
Apa yang di dengar oleh Kinan saat ini terasa membingungkan bagi dirinya. Dengan Bian yang semakin agresif memperlihatkan rasa ketertarikan padanya membuatnya semakin dalam posisi yang tidak nyaman.
"Pacaran? Apa itu mungkin?"
Kinan masih diam terpaku pada ajakan yang dilakukan oleh Bian. Tubuhnya membeku, dengan ekspresinya yang memperlihatkan perasaan bingung, namun juga merasa berdebar di saat bersamaan.
"Apa dengan ini, perasaanku belum tersampaikan juga padamu?" Bian mencoba mengajak kembali Kinan untuk bicara, karena melihat Kinan yang tak lagi terdengar suaranya.
"Sebenarnya.. apa yang anda harapkan dari saya? Padahal saya tidak bisa memberikan apapun pada anda?" Kinan akhirnya membuka suaranya setelah mengunci bibirnya yang kalut karena perasaan terkejut.
Bian sempat terdiam mendengar jawaban Kinan.
"Siapa bilang kalau kamu tidak bisa memberikan apapun padaku? Padahal yang aku harapkan itu hanya kamu yang bisa memberikannya." Ucap Bian kemudian.
"Maaf, saya tidak mengerti maksud anda." Kinan agaknya masih bingung dengan perkataan Bian yang ambigu.
"Hati kamu, aku hanya menginginkan itu dari kamu." Ujar Bian yang membuat suasana seketika menjadi hening.
"...."
Kinan semakin tidak bisa mengontrol perasaanya yang semakin berdebar tak karuan. Tubuhnya pun seolah membeku, dengan ekspresinya yang semakin salah tingkah.
"A-apa yang akan anda lakukan jika saya bisa memberikannya pada anda?" Kinan yang bingung memberanikan diri untuk membalas perkataan Bian, meski sempat ragu dan penuh ke hati-hatian.
Sedangkan Bian, yang saat ini sedang berada ditempat yang berbeda dengan Kinan, tepatnya sedang berada di dalam kantor pusat, merasakan perasaan terkejut ketika mendengar perkataan Kinan, seolah sedang mendapatkan sinyal yang positif dari Kinan, hingga tanpa sadar membuatnya sedikit bersemangat dengan senyuman yang tiba-tiba terukir pada bibirnya.
"Kamu menanyakan apa yang akan aku lakukan jika kamu memberikan hatimu padaku?" Ucapnya kemudian.
"Iya." Jawab Kinan.
"Kamu dan aku akan menjadi sepasang kekasih." Ujar Bian dengan keyakinan.
__ADS_1
"Apa hanya itu yang anda harapkan dari saya?" Ucap Kinan lagi, seolah masih meragukan keyakinan perasaan yang Bian tujukan padanya.
"Tidak, karena aku juga ingin lebih dari itu. Kamu mengerti kan, apa yang ku maksud dengan itu?"
Mata Kinan membelalak lebar, karena begitu terkejut mendengar ucapan Bian.
"Saya..,"
"Bgaimana kalau kamu jalani dulu denganku selama 1 minggu saja, dengan begitu kamu bisa tau perasaanmu padaku. Kalau sampai itu juga kamu tidak tertarik denganku, maka aku akan mundur. Bagaimana?" Ucap Bian mencoba memberikan tawaran pada Kinan yang masih terlihat ragu.
Tawaran yang menarik dari Bian, sempat membuat Kinan goyah, namun ada keraguan yang membuatnya tidak yakin untuk melakukannya.
"Bukankah itu akan membuang waktu untuk anda? Lagi pula hal itu tidak menguntungkan bagi anda?" Kinan seperti berusaha mendorong Bian yang hendak mendekat ke arah dirinya.
"Kamu dingin sekali Kinan, padahal aku sudah mengatakan perasaanku yang sejujurnya padamu." Bian yang merasa terus di dorong oleh Kinan, memperlihatkan kesedihanya.
"Maaf, pak. Tapi.., itu.. saya.. hanya ingin anda tidak menyesal." Kinan sedikit merasa tak enak ketika mendengar nada suara yang diperlihatkan oleh Bian lewat sambungan telfonnya. Terlihat kecewa, sedih dan sedikit menahan marah.
"Sepertinya aku harus bertemu dengan kamu secepatnya." Ucap Bian, yang kali ini memberikan intonasi nada yang terdengar serius.
"Kita bicarakan hal ini lagi nanti, karena sekarang aku sedang ada urusan diluar." Tuturnya yang kemudian menutup sambungan telfonnya.
Dan tuut.. tuut.., suara telfon pun seketika terputus. Kinan yang mendengar langsung suara telfon yang terputus terlihat begitu gelisah. Kegelisahannya pada sikap Bian yang terlihat marah padanya tak bisa ia sembunyikan pada ekspresi yang sedang ia buat sekarang.
"Apa aku terlalu memberi batasan pada beliau, ya?" Ucapnya terus menatap ke arah telfon yang sudah tertutup.
....
Waktu terus berjalan, berputar detik demi detik setiap menitnya. Kinan yang masih gelisah, terus melihat ke arah jarum jam yang telah menunjukkan pukul 4 sore.
"Anehnya aku selalu menatap ke arah jam yang terus berputar." Gumamnya yang terus mencoba mengontrol perasaannya yang masih tak enak pada Bian.
__ADS_1
Selayaknya waktu yang terus berputar, Kinan masih merasakan perasaan tak enak karena telfon Bian yang teputus, membuatnya terus merasa kepikiran dengan rasa bersalahnya pada Bian yang terlihat kecewa padanya.
"Apa yang harus aku lakukan saat bertemu dengan beliau nanti?" Ucapnya yang memikirkan sikapnya saat harus bertemu dengan Bian nanti.
"Haruskah aku menelfonnya balik?"
Kinan semakin terlihat tak tenang karena memikirkan Bian, karena ini pertama kali bagi dirinya dalam menghadapai situasi seperti ini.
"Kalau aku menelfonnya, kata apa yang akan aku katakan pada beliau?"
Kinan menghela nafas frustrasi karena memikirkan perasaan bersalahnya. Sejenak ia tersadar akan sesuatu, pada perkataan Bian yang ingin agar dirinya mencoba untuk menjalani lebih dulu dengannya selama seminggu.
"Aku semakin tidak bisa melakukannya, karena takut mempermainkannya." Tuturnya yang akhirnya menutup pikiran kalutnya.
Melanjutkan kembali pekerjaannya yang masih menumpuk untuk sedikit mengurangi beban pikirannya dengan mengalihkan diri pada pekerjaan yang sedang ia kerjakan. Meski kegelisahan itu tetap mengikuti perasaanya, namun Kinan yang penuh rasa tanggung jawab, tetap fokus sampai akhir untuk menyelesaikan pekerjaanya.
Hingga waktu terus berjalan, Kinan tetap mencoba fokus pada pekerjaannya, tanpa ia sadari bahwa hari sudah semakin gelap.
"Sudah jam berapa ini?" Ucapnya yang menatap pada arah jam di depanya dan terlihat jam telah menunjukkan pukul 6 sore.
Kinan mulai merapikan barang-barang miliknya di atas meja. Sebelum pergi dari hotel, ia menuju kesuatu tempat terlebih dahulu untuk meletakkan sesuatu. Tempat yang ia tuju adalah kamar yang Bian gunakan selama tinggal dihotel.
Dengan membawa sesuatu pada kedua tanganya, Kinan menuju ke arah kamar milik Bian. Karena gelap ketika sampai, ia mencoba menyalakan lampu dan langsung berjalan ke arah meja dan samping ranjang tidur, untuk menaruh sebuah pengharum ruangan sebelum akhirnya ia melangkah pergi karena tugasnya telah usai.
Namun, saat membuka pintu ketika hendak keluar, seseorang mengejutkan dirinya yang tiba-tiba berdiri di depan pintu. Sosok itu tak lain adalah sang pemilik kamar. Bian yang datang dengan tiba-tiba dan tanpa pemberitahuan sebelumnya telah mengejutkan Kinan yang melihatnya.
"Pak, Bian." Ucap Kinan dengan ekspreai terkejutnya.
"Aku beruntung bisa bertemu dengan kamu sekarang." Kata Bian bersamaan dengan senyum simpulnya menatap Kinan yang berdiri di depanya.
"Boleh aku masuk?" Ucapnya lagi pada Kinan yang masih diam terpaku.
__ADS_1
"Ah, maaf, silahkan anda masuk." Kinan yang masih cukup terkejut dengan kehadiran Bian, mencoba memberi Bian ruang untuk masuk kedalam kamar.
"Bisa kita bicara sebentar?" Tangan Bian menahan Kinan yang hendak pergi.