Teman Gadis Kecilku

Teman Gadis Kecilku
66. Persahabatan Yang Erat


__ADS_3

"Kotak apa ini?" Dengan penuh rasa penasaran, Adel tampak terkejut melihat kotak berbentuk kecil yang memiliki desain cantik dan begitu menarik perhatinya. Kotak mungil itu ia temukan saat hendak meletakan sesuatu disamping tempat tidur Bian.


"Wah, cantiknya."


Adel berseru dengan nada pelan ketika membuka kotak kecil itu, yang di dalamnya ternyata berisi sebuah kalung.


"Apa ini? Kenapa dia bisa punya kalung seindah ini?"


Adel menatap penuh dengan rasa penasaran, dan berbagai pertanyaan pada Bian yang kini tengah mengobrol dengan Adnan.


"Ah, apa mungkin, kalung ini adalah hadiah untuk ulang tahunku nanti, ya?" Pikir Adel, ketika mencoba menebaknya.


"Kalau bukan, memangnya dia mau kasih ke siapa? Mamanya juga gak mungkin, bentuknya saja sudah tidak terlalu cocok? Dan dia juga tidak punya banyak kenalan perempuan selain aku." Senyum Adel saat memikirkanya.


Adel menaruh kembali kalungnya dalam tempatnya semula. Dengan senyum simpulnya, dia menantikan kalung itu akan diberikan oleh Bian nanti padanya. Namun, saat mengembalikan kalung pada tempatnya, matanya juga manangkap kotak kecil di dekat kalung yang ia temukan.


"Apa itu juga kalung, ya? Kenapa kotaknya ada 2?"


Adel baru tersadar ketika melihat kotak kecilnya ada dua, tanganya ingin meraih kotak satunya lagi untuk melihat isinya. Namun, tertahan ketika ada panggilan dari Bian.


"Del, kita makan, yuk?" Ucap Bian pada Adel yang kini matanya tengah terfokus pada kotak kecil miliknya.


"Makan?, ah, ok." Jawab Adel tak jadi mengambil kotak satunya, dan mencoba mengatur ekspresinya agar tak kelihatan gugup karena habis melihat kalung miliknya. Kakinya mulai menjauh dari tempatnya saat ini, lalu berjalan kearah Bian dan juga Adnan.


"Adnan katanya lapar, karena itu aku mengajakmu makan." Ujar Bian ketika Adel menghampiri mereka.


"Ok, aku juga udah lapar. Lagian sudah mau makan siang juga, kan?" Balas Adel tak menolak ajakanya, meski raut wajahnya terlihat mengisyaratkan kalau dia masih cukup penasaran dengan kotak satunya.


"Apa ya isinya kira-kira? Aku jadi agak penasaran, deh. Apa aku tanya langsung aja sama Bian, ya?" Gumamnya dalam hati dengan berbagai pertanyaan.


"Del, ayo jalan." Pegang Adnan pada pundak Adel, yang melihat Adel masih saja diam ditempatnya ketika mereka hendak keluar untuk makan.

__ADS_1


"Ah, iya sorry." Adel tersadar dari lamunanya.


"Kenapa? Lagi ada masalah?" Tanya Adnan perihal tidak fokusnya Adel. Mereka mengobrol sembari mereka jalan keluar dari kamar Bian.


"Gak ada apa-apa kok, tadi cuma lagi mikir mau makan apa enaknya." Jawab Adel dengan sedikit senyuman pada bibirnya, untuk menutupi kata hatinya yang sebenarnya.


"Oh gitu, ku kira ada apa." Adnan tampak lega mendengarnya, dan tak lagi mempermasalahkan lagi hal tersebut, dan Adel membalasnya hanya dengan senyuman tipisnya. Ketiganya pun mulai menjauh dari kamar Bian, untuk menuju restaurant.


...


Terasa baru bagi mereka bertiga makan bareng setelah cukup lama tak makan bareng karena kesibukan, ditambah dengan lokasi pertemuan mereka saat ini yang terlihat istimewa.


"Aku masih gak menyangka kita bakal berkumpul bertiga disini, terakhir kali kapan ya kita makan bareng seperti ini?" Ucap Adnan membuka obrolan.


"Iya benar. Mungkin sebelum aku berangkat ke jogja, tapi meski gitu kita masih ketemu kan, 3 minggu yang lalu di kafe, sebelum akhirnya aku kembali kesini lagi." Balas Bian, yang kembali mengingatkan kejadian di kafe.


"Iya, ya. Ternyata baru 3 minggu yang lalu." Adnan mencoba mencairkan suasana sesaat setelah agak hening ketika Bian mengatakan soal kafe, sebelum akhirnya ia melanjutkan lagi ucapannya. "Padahal baru 3 minggu, ku kira udah lama aja." Kelakarnya "Tapi, benar juga sih kayanya bukan apa-apa itu, dibanding yang 2 tahun kemarin." Sambungnya sedikit tertawa, yang mendapat anggukan kecil dari Bian untuk menanggapi ucapannya.


"Bian doyanya pergi-pergi mulu, sih. Kadang aku suka lupa kalau dia tinggal, karena sudah kaya bang toyip, alias jarang pulang." Ledek Adel dengan sedikit menyeruput minumanya.


"Bang Toyip kan gak pulang karena gak tau arah pulang, tapi aku kan masih tau arahku pulang." Sanggah Bian mencoba membela diri.


Setelah mendengar sanggahan dari Bian, Adel dan Adnan saling menatap. Mereka seolah meledek jawabanya. "Iya deh bang Bian yang tau arah pulang." Ledek Adel.


"Terserah kalian sajalah." Ucap Bian dengan pasrah setelah menjadi sasaran ledekan kedua temanya.


Anehnya, setelah kejadian di kafe beberapa hari lalu, tak bisa merenggangkan hubungan pertemanan mereka, meski sempat di landa kegalauan dan juga perasaan tak nyaman satu sama lain. Meski begitu, sepertinya rasa pertemanan itu yang kembali menguatkan mereka, meski terkadang ada rasa canggung jika teringat kembali akan hal itu.


...


"Lho, kamu gak mau nginap di hotelnya Bian? Terus nanti, kamu tinggal dimana dong?" Tanya Adel sepulang mereka dari restaurant.

__ADS_1


"Ah iya, soalnya aku harus kembali sekarang, soalnya aku harus ke jepang malam ini juga." Balas Adnan.


"Dasar, dianya sendiri juga sama-sama bang Toyip gitu." Sindir Adel melihat kesibukan Adnan.


"Oh gitu, ya. Wah kamu benar juga ternyata." Adnan tak bisa menyembunyikan senyumnya setelah mendengar sindiran Adel untuknya.


"Seri kita." Timpal Bian tampak puas.


Ketiganya tertawa setelah mendengar Bian berbicara seperti itu, seolah saling mentertawakan diri mereka sendiri.


"Wah sudah lama ya kita gak tertawa selepas ini." Ucap Adnan merasa nyaman.


"Benar juga." Timpal Bian.


"Hem.., hari ini benar-benar mahal buat kita." Timpal Adel, yang mendapat anggukan setuju dari kedua sahabatnya, karena setelah insiden kafe di antara ketiganya masih tampak canggung satu sama lain, bahka agak sedikit berjarak, karena itu, ini menjadi terasa spesial bagi mereka meski hanya berlangsung singkat.


"Yaudah, aku pergi dulu ya. Take care ya kalian disini." Pamit Adnan kemudian, pada Bian dan juga Adel.


"Ok, kamu juga ya, and thanks lho tadi nemenin aku ke jogjanya, sampai anterin aku juga ke tempatnya Bian. Jadi aku bisa sampai deh tanpa nyasar." Peluk Adel pada Adnan yang hendak pergi sembari mengucapkan terimakasih.


"It's ok Del, aku gak bantu banyak juga. Kebetulan kan tujuan kita sama, meski sebelumnya gak tau juga sih kalau kamu mau datang kesini." Balas Adnan tak merasa keberatan.


Ketiganya sing memeluk satu sama lain, sebelum Adnan benar-benar pergi dari hadapan mereka.


"Oh iya, kamu menginap sampai kapan disini? Ku kira tadi kamu mau sekalian balik juga?" Tanya Adnan.


"Besok sih, mungkin sore atau malam aku pulang, karena kan gak bisa disini terus juga. Pekerjaanku sudah menantiku. Anggap saja hari ini aku lagi holiday."


"Kalau bang Bian, kapan pulangnya?" Tanya Adnan yang beralih ke Bian.


"Iya kapan nih? Sudah hampir 1 bulan, kan kamu disini?" Timpal Adel.

__ADS_1


"Aku?" Bian cukup kaget mendapat pertanyaan yang tiba-tiba dari Adnan. "Entahlah, do'akan saja, ya teman-teman" Jawabnya kemudian, yang mendapat helaan nafas dari kedua temanya.


"Peace.."


__ADS_2