
Meski hari semakin malam, namun obrolan keduanya terus berlanjut sampai rasa kantuk yang dirasakan pun ikut menghilang. Obrolan yang canggung namun menghangatkan membuat Bian maupun Kinan diliputi rasa bahagia, karena akhirnya bisa mengobati rasa kerinduan yang keduanya rasakan setelah harus terpisah sejenak. Melalui sambungan telfon dan mendengar suara masing-masing setidaknya mampu mengobati rasa kerinduan yang ada.
Ada senyum yang mengembang di sudut bibir keduanya saat mengobrol bersama, seolah tak bisa menyembunyikan rasa senangnya ketika mendengar langsung suara orang yang di suka. Terlebih Kinan, tak berhenti merasa bahagia hanya dengan mendengar suara Bian, orang yang sedang ia rindukan keberadaanya.
"Ada hal yang ingin aku katakan padamu sebenarnya, tapi aku belum bisa mengatakannya sekarang, terutama lewat sambungan telfon ini." Ujar Bian melalui sambungan telfonnya.
"Ada yang ingin anda katakan pada saya? Apa.. itu, kak?" Kinan yang merasa bingung, mencoba menanyakan kembali maksud perkataan Bian.
"Hmm.., apa ya? Mungkin, suatu hal yang akan membuat kamu senang jika mendengarnya." Ucap Bian yang tak ingin mejelaskannya.
Kinan yang mendengar jawaban itu tentu semakin dibuat bingung dan penasaran oleh perkataan Bian, terlebih Bian mengatakan hal yang katanya akan membuatnya merasa senang ketika mendegarnya, hingga mau tidak mau membuatnya terus bertanya-tanya akan hal itu.
Katanya aku akan senang saat mendengarnya? tapi, apa itu? dan, hal apakah yang membuatku senang saat mendengarnya?
Kinan hanya bisa membatin untuk mencari jawabannya sendiri dari rasa penasaranya akan perkataan Bian.
"Kamu pasti bertanya-tanya, kan, soal yang ku maksud tadi? Tapi, maaf, ya, sepertinya aku belum bisa mengatakannya sekarang sama kamu. Nanti jika kita sudah bertemu kembali dan saling bertatap muka, saat itulah akan aku katakan soal ini padamu." Ujar Bian menjelaskan dan seolah bisa menebak dengan Kinan yang akan penasaran pada kata-katanya.
"Ah, iya, saya tidak apa-apa." Balas Kinan sedikit kecewa, mengingat Bian belum bisa memberitahukan maksud yang ia katakan.
Meski ekspresi dan perasaanya sedikit penasaran, namun Kinan tetap menahan rasa penasaran itu dengan memilih menunggu sampai Bian mengatakan langsung padanya nanti.
"Oh iya, bagaimana soal hotel selama aku tinggal sebentar?, tidak ada masalah, kan?" Kali ini Bian menanyakan seputar hotel, mencoba mengalihkan sejenak isi obrolan mereka dan sejenak berbicara seputar pekerjaan.
"Ah, iya, tidak ada masalah yang serius dan semua baik-baik saja kok pak, jumlah pengunjung juga ada kenaikan meski tidak terlalu banyak." Jawab Kinan.
"Gitu ya, baguslah kalau begitu, kamu handle sebentar ya, soalnya aku pasti akan kembali kesana lagi, hanya saja mungkin tidak dalam waktu dekat ini, karena tugasku yang ada dikantor pusat masih belum selesai." Ujar Bian.
__ADS_1
"Baik, akan saya lakukan." Jawab Kinan berubah pada mode formal saat Bian membahas soal pekerjaan.
"Aku juga masih ada agenda untuk datang ke acara ulang tahun teman dekatku yang akan di adakan beberapa hari lagi, jadi kemungkinan setelah acara itu, aku akan langsung kembali kesana dan bertemu kamu, jadi tolong tunggu aku sampai hari itu." Kata Bian, yang sedang memberikan penjelasan pada Kinan.
"Iya, saya mengerti kok, kak, saya akan menunggu anda disini." Dengan nada pelannya, Kinan menjawab perkataan Bian.
"Terimakasih karena sudah mau mengerti, pasti berat, kan, tidak ada aku disana?"
Perkataan Bian itu sedikit memebani Kinan, karena kalimatnya yang terakhir yang entah mengapa sedikit membuatnya canggung.
"Ah, itu.., iya, tapi karena ada rekan lainya yang juga ikut membantu saya, saya pun juga tidak merasa kerepotan dalam mengurus hotel." Jawab Kinan kemudian.
"Oh ya? Aku senang mendengarnya kalau begitu."
Meski tak terlihat, Kinan seolah bisa merasakan kalau Bian sedang tersenyum dibalik sambungan telfonnya dan ia pun juga ikut menyunggingkan senyum simpulnya.
Sempat ragu saat hendak mengatakannya, Bian pun akhirnya menyampaikan hal lainya yang ingin ia katakan saat nanti bertemu dengan Kinan sekembalinya dia dari kantor pusat.
Mendengar kembali perkataan yang mengejutkan dari Bian, lagi-lagi membuat Kinan merasa bingung dan sejenak ada rasa tidak nyaman yang dirasakan oleh hatinya, seolah bisa merasakan perasaan itu, meskipun ia sendiri belum mengetahui apa itu.
"Apa yang ini akan membuat saya sedih?" Ucap Kinan beralih bertanya.
"Aku merasa iya." Jawab Bian dengan nada yang sedikit berat saat menjawabnya.
Kinan kembali merenungkan itu, membuatnya kembali berfikir tentang kalimat yang hendak Bian katakan padanya nanti. Pada hal yang membuatnya senang saat mendengarnya maupun sesuatu yang membuatnya sedih saat mendengarnya.
"Tapi, kamu tenang saja, karena meski sedikit menyedihkan saat mendengarnya, aku masih bisa meyakinakamu soal ini, terutama soal hak lainya yang akan membuat kamu senang saat mendengarnya."
__ADS_1
Bian yang melihat Kinan jadi diam, mencoba menenangkanya dengan memberikan pengertianya untuk tak menghawatirkan hal yang terlanjur ia katakan.
"Jangan dipikirkan terlalu dalam, ya." Ujarnya yang kembali menenangkan Kinan.
"Iya." Dengan nada pelan dan berat, Kinan pun akhirnya membalas perkatana Bian.
"Besok, kamu akan masuk kantor, kan?" Tanya Bian kemudian.
"Iya." Jawab Kinan.
"Mungkin besok akan ada sebuah paket yang datang ke hotel, nanti kamu terima ya, dan kalau kamu sudah menerima paketnya, tolong kabari aku secepatnya." Ujar Bian.
"Baik."
"Kamu marah, ya sama aku?" Mendengar jawaban Kinan yang cukup singkat dan terlihat tak bersemangat membuat Bian menyadari akan perubahan itu dan menanyakan langsung pada Kinan.
"Ah, tidak kok, pak ah.. kak maksudku." Sanggah Kinan dengan segera dan akhirnya membuatnya tersadar akan kesalahannya.
"Yasudah kalau begitu, mungkin sebaiknya lebih baik kamu tidur, aku sudah menahanmu terlalu lama, besok kita lanjutkan lagi obrolan ini." Ucap Bian yang tak ingin menahan Kinan lebih lama, mengingat hari yang semakin malam.
"Kalau begitu, saya tutup dulu telfonnya. Selamat tidur, kak." Ucap Kinan sembari memberi ucapan selamat tidur pada Bian.
Mendengar hal itu, tentu saja langsung membuat sudut bibir Bian mengembang, karena merasa senang.
"Ok, selamat tidur juga." Balas Bian tersenyum mendengar ucapan selamat tidur dari Kinan.
Obrolan keduanya pun akhirnya berakhir dan berakhir dengan saling memandang pada layar ponsel masing-masing yang tertera nama orang yang mereka suka. Bian dan Kinan menatapnya dengan perasaan dan fikiran masing-masing. Setelah sejenak memandangi layar ponsel masing-masing, seolah masih enggan untuk mengakhiri obrolan, keduanya pun akhirnya membaringkan tubuh mereka dan kemudian mencoba memejamkan kedua mata untuk tidur.
__ADS_1