Teman Gadis Kecilku

Teman Gadis Kecilku
35. Cinta Terhalang Persahabatan


__ADS_3

Setelah obrolan yang penuh kecanggungan di kafe, Bian mengantar Adel kembali kerumahnya. Tak ada obrolan ketika dalam perjalanan pulang mereka. Hening bahkan jauh dari kata keakraban seperti biasanya.


Raut wajah keduanya terlihat muram dan penuh dengan pikiran. Entah mengapa hubungan keduanya jadi terasa berjarak. Adel seringkali melirik ke arah Bian yang tengah fokus menyetir, namun dia tak berani mencoba untuk mengajaknya bicara, apalagi ekspresi Bian menunjukkan kalau dia sedang kecewa.


Selama perjalanan pulang, Adel diliputi rasa bersalah dan penuh kebimbangan. Setelah dia mengatakan jawabanya, tak ada satupun kalimat yang keluar dari mulut Bian. Dia hanya diam, dan sedikit memberikan senyuman kepadanya.


Aku memintanya untuk menunggu setelah pulang dari jogja, karena sekarang aku merasa bingung harus jawab apa? dan juga pada perasaanku sendiri. - batinya dalam hati.


Padahal, sebelumnya dia selalu merasa khawatir dengan Bian yang berada di jogja. Dia gelisah tanpa sadar dan tak berhenti memikirkan Bian. Namun, entah mengapa ketika Bian ada di depanya dan mengungkapkan perasaanya seperti yang dia inginkan sebelumnya, dia malah melangkah mundur dan menggantungkanya lagi seperti 2 tahun yang lalu.


Dalam keheningan yang menyesakkan selama perjalanan pulang dari kafe, keduanya sampai di depan rumah Adel. Keduanya turun bersama, meski agak sedikit canggung ketika akan keluar.


"Terimakasih ya, Bi." Kata Adel setelah turun dari mobil.


"Hem, masuklah. Aku titip salam sama mama dan papa kamu." Balas Bian.


Adel terdiam, langkahnya sedikit berat ketika hendak masuk ke dalam rumah. Ia melirik ke arah Bian di depanya, dan hendak mengatakan sesuatu namun sedikit ragu.


"Kenapa? apa ada hal yang mau kamu katakan lagi sama aku?" Tanya Bian, menyadari Adel seperti hendak mengatakan sesuatu namun terlihat ragu.


"Itu.., apa besok kamu akan langsung pergi ke jogja?" Tanya Adel sedikit hati-hati.


"Iya." Jawab Bian.


Adel terlihat kecewa mendengarnya, namun dia tak bisa mengelaknya.


"Bi, apa kamu bisa menundanya?" Ucapnya kemudian secara tiba-tiba.


"Kenapa?" Tanya balik Bian.


"Aku ingin kamu disini agak lebih lama."


Bian hanya diam mendengarnya, namun tiba-tiba dia tersenyum menatap Adel.


"Maaf, tapi aku tidak bisa."

__ADS_1


Dia bahkan tidak mencoba memberi alasan atau mencoba meyakinkanku lagi.


Adel terlihat sedih melihat perubahan sikap dari Bian.


"Bi, apa kamu marah sama aku?" Ucapnya menatap Bian.


"Tidak." Balas Bian memberikan senyum tipisnya pada Adel. " Aku benar-benar tidak apa-apa Del, masuklah sudah malam." Ucapnya lagi mencoba meyakinkan Adel, dan kemudian menyuruh Adel segera masuk ke dalam rumah.


"Kamu tau kan, Bi.. kalau.."


"Aku tau, karena itu aku tidak apa-apa." Sanggah Bian memotong ucapan Adel.


"Aku janji, akan aku jawab begitu kamu pulang. Karena itu, bisakah kamu percaya sama aku dan sedikit menunggu..?" Kata Adel mencoba meyakinkan Bian.


"Kalau aku meminta jawabanya sekarang, apa kamu mau mencoba membertimbangkanya? dengan begitu aku bisa menunda kepergianku?"


Adel tak bisa menjawab permintaan dari Bian. Dia hanya diam dengan ekspresi sedikit canggung.


"Baiklah, aku tidak akan memaksa. Masuklah, sudah malam." Kata Bian tak memaksa Adel.


Adel hanya bisa mengangguk dan membiarkan Bian pergi dari hadapanya. Dia menunggu hingga Mobil berjalan menjauh dari hadapanya, lalu masuk ke dalam rumah. Langkahnya ketika masuk, entah mengapa begitu berat dan tak sedikitpun memalingkan wajahnya dari arah mobil Bian tadi.


...


Dua laki-laki yang sedang dilanda kegalauan, terlihat hanya bisa menghela nafas panjangnya. Bertanya-tanya apa yang harus ia lakukan sekarang. Pada hatinya, perasaanya, dan juga dirinya.


Adnan, yang pulang terlebih dahulu terlihat melamun di balkon kamarnya. Dia memikirkan kembali apa yang terjadi di kafe sebelumnya, teringat jelas bagaimana tatapan Bian yang tengah membuat pengakuan pada Adel tadi.


Meski mencoba menerima dan merelakan perasaanya, tak dipungkiri dia masih merasa gelisah pada hubungan keduanya.


"Aku yang selalu ada disisinya, menemaninya bahkan selalu ada untuknya." Ucapnya mengingat kenangannya bersama Adel selama ini.


"Apakah ini akhirnya aku harus menerima kalau dia tidak bisa menjadi milikku?" Ucapnya lagi, sembari menatap langit yang penuh bintang itu.


Adnan tak lagi bisa menyembunyikan perasaan sedihnya pada bintang yang bersinar, juga pada bulan yang tengah menerangi malam.

__ADS_1


...


Tak berbeda dengan Adnan, di dalam apartemenya yang luas itu, Bian merasakan kesedihan yang sama. Rasa dilemanya, rasa galaunya, rasa bimbangnya menjadi tambah berat. Keputusan yang dia ambil setelah memikirkan dalam waktu lama, ternyata tak berjalan baik.


Dia terduduk lemas di atas kursi, menyenderkan kepalanya sejenak dari rasa galaunya.


"Mungkin dari awal harusnya aku tak memulainya." Ucapnya sedikit menyesali pengakuanya.


Mengingat dia bertahan selama ini dengan perasaanya, membuatnya kembali mempertanyakan apa yang dilakukanya selama ini. Selama di luar negeri, fokusnya hanya untuk membangun karir, meski banyak sekali kesempatan untuknya menjalin hubungan dengan seorang perempuan.


Janjinya, kepercayaanya, bahkan tekadnya membuatnya bertahan pada perasaanya. Namun, meski berulang kali dia mencoba mencari celah untuk mengungkapkan perasaan padanya, jawabanya tetap akan sama. Hingga menimbulkan pertanyaan pada dirinya sendiri.


"Apa ini karena dia tidak mau merusak hubungan pertemanan kita?" Kata Bian mencoba menebak.


Dia diam cukup lama di atas sofanya, bahkan mencoba membaringkan tubuhnya di atasnya. Tak ada kata, bahkan ekspresinya penuh dengan berbagai pertanyaan.


Cinta sepihak dan tak terbalas dari keduanya, sepertinya akan terus berlanjut.


...


Sosok yang sedang diperebutkan oleh dua laki-laki, dengan mendapat perasaan suka dari kedua laki-laki terdekatnya, tampaknya merasakan hal yang sama pula.


Ekspresi Adelia Putri Wahyana, terlihat murung di dalam kamar. Dia hanya berbaring di atas ranjangnya dengan penuh pikiran. Memikirkan kembali peretemuanya dengan kedua sahabatnya, yaitu Bian dan Adnan.


Dalam waktu yang berdekatan, dia sudah mendapat pengakuan dari dua laki-laki baik yang selalu dekat denganya.


"Kalau Adnan tidak mengungkapkan perasanya padaku kemarin, mungkin aku akan dengan mudah menjawab Iya pada Bian." Ucapnya mengingat kembali pengakuan keduanya.


"Mereka kenapa suka sekali menempatkanku pada pilihan yang sulit, sih?" Kesal Adel yang benci diliputi dengan perasaan dilema.


"Kalau aku pilih Adnan? maka aku akan kehilangan Bian, begitupun jika memilih Bian maka aku akan kehilangan Adnan." Ucapnya lagi yang tak mau itu terjadi.


Adel bangkit dari tidurnya dan menatap kesal pada foto dua sahabatnya yang terpasang di samping tempat tidurnya. Namun, tiba-tiba saja Adel teringat ekspresi Bian yang baru pertama kali dilihatnya.


"Kenapa aku merasa Bian marah, ya?"

__ADS_1


__ADS_2