
Hari itu adalah waktu sore menjelang pergantian shift hotel. Kinan memberanikan diri untuk datang ke ruangan Bian. Dia hanya ingin mengucapkan rasa terimakasihnya pada Bian, karena telah menemukan buku harianya.
Namun, yang terjadi saat ini diantara keduanya di dalam kamar luas itu sedikit di luar dugaan.
"Maaf pak, apa masih ada hal yang anda butuhkan dari saya?" Tanya Kinan di tengah kebingunganya.
Bian masih terdiam dan menatap lekat wajah Kinan. Ia bahkan masih memegang lengan Kinan.
"Pak," Panggil Kinan mencoba menyadarkan Bian.
"Ah.. maaf,." Katanya kemudian melepas tangan Kinan yang dipegangnya. "Itu.. aku cuma mau bilang, lain kali jangan ceroboh bawa-bawa buku harian ke perpustakaan." Sambungnya dengan ekspresi canggung.
"Oh anda menemukanya di perpustakaan?" Ucap Kinan semangat.
"Iya, aku menemukanya disana."
"Ah.. sekarang aku ingat, mungkin terjatuh waktu saya membersihkan perpustakaan kemarin. Maaf saya tidak akan ceroboh lagi kedepanya." Ingat Kinan dan menyesali kecerobohanya.
"Iya, lain kali cukup hati-hati saja. Bukunya aku temukan di atas meja dan sedang terbuka."
"Di atas meja? terbuka?" Mata Kinan terbelalak, lalu menatap Bian dengan penuh rasa tanya.
Bian menangkap sorotan mata Kinan yang tengah menatapnya penuh rasa penasaran, ia jadi sedikit terkejut melihatnya.
"Ah.. aku tidak berniat membacanya, hanya tidak sengaja kebaca karena bukunya terbuka." Jelas Bian tentang sebenarnya.
"Oh itu.., bukan maksud saya untuk menuduh anda kok, kalau bukan karena anda bukunya pasti tidak akan ketemu. Jadi, saya berterimakasih." Senyum Kinan merasa kikuk, namun disatu sisi merasa lega juga.
"Itu.. kalau begitu saya permisi, terimakasih sekali lagi." Bungkuk Kinan, dan berlalu keluar dari kamar Bian dengan perasaan lega sekaligus senang karena bisa dengan segera mengucapkan kata terimakasih.
"Em.." Balas Bian.
Dia sudah 3 kali bilang terimakasih.
Bian menatap punggung Kinan yang mulai menjauh dari hadapanya. Sorot matanya menatap begitu lekat dari belakang.
...
Kinan datang ke tempat penyimpanan tasnya. Saat hendak masuk, ia menemukan Shiva tengah berada di dalam. Ia masuk dengan tenang dan mencoba segera mengambil tasnya.
"Kamu habis dari kamar pak Bian?" Tanya Shiva tanpa basa-basi.
__ADS_1
"Iya, kok kamu bisa tau?"
"Aku gak sengaja lihat kamu jalan ke arah kamar beliau. Tapi.. bukanya pak Bian gak lagi manggil kamu ya? ada urusan apa kamu kesana?" Tanya Shiva lagi.
"Ah.. itu, tadi aku mengantarkan teh hijau ke beliau, sambil bilang terimakasih karena sudah menemukan buku harianku." Jelas Kinan sembari tersenyum.
Bukanya dia terlalu sering dateng ke kamar pak Bian ya? caper banget sih.
Shiva tak lagi bisa menyembunyikan rasa tidak sukanya pada sikap Kinan.
"Padahal kamu sudah pernah dapat rumor buruk, bisa-bisanya kamu gak hati-hati ya? bukanya kamu terlalu naif ya!." Ucap Shiva penuh penekanan dan melirik tak suka pada Kinan.
Kinan menatap Shiva bingung.
"Apa maksud kamu?" Tanyanya kemudian.
Shiva menyeringai tak percaya.
"Hey, kamu itu manajer disini, bagaimana kamu bisa setidak peka begini sih?" Cibir Shiva yang secara terang-terangan mulai menunjukkan rasa tidak sukanya pada Kinan.
"Maaf, aku benar-benar gak faham dengan apa yang kamu maksud." Jawab Kinan masih mencoba tenang.
"Gak usah berlagak polos. Apa sekarang kamu juga merayu pak Bian?" Ejek Shiva.
"Aku gak tau kalau ternyata kamu lebih percaya sama rumor omong kosong semacam itu." Balas Kinan mencoba tetap tenang.
"Rumor? omong kosong?" Shiva tertawa mendengarnya. "Kalau tidak, lalu apa? gak mungkin kan anak sepertimu ada diposisi seperti ini kalau tidak dengan cara itu. Masa sih itu bohong?" Seringai Shiva menatap rendah Kinan.
Kinan menatap tak percaya melihat Shiva di depanya. Orang yang selama ini dia anggap teman dan rekan yang baik, tiba-tiba berbicara seperti ini padanya, dan lagi menunjukkan rasa tidak sukanya kepada dirinya secara terang-terangan.
"Terimakasih sudah mengingatkan, tapi asal kamu tau." Kinan menjeda kata-katanya sembari menahan marah. "Aku berada di posisi ini karena usahaku sendiri, bukan seperti rumor yang beredar, dan.. aku cukup bangga dengan itu." Balas Kinan menatap berani mata Shiva.
"Bangga ya? kamu lucu banget ya.." Ucap Shiva menatap jijik Kinan.
Shiva terlihat tak suka mendengar jawaban dari Kinan, ia keluar dengan perasaan kesal bahkan menyenggol Kinan dengan keras.
Begitu Shiva keluar, Kinan menyender lemas. Ekspresinya berubah sedih karena mengingat perkataan buruk itu keluar dari Shiva, rekan yang selama ini dia percaya. Padahal selama ini Shiva selalu baik padanya dan selalu memberi support padanya, ternyata ia baru tahu kalau sebenarnya dia tak suka denganya.
...
Hari semakin petang, pergantian shift sudah di lakukan sejak pukul 3 sore tadi. Namun, Kinan masih tinggal di hotel dan menyibukkan diri dengan berbagai pekerjaan yang sebenarnya sudah tidak ia lakukan.
__ADS_1
"Ibu belum pulang, tumben masih di hotel?" Tanya salah seorang staff pada Kinan yang masih sibuk di dalam hotel.
"Ah, iya. Kebetulan juga ini mau pulang, tadi aku cuma lagi bantu sedikit soalnya tamu lagi ramainya kan." Jawab Kinan.
"Iya sih, tapi ini kan tugas kami. Jadi, biar kami saja yang melakukanya." Ucapnya lagi merasa tak nyaman karena di bantu oleh Kinan.
"Ah gitu ya, kalau begitu aku pergi dulu ya. Selamat bertugas." Ucap Kinan sedikit merasa tak enak pada mereka.
Ia menghela nafas panjang, mengingat kembali obrolanya dengan Shiva yang membuatnya merasa kacau dan jadi tak bersemangat. Karena hal itu juga, membuatnya teringat akan obrolan rekan-rekanya yang tengah membicarakan dirinya di belakang tadi.
Tak lagi memperdulikanya, ia dengan segera pulang, meski ekspresinya masih tak baik.
"Semangat Kinan." Ujarnya menyemangati dirinya sendiri dan bergegas keluar hotel.
...
Di dalam kamarnya, Bian tengah mendengar laporan yang ia perintahkan pada Dimas tadi.
"Kinanti Agustine, anak yatim piatu yang besar di panti asuhan sejak masih bayi. Usianya saat ini baru 25 tahun, ia pernah tinggal di panti asuhan hingga usia 18 tahun, dan mulai pindah ke jogja untuk melanjutkan kuliahnya. Ia mendapat beasiswa di salah satu universitas disini, dan lulus lebih awal." Jelas Dimas soal profil Kinan yang diminta oleh Bian sebelumnya, sembari menyodorkan laporannya.
Bian menatap lekat isi laporan yang di berikan oleh Dimas. Ia tak memalingkan sedikitpun saat melihatnya.
Kenapa beliau ingin tahu soal manajer baru itu ya? - Batin Dimas agak penasaran.
"Dia tinggal dimana sekarang?" Tanya Bian kemudian.
"Dia tinggal di sebuah kosan yang tak jauh dari lokasi hotel." Jawab Dimas.
"Dia tinggal sendiri?" Tanya Bian lagi, yang tak memalingkan wajahnya dari laporan tadi.
"Iya, dia tinggal seorang diri."
Sejenak ia terdiam dan tiba-tiba membelalakan matanya begitu melihat sebuah kalimat mengejutkan yang tertera dalam laporan.
"Cinta Kasih?" Ucapnya menatap nama panti asuhan tersebut yang begitu familiar. Nama yang sama yang pernah ia temukan didalam buku harian Kinan, hingga akhirnya membuat Bian yakin dan meminta bantuan Dimas untuk mencari tahu soal kebenaran ini.
"Tunggu, panti asuhanya pernah terbakar?" Bian membelalakan matanya karena keget, "Kapan itu yerjadi? lalu apa yang terjadi padanya? dan lainya juga?" Tanya Bian kemudian, menatap Dimas dengan ekspresi kaget dan penasaran begitu melihat fakta yang baru diketahuinya itu.
"Itu.. benar, tepatnya 17 tahun yang lalu. Semua anak-anak panti tidak ada yang terluka, hanya saat itu anak bernama Kinan pingsan dan menjadi hilang ingatan karena kejadian itu. Dan, ada 1 anak juga yang hilang keberadaanya setelah peritiwa tersebut." Jelas Dimas.
"Hilang ingatan?" Gumam Bian tak percaya begitu mendengarnya. "Kenapa bisa hilang ingatan? apa kamu tau soal ini?"
__ADS_1
"Dia tertimpa bangunan yang jatuh ketika menerobos keluar, dan yang saya dengar karena terlalu shock, dia menjadi kehilangan ingatanya." Jelas Dimas lagi.