
"Bi, kok lemes aja sih. Ayo dong semangat." Seru Adel dengan ceria, menghampiri Bian yang masih tertinggal dibelakangnya.
"Ini juga semangat kok." Balas Bian mengikuti kemanapun Adel pergi, meski dengan langkah pelan.
"Apanya yang semangat, dari tadi merenung aja gitu." Cemberut Adel melihat Bian yang terlihat tak semangat sedari tadi.
"Mungkin aku hanya lelah, habisnya dari tadi muter-muter mulu." Keluh Bian pada kondisi tubuhnya yang sudah terlihat kepayahan.
"Ya kalau gak muter, namanya bukan jalan-jalan dong, Bi." Balas Adel tetap menyuruh Bian segera mengikutinya. "Duh, tapi sayang banget Adnan gak ikut. Mana ini juga waktunya pendek banget, lagi?." Kata Adel sedikit menyayangkan jalan-jalan mereka tanpa ditemani oleh Adnan, dan hanya sebentar jalan-jalanya, karena keterbatasan waktu, dan dia yang harus balik nanti malam.
Menikmati hari bersama Adel, dengan mengitari beberapa tempat wisata di jogja, tak pernah sekalipun ada dalam bayangan Bian sebelumnya setelah datang ke jogja, karena tujuanya hanya segera menyelesaikan masalah hotel. Meski sedikit lelah, namun nyatanya ia cukup menikmati jalan-jalanya bersama Adel, mungkin karena dia yang sudah terlalu lama tak berjalan-jalan di luar, sehingga merasa sedikit refresh.
"Sudah mau siang nih, kita cari makan, yuk? Kan, sedari tadi kita muter mulu." Ajak Bian pada Adel yang masih terlihat semangat, dan menikmati jalan-jalanya.
"Bentar, aku mau foto ini dulu, nanti kita makan setelah aku menyelesaikannya, ok." Kata Adel yang masih sibuk memotret pemandangan.
Bian hanya bisa pasrah, dan mengikuti alur dari Adel. Ia menunggu Adel sampai selesai memotret sembari meneguk minuman yang ia bawa. Namun saat meneguk minumanya,tiba-tiba saja netra matanya menangkap seseorang yang ia kenal. Bahkan tanpa sadar menatapnya penuh lekat, untuk memastikan apa yang dilihatnya saat ini benar adanya.
"Bi, aku sudah selesai, ayo cari makan. Aku udah lapar juga ternyata." Panggil Adel pada Bian yang saat ini terfokus pada sesuatu.
"Bi," Panggil Adel lagi sedikit lebih keras.
"Ah, ada apa?" Bian tersadar dengan panggilan Adel, lalu menoleh ke arahnya segera. "Oh, kamu sudah selesai memotretnya. Yaudah kita jalan sekarang?" Ucapnya melihat Adel yang terlihat selesai memotret.
"Iya, aku sudah selesai. Tapi, kamu lagi lihatin apa, sih? Sampai aku panggil gak dengar gitu?" Tanya Adel penasaran dengan melihat ke arah pandangan Bian tadi.
"Oh, itu.. " Tiba-tiba Bian menjeda kalimatnya seolah tak bisa mengatakanya. "Bukan apa-apa kok, yaudah kita makan saja, ya? Soalnya aku sudah lapar banget, nih." Ucapnya lagi, mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Yaudah ok." Adel mengikuti Bian, dan tak lagi mendebat apa yang dilihat oleh Bian tadi, meski sebenarnya ada sedikit rasa penasaran disitu.
Kenapa dia gugup setelah aku tanya, ya? Memangnya apa yang dia lihat, tadi? Batin Adel sesekali meleirik ke arah Bian dengan penuh rasa penasaran.
__ADS_1
...
Pukul 16.00 waktu setempat mereka balik ke hotel setelah seharian ini mengitari sudut kota. Terpancar rasa kepuasan dari wajah Adel sekembalinya dari jalan-jalanya.
"Wah mereka berdua keluar bersama selama seharian ini, lho." Celetuk seorang staff melihat kedatangan Adel dan Bian ke hotel.
"Iya, ya. Hubungan keduanya juga kayanya lebih dari teman dekat deh. Lihat tuh mereka saling bercanda gitu, mana lengket banget lagi kaya perangko." Timpal lainya yang penuh kepo pada hubungan bos dan teman wanitanya.
Saat mereka tengah kepo dengan hubungan Bian dan Adel, terlihat kedua teman ini begitu menikmati momen mereka saat ini. Bahkan banyak barang yang mereka bawa sekembalinya mereka dari jalan-jalan, dan Bian bagian yang membawakan barang yang dibeli oleh Adel.
"Kamu beli barang segini banyaknya, memangnya nanti muat kopernya?" Kata Bian yang terlihat terkejut dengan belanjaan Adel yang sedang ia bawa saat ini.
"Em.. Iya juga, ya." Adel terdiam melihat belanjaanya yang cukup banyak, mengingat hari ini dia tak membawa banyak koper.
"Gimana dong sekarang? Masa aku tinggal sih belanjaanya?" Ucapnya lagi dengan bingung menatap berlanjaanya yang cukup banyak itu. "Ah, pinjam koper milik kamu aja, gimana?" Ingatnya kemudian, lalu menatap ke arah Bian dengan penuh harap.
"Yaudah pakai aja." Jawab Bian tak bisa menolak.
"Yeay, nanti antar koper milik kamu ke kamarku, ya? Soalnya sekarang aku mau siap-siap packing, dan sekalian mandi juga." Kata Adel setelah menaruh belanjaanya di atas meja.
"Ok, sampai ketemu nanti, Bi." Lambai Adel pada Bian yang hendak keluar dari kamarnya, yang juga mendapat balasan dari Bian.
...
Disaat Adel yang terlihat masih bersemangat setelah pulang dari jalan-jalan, Bian justru terlihat kelelahan. Raut wajahnya saat menuju kembali ke kamar, begitu tak bersemangat, bahkan banyak menghela nafas dalam perjalanan ke kamarnya. Mungkin ini kali pertama baginya melakukan jalan-jalan seharian penuh, hingga tubuhnya tak bisa beradaptasi akan hal itu.
"Aku benar-benar capek banget, rasanya lebih enak seharian dikamar." Gumamnya sembari terus berjalan ke arah kamarnya.
Namun, dipertengahan jalannya, tiba-tiba saja ingatanya tersadar akan sesuatu. Dengan menghentikan langkahnya, ia memikirkan kembali hal itu. Dan, tanpa sadar memberikan ekspresi yang terlihat cukup kesal.
"Maaf, pak?" Sapa Dimas ketika melihat Bian yang terlihat berdiam diri di area menuju kamarnya.
__ADS_1
"Oh, Dimas. Kamu belum pulang ternyata?" Bian menyapa balik Dimas yang baru keluar dari arah kamarnya.
"Ini saya baru mau pergi, dan kebetulan tadi saya melihat anda, jadi saya menghampiri anda."
"Ada apa? Apa kamu butuh sesuatu? Atau, ada masalah sama hotel?"
"Ah, bukan, hanya ada beberapa proposal yang ingin persetujuan dari anda. Karena itu, saya ingin anda untuk melihatnya."
"Ah, ok. Nanti aku akan lihat. Tapi, apa saat ini sudah kamu taruh proposalnya dikamarku?" Tanya Bian sembari melanjutkan langkahnya menuju kamarnya.
"Belum, karena anda tak ada, jadi saya membawanya lagi. Akan segera saya taruh kembali di kamar anda."
Keduanya pun melangkah ke arah kamar Bian. Dimas mencoba menaruh kembali proposal yang ia bawa ke kamar Bian, dan Bian yang ingin segera masuk ke dalam kamarnya untuk mandi.
"Oh iya, kamu cuma menaruh proposal utu aja, kan?" Tanya Bian pada Dimas.
"Iya, pak."
"Oh, kalau begitu, apa aku boleh minta tolong sebentar sama kamu? Bisa, kan?"
"Iya, saya bisa pak. Memangnya apa yang harus saya bantu untuk anda?"
Bian terlihat mengeluarkan sesuatu dalam lemarinya.
"Tolong antarkan koperku ke kamar Adel? Kamu tau kamarnya, kan?" Ucapnya kemudian, sembari menyerahkan kopernya pada Dimas.
"Iya saya tau, pak. Baik, akan segera saya berikan kopernya." Balas Dimas menerima kopernya.
"Kalau Adel tanya aku mana, bilang aja aku lagi mandi." Kata Bian sebelum Dimas pergi.
"Baik, kalau begitu saya permisi." Dimas pamit undur diri dari hadapan Bian sembari membawa kopernya.
__ADS_1
Dalam kamar, Bian melentangkan sejenak tubuhnya pada tempat tidurnya setelah Dimas meninggalkan seorang diri.
"Sial, aku masih kepikiran soal tadi."