
Matahari semakin menunjukkan eksistensinya. Menggeser bulan dengan sinarnya yang terang hingga memunculkan sinar mentari.
Tertidur pulas setelah membaca sebuah buku. Dengan buku yang masih berada disampingnya, ia terbangun setelah cahaya mulai masuk pada sela-sela jendela tempatnya tertidur saat ini. Menatap langit, dan dilihatnya penuh terang. Bian mencoba tersadar dari tidur singkatnya dengan mencoba mengatur ekspresi wajahnya. Buku yang sempat ia baca, masih terbuka dan sedikit lecek karena tertimpa lenganya.
Ia coba tutup dan coba rapikan kembali, sebelum akhirnya ia kembalikan ketempatnya semula. Namun, tiba-tiba saja langkahnya terhenti, ketika seseorang membuka pintu perpustakaan.
Netra matanya bertemu pada orang yang membuka perpustakaan. Saling menatap dan sama-sama memberikan ekspresi terkejut dengan kebetulan ini.
"Selamat pagi. Maaf, saya tidak tahu kalau anda ada disini." Ucap Kinan mencoba menyapa Bian. Meski sebelumnya agak kaget dengan kehadiran Bian yang tengah berada di perpustakaan.
Kinan memang tak tahu kapan kepulangan Bian, namun dia tak mengira akan jadi secepat ini, apalagi begitu tiba-tiba seperti ini.
"Maaf kalau saya mengganggu, kalau begitu saya pergi dulu." Ucap Kinan, mencoba keluar kembali karena merasa mengganggu Bian.
"Kamu mau membersihkan perpustakaan?" Tanya Bian, menghentikan langkah Kinan yang hendak keluar.
"Iya." Jawab Kinan tak jadi pergi.
"Bersihkan saja, aku cuma mau menaruh buku ini saja." Kata Bian lalu menaruh kembali buku yang dipegangnya.
Kinan mengangguk mengerti, lalu mencoba masuk lebih dalam area perpusatakaan, dan mulai membersihkan perpustakaan, meninggalkan Bian yang hendak keluar.
Saat akan keluar, Bian menghentikan langkahnya, mencoba melihat apa yang dilakukan oleh Kinan. Sejenak dia terdiam menatapnya, seperti ada yang ingin dikatakan, namun tertahan karena ragu.
Meski ruangannya tak terlalu luas, namun karena beberapa tumpukan buku membuat Kinan tak sadar bahwa Bian masih berada disana dan tengah mengawasinya. Karena dia yang hanya fokus pada pekerjaanya, hingga tak memperdulikan sekelilingnya.
"Kinan ada..."
"Aahh..." Teriak Kinan begitu mendengar seseorang yang tiba-tiba memanggilnya saat sedang membersihkan sela-sela rak buku.
Kinan terkejut dan hampir terjatuh tertimpa buku, beruntung Bian menghalaunya dengan cepat hingga bukunya tak jadi menimpa kepala Kinan, juga menahan tubuhnya agar tak terjatuh ke lantai.
Serasa dipeluk oleh Bian, membuat Kinan sedikit terkejut, dan dengan segera melepaskan tubuhnya dari tangan Bian yang tengah menahan tubuhnya.
"Maaf pak, tadi saya sedikit kaget." Kata Kinan sedikit canggung.
Tak hanya Kinan, Bianpun jadi merasa canggung. Seketika suasana diantara keduanya jadi terasa kikuk.
__ADS_1
"Ehem.., maaf kalau tadi mengagetkan." Kata Bian kemudian, memecah kecanggungan.
"Ah.. Iya, tidak apa-apa." Balas Kinan agak pelan dan camggung. "Maafkan saya kalau tadi tiba-tiba teriak, begitu anda panggil tadi." Balas Kinan lagi agak malu menatap Bian.
Ia lalu mencoba meraih buku yang terjatuh ke lantai untuk ditaruh kembali ke dalam tempatnya semula. Namun, tiba-tiba saja Bian ikut membantunya dengan berjongkok di depan Kinan, hingga membuat Kinan sedikit terkejut.
"Maaf pak, biar saya saja yang membersihkan." Kata Kinan.
"Tidak apa-apa, aku ingin saja. Bukunya juga jatuh karena aku." Ujar Bian yang ikut meletakkan beberapa buku ke dalam raknya kembali.
"Sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan padamu tadi.." Ucapnya lagi, menatap Kinan disampingnya, setelah selesai menaruh sebuah buku di dalam rak bukunya.
"Pada saya?" Bingung Kinan, dan mendapat anggukan kecil dari Bian.
"Apa kamu benar-benar tidak mengenalku?" Ucap Bian lagi mencoba memastikan.
Ucapanya tersebut, tentu saja membuat Kinan kaget sekaligus bingung dengan maksud dari Bian.
"Maaf pak, saya benar-benar tidak mengerti maksud anda." Balas Kinan menatap Bian bingung.
Ekspresi bingung dari Kinan membuat Bian terdiam. Namun, tiba-tiba saja dia maju satu langkah di depan Kinan, hingga sontak membuat Kinan terkejut dan tak berani menatapnya dari dekat.
Tentu saja pengakuan yang tiba-tiba dari Bian membuat Kinan terkejut, hingga membuatnya terpaku karena saking tidak mempercayainya.
"Apa kamu ingat sekarang?" Tanya Bian mencoba menyadarkan Kinan yang tengah terpaku.
"Ah.. itu.., iya, saya mengingatnya sekarang." Jawab Kinan pelan dengan sedikit terbata karena masih tak percaya dengan yang di dengarnya. "Maaf, saya tidak mengenali anda sebelumnya." Lanjutnya, lalu mencoba menatap Bian yang berdiri dekat denganya.
"Tidak apa, akupun begitu. Kalau bukan karena kalung kunci itu, mungkin juga aku akan lupa." Kata Bian tersenyum simpul menatap Kinan. "Aku mengatakan ini, hanya ingin menepati janjiku dulu. Maaf, jika membutuhkan waktu yang lama." Lanjut Bian.
"Ah.., iya." Balas Kinan sedikit canggung.
Setelah itu, tiba-tiba saja susana kembali hening dan canggung di antara keduanya. Kinan hanya bisa menunduk tak tahu harus berbuat apa sekarang setelah mengetahuinya, begitupun Bian yang ikut terdiam sembari sesekali melirik ke arah Kinan.
"Yasudah, tadi aku cuma mau bilang itu saja. Lanjutkan pekerjaanmu lagi." Kata Bian memecah keheningan dan membuat gestur tubuh yang canggung. Ia lalu pamit pergi dari hadapan Kinan.
Begitu Bian pergi, Kinan masih diam terpaku ditempatnya berdiri sekarang, seolah masih tak percaya bahwa kakak panti asuhanya dulu adalah bosnya sendiri dan terkejutnya lagi, ternyata begitu dekat denganya selama ini.
__ADS_1
"Kebetulan macam apa ini?" Gumamnya tak percaya pada kebetulan ini. "Ini beneran?" Ucapnya lagi dengan ekspresi masih setengah tak percaya.
Meski dipenuhi tanda tanya, dan rasa bingung, Kinan kembali melanjutkan pekerjaanya.
...
Bian yang kini sudah berada di dalam kamarnya, merasa lega setelah mengakatanya identitas dirinya pada Kinan. Dia tersenyum lega pada apa yang telah dia lakukan.
"Ternyata dia memang tidak mengenaliku." Ucapnya teringat akan ekspresi terkejut dari Kinan tadi. "Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang, setelah tahu?" Kata Bian, sedikit bingung dengan hubungan keduanya.
Meski dulu pernah dekat, namun tidak dipungkiri bahwa saat ini hubungan keduanya tak lebih dari sekedar orang asing, atau lebih tepatnya sebagai atasan dan bawahan sekarang.
Bian meraih kalung kenangan miliknya dulu bersama Kinan, menatapnya lekat dan penuh kehangatan. Tiba-tiba suara dering telfon dari ponselnya mengalihkan sejenak pandanganya.
Tertera nama Adel, saat dia mencoba meraih ponsel yang sedari tadi dia tinggal dikamarnya. Tak seperti biasanya, dia sedikit ragu dan menjeda sejenak untuk mengangkatnya.
"Halo." Ucapnya kemudian mengangkat telfonya.
"Bi, kamu beneran sudah berangkat ke jogja?" Tanya Adel begitu Bian mengangkat telfonya. Tak ada kata sapaan yang biasa ia lakukan.
"Iya."
"Kok cepat banget, sih? dan kamu tidak memberitahuku sebelumnya?" Protes Adel.
"Maaf, Del. Karena aku sedang terburu-buru saat itu, jadi lupa memberitahu kamu." Balas Bian.
"Bi, kamu tidak lagi marah kan sama aku?" Kata Adel dengan nada pelan.
Bian terdiam. "Tidak kok, aku berangkat cepat karena masih ada kerjaan disini." Jawab Bian.
"Serius?" Tanya Adel mencoba memastikan lagi.
"Iya, serius."
"Aku lega mendengarnya." Terlihat jelas nada kelegaan dari Adel, yang sedari tadi merasa cemas.
Meski menjawab semua yang ditanyakan oleh Adel, dan mendengar semua apa yang dikatakan oleh Adel, entah mengapa ekspresi dari Bian terlihat tak bersemangat seperti biasanya.
__ADS_1
Bian lalu menyadari ada begitu banyak panggilan telfon dari Adel sebelumnya, setelah telfonnya tertutup. Ia menatap layar ponselnya lama, dan di akhiri dengan helaan nafas panjang darinya.