADS_3

Sudah hampir 5 menit mereka berjalan dalam diam ditengah perasaan yang sama-sama gugup dan canggung. Dari keduanya sama-sama menunggu untuk saling berbicara.


"Apa kamu mau ke rumah sakit?" Akhirnya Bian membuka obrolan.


"Ah, iya. Rencananya nanti sambil mengembalikan tas milik Aura, saya sekalian ingin menjenguknya." Secara spontan Kinan menjawabnya ketika sedari tadi menahan gugup.


"Berarti aku menahan kamu selama 5 menit ini!" Bian terlihat merasa bersalah. "Yasudah kamu tunggu disini, aku mau ambil kunci mobil dulu." Ucapnya kemudian yang akhirnya meninggalkan Kinan seorang diri dan sedang memperlihatkan ekspresi bingung.


"Eh.." Kinan terlihat bingung dengan perkataan yang dilontarkan oleh Bian. "Tunggu deh, apa maksudnya tadi beliau mau mengantarku ke rumah sakit, ya?" Ucap Kinan mencoba memahami isi dari kalimat yang dilontarkan oleh Bian sebelum pergi. Ekspresinya menjadi terkejut begitu tersadar akan itu.


Tampaknya Bian memang hendak mengantarkan Kinan, terlihat ia yang dengan terburu-buru mengambil kunci mobilnya yang ada dikamar miliknya, bahkan ia juga sempat mengganti bajunya dengan yang lebih bersih dari baju yang ia gunakan saat ini.


Di sisi Kinan saat ini, meski dia tahu bahwa Bian hendak mengantarkannya ke rumah sakit, namun ia tetap pada posisinya saat ini, dan tak pergi dari tempatnya berdiri, mengingat dirinya yang tak ingin membuat Bian mencari keberadaanya nanti.


"Beruntungnya Aura tidak terlalu membutuhkan tasnya." Ucapnya yang mengacu pada tas yang sedari tadi ia pegang, dan dirinya yang tak langsung pergi kerumah sakit sesaat setelah mengambilkan tasnya.


"Kalau aku tinggal, apa beliau akan mencariku, ya?" Gumam Kinan melihat arah Bian pergi tadi.


Tak berselang waktu yang lama, Bian menghampiri Kinan kembali ketika sudah mendapatkan kunci mobilnya.


"Oh, kamu bawa motor ya kesini?" Ucapnya begitu tiba.


"Tidak, saya tadi kesini naik taksi." Jawab Kinan.


"Oh, ya! Syukurlah kalau begitu, tadi aku sempat lupa bertanya soalnya. Yasudah, akan aku antar kamu ke rumah sakit." Sambungnya lagi yang hendak menggiring Kinan menghampiri mobilnya segera.


"Itu.., maaf. Pak Bian kan tidak harus mengantarkan saya, saya bisa kok kesana sendirian." Kata Kinan merasa tak nyaman dengan Bian yang hendak mengantarnya ke rumah sakit.


Ekspresi tak nyaman Kinan tentu saja tak lepas dari pengamatan Bian. "Aku juga sekalian menjenguk karyawanku." Ucapnya kemudian, yang membuat Kinan tak lagi bisa mendebat akan ucapanya.


Dengan perlahan, keduanya pun menuju mobil milik Bian, dan segera menaikinya begitu menemukan mobilnya. Begitu berada dalam mobil, hanya ada kesunyian yang menghampiri mereka. Melihat ekspresi Bian yang terihat Biasa justru menambah beban tersendiri bagi Kinan yang kini tengah sekuat tenaga menahan rasa tak nyamanya.

__ADS_1


"Kalau bukan karena ucapannya tadi padaku, juga sikapnya yang aneh padaku, mungkin sekarang ini aku tak akan merasa canggung begini." Batin Kinan yang hanya bisa memandang pemandangan lewat jendela kaca mobil disampingnya.


...


"Eh, pak Bian." Aura yang tengah berbaring begitu kaget ketika melihat kedatangan Bian yang juga datang bersama dengan Kinan.


"Tidur saja lagi," Ujar Bian ketika melihat Aura yang hendak bangkit dari tidurnya.


"Ah, iya." Aura pun mengurungkan niatnya, dan memilih berbaring kembali, meski ekspresi wajahnya terlihat canggung karena tak menyangka akan kedatangan pemimpinya. Aura pun menatap Kinan untuk mencoba meminta penjelasan, namun tentu saja Kinan tidak bisa menjawabnya, dan hanya bisa memberikan kode gelengan kepala.


"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Bian.


"Itu.., saya baik-baik saja kok, pak. Kata dokter tadi hanya karena lambung saya yang sedikit bermasalah." Jawab Aura dengan wajah gugup menatap Bian dari dekat.


"Bukankah itu malah bahaya?"


"Oh, itu.. memang benar, tapi kata dokter tidak ada masalah yang serius. Saya hanya diminta untuk tidak makan pedas terlalu sering dan melewatkan makan saja, yang lainya tidak ada masalah." Jelas Aura masih dengan wajah tegangnya.


"Mana kakakmu? Kenapa kamu sendirian?"


"Oh itu, tadi dia pulang sebentar untuk mengambil pakaian saya." Jawab Aura lagi.


Bian mengangguk mengerti, dan tak mempermasalahkan hal itu lagi. "Yaudah kalau begitu, lebih baik aku tunggu diluar, biar kalian bisa ngobrol dengan leluasa." Ucapnya kemudian, yang memilih keluar dari ruangan inap Aura, dan memilih membiarkan Aura dan Kinan untuk mengobrol berdua.


Begitu Bian keluar, baik Kinan dan Aura terlihat menghela nafas lega setelah berada dalam suasana yang cukup tak nyaman karena canggung.


"Duh, mbak Kinan. Jantungku mau copot rasanya melihat pak Bian datang kesini!." Ujar Aura dengan nafas leganya menatap Kinan.


"Maaf ya, aku gak bilang kalau pak Bian kesini. Tadinya aku pikir beliau tidak ikut masuk, jadi aku cukup kaget tadi beliau ikut masuk kesini." Jelas Kinan yang ikut merasa lega dan sedikit merasa bersalah pada Aura yang terlihat kaget dengan kedatangan Bian.


"Tunggu, gimana ceritanya mbak Kinan bisa datang bersama pak Bian?" Tanya Aura yang masik tak faham.

__ADS_1


"Ah, itu..." Sepertinya Kinan juga merasa sedikit bingung untuk menjawabnya. "Aku sendiri juga bingung, saat aku mau mengantarkan tas milikmu, tiba-tiba saja beliau menawarkan kepadaku untuk mengantar ke rumah sakit." Lanjut Kinan.


"Hah! Meski begitu, ini tetap aneh menurutku."


"Menurutmu begitu ya! Akupun berfikir begitu, ini sedikit aneh dan membingungkan."


Kinan menjadi terpikirkan kembali akan sikap Bian padanya hari ini yang sedikit berbeda.


"Ah sudahlah, tujuanku datang hari ini mau mengembalikkan tas milikmu, sekalian ingin menanyakan kondisimu, apa benar kamu tidak kenapa-napa?" Kinan mencoba mengalihkan pembicaraan yang sedikit membingungkanya itu.


"Aku gak kenapa-napa mbak, kan mbak Kinan sudah dengar tadi waktu pak Bian tanya sama aku."


"Yah, siapa tau aja, tadi kamu bilang begitu cuma di depan pak Bian?"


"Justru karena tadi karena saking kaget dan gugupnya, aku jadi bilang jujur."


"Begitukah! Baguslah, lega rasanya setelah mendengarnya." Kinan tersenyum mendengar penjelasan dari Aura.


...


Setelah mengobrol sebentar dengan Aura, Kinan pun pamit pergi mengingat Bian yang menunggu dirinya diluar ruangan.


"Aura, aku pamit pulang dulu, ya! Kamu tidak apa kan aku tinggal semdirian?"


"Gak apa-apa kok mbak, nanti pacar, ah maksudku kakakku akan datang." Kelakar Aura membuat Kinan tersenyum.


"Yaudah, aku pergi ya kalau begitu." Pamit Kinan pada Aura.


"Ok, hati-hati mbak, tolong bilang terimakasihku pada pak Bian, ya mbak."


"Ok, nanti akan aku sampaikan pada beliau."

__ADS_1


Begitu Kinan pulang, Aura masih memasang ekspresi rasa penasaran melihat kedatangan Kinan bersama Kinan.


"Ada yang aneh sama mereka berdua." Gumamnya merasa aneh sendiri.


__ADS_2