
"Ada apa ya Ayu telfon di jam segini?" Batin Kinan menatap layar ponselnya yang terus berdering karena mendapat panggilan dari Ayu, yang merupakan adik dari Bayu.
"Halo." Ucapnya mengangkat panggilan telfon dari Ayu.
Kinan cukup kaget begitu mendengarkan balasan dari Ayu yang suaranya terdengar bergetar ketika ingin mengatakan sesuatu padanya, namun tertahan karena terlalu sulit untuk mengatakanya.
"Ayu, kamu kenapa? Ada masalah apa? Apa terjadi sesuatu sama kamu?" Tanya Kinan lagi yang tiba-tiba menjadi ikutan khawatir.
Dengan nada berat penuh kesedihan yang terdengar jelas dalam nada suaranya, Ayu pun mencoba menceritakan pada Kinan meski terdengar begitu sulit untuk mengatakanya secara langsung pada Kinan.
"Maaf mbak, mbak pasti kaget dengernya, akupun masih kaget juga." Kata Ayu yang juga bergetar ketika menceritakannya pada Kinan. "Karena sepertinya mbak Kinan perlu tahu, karena itu aku memberi tahu sama mbak Kinan, meski mas Bayu tadi melarangku karena pasti mbak lagi sibuk, apalagi ini masih jam kerja." Jelas Ayu dari sebrang telfonya.
Kinan terdiam, setelah mendengar penjelasan dari Ayu, tiba-tiba saja air matanya mengalir keluar dan membasahi pipinya. Ia seolah terguncang akan penjelasan Ayu dari seberang telfonya, sampai terpaku karena saking tak percayanya.
Menjauhkan ponselnya dari telinganya tanpa mematikan telfonya, Kinan menjatuhkan ponselnya kebawah dengan perasaan sedih begitu mendengar berita yang disampaikan oleh Ayu padanya.
Ia berlari dengan terburu-buru untuk segera menuju ketempat Ayu berada sekarang. Dengan air mata yang masih membasahi pipinya, Kinan dengan segera menuju ke ruanganya untuk menaruh kembali berkas-berkas miliknya yang tadi ia bawa dari ruang meeting, lalu mencoba mencari tasnya untuk bergegas pergi keluar.
Meski ia tahu masih ada beberapa jam lagi sebelum jam istirahat, Kinan mencoba untuk keluar hotel segera untuk bertemu dengan Ayu dan Bayu. Namun, ia sedikit dilema ketika melihat jam ditanganya.
"Apa aku tunggu saja ya? Aku kan tidak bisa keluar begitu saja." Ucapnya sedikit frustrasi dengan keadaanya yang tak bisa dengan segera untuk keluar, mengingat belum waktunya beristirahat.
__ADS_1
Meski hatinya tak tenang dan penuh kekhawatiran, namun Kinan tak bisa keluar begitu saja mengingat masih jam kerja, dan terlihat hotel sedang sibuk-sibuknya.
"Apa aku izin setengah hari saja ya?" Ucapnya lagi, lalu memutuskan untuk izin setengah hari, dan pulang lebih cepat hari ini. Dengan terburu-buru ia dengan segera keluar dari hotel tempatnya bekerja itu, berlari dengan cepat menuju tempat motornya berada, untuk segera menuju ke tempat Ayu berada saat ini.
"Apa lagi ini?" Shiva yang melihat dari kejauhan arah kepergian Kinan, dan izin setengah harinya, semakin membuatnya memandang tak suka pada Kinan. "Aku benar-benar gak suka sama dia." Gumamnya kesal memandang kepergian Kinan bersama motor maticnya.
......................
Katanya, kita tidak boleh terlalu bahagia? Karena jika terlalu larut dalam kebahagiaan, maka kesedihan pun juga akan menghampiri kita. Tapi, apakah itu benar? Bukankah kalimat itu sedikit kejam untuk kita? Padahal hanya sekedar ingin mengekspresikan diri saja.
Katanya bahagia dan kesedihan sudah saling terikat satu sama lain? Karena itu, seperti sudah digariskan oleh benang merah kehidupan, kita seolah tak boleh berlebihan dalam mengekspresikan diri. Sedikit lucu, namun kalimat itu ada benarnya juga, karena dimana ada kebahagiaan, makan disitu juga bisa ada kesedihan.
Saat kebahagian sederhana yang sedang menghampiri dirinya, kini dirinya seolah disadarkan pada kenyataan kehidupan, bahwa tak ada yang abadi di dunia ini, termasuk dengan kebahagiaan. Dunia terlalu kejam bagi dirinya yang sebelumnya tak pernah sekalipun berharap akan datangnya kebahagiaan yang menghampirinya. Namun, saat bahagia itu menghampiri dirinya tanpa diminta olehnya, bahkan terlalu nyaman akan itu, ia seolah dihempaskan kembali oleh pahitnya kehidupan.
Orang tua yang selalu menyambutnya hangat, yang juga begitu baik padanya, sangat berarti dimata Kinan, karena keduanya sudah ia anggap sebagai orang tua kandungnya sendiri. Dari mereka, akhirnya ia bisa merasakan kehangatan seorang keluarga. Selalu disambut baik setiap datang kerumahnya, membuat seorang Kinan akhirnya bisa merasakan arti dari rumah itu sendiri. Karena itu, ia tak bisa untuk tak bersedih setelah mendengar kabar dari Ayu.
Meski mencoba untuk tetap tenang dan fokus saat mengendarai motornya, tak bisa dipungkiri bahwa hati Kinan tak bisa menyembunyikan kesedihannya setelah mendengar berita duka tentang orang tua Bayu dan Ayu, yang sudah seperti orang tua kandungnya sendiri.
"Mas Bayu," Panggil Kinan melihat sosok Bayu yang tengah berbincang dengan Ayu.
"Kinan?" Bayu tampak kaget melihat kehadiran Kinan dirumah sakit, karena tak merasa pernah memberitahunya. Namun ia seperti sudah faham, setelah menoleh ke arah Ayu. "Kamu bilang ke Kinan?" Tanya Bayu pada sang adik.
__ADS_1
"Iya, meski mas Bayu akan marah sama Ayu, tapi mbak Kinan harus tau soal ini mas, nanti kalau ibu sama bapak sudah dimakamkan, mbak Kinan pasti akan sedih nanti." Jelas Ayu mencoba meminta pengertianya pada sang kakak.
Bayu pun tak bisa mendepat apa yang dikatakan oleh Ayu, ia mau tak mau menerimanya karena Kinan sudah terlanjur datang ke rumah sakit.
"Kamu kesini bawa motor?" Tanya Bayu beralih pada Kinan yang sudah ada di depan mereka saat ini.
"Iya, aku memutuskan untuk izin masuk setengah hari ini, karena ingin tahu keberadaan ibu sama bapak. Mereka tidak apa-apa kan, mas?" Kata Kinan berharap agar kabar yang ia terima tadi itu salah.
Bayu menghela nafas sejenak, lalu mencoba memegang kedua lengan Kinan yang tampak sedih, "Mas tahu kalau kamu sedih setelah mendengarnya, tapi bahaya tau kalau kamu membawa motor dengan keadaan begini, ayo duduk dulu, nanti mas ceritakan semuanya." Pintanya lalu menggiring Kinan untuk duduk dikursi.
"Ayu tolong bawakan minuman untuk Kinan." Pinta Bayu pada Ayu.
"Ok." Ayu pun menjauh dari hadapan Kinan dan Bayu, untuk mencari air dikantin rumah sakit. Membiarkan sejenak Bayu dan Kinan untuk berbicara berdua.
...
Tak ada suara, hanya tangisan yang terus mengalir dari Kinan setelah mendengar penjelasan dari Bayu. Ia menangis mendengar kabar bahwa kedua orang tua Bayu telah tiada. Pak Wage yang sebelumnya dirawat setelah sempat serangan jantung, ikut menyusul kepergian istrinya.
"Huu..huu..huu..," Tangis Kinan yang meratapi kepergian orang tua Bayu, "Aku gak tau kalau kemarin adalah pertemuan terakhir kita, kalau aku gak datang, apa akan beda?" Gumamnya yang tersadar kedatangan kerumah Bayu kemarin malam.
"Kamu datang atau tidak, hasilnya pasti akan sama, karena bukan kita yang bisa menentukan." Balas Bayu yang mencoba menenangkan Kinan yang terus menamgis dalam pelukanya.
__ADS_1
"Kinan memang bukan anak mereka, tapi karena Kinan mengenal baik orang tua mas Bayu, membuat Kinan jadi ikutan bersedih dengan kepergian mereka. Maaf ya mas, kalau Kinan jadi menambah beban disini, pasti mas Bayu dan Ayu yang justru lebih sedih dari Kinan." Ucap Ayu yang merasa bersalah karena terlalu emosional, dan perlahan mencoba menghapus air matanya.
"Kenapa kamu minta maaf, justru aku berterimakasih sama kamu, karena sudah kamu wakilkan untuk menangis." Ucap Bayu yang sedari tadi mencoba untuk tegar.