
Aku ingin bertemu denganya lagi, karena dengan begitu aku bisa mengembalikan kalung yang diberikan padaku dulu.
Kalimat itu masih terngiang jelas dalam kepala Bian. Sesampainya di hotel, ia terus memikirkan kalimat itu. Pada Kinan, dan interaksi kecil mereka tadi. Ada kecanggungan, namun disatu sisi ia juga merasakan ada yang bergejolak pada hatinya.
"Tadi, aku benar-benar hanya karena penasaran. Tapi, kenapa..." Ucapnya menyentuh dadanya dengan perasaan aneh.
Sepertinya Bian menyadari pada perasaan anehnya hari ini, ia bahkan tak mengira bisa seberani itu untuk menyapa bahkan mengantarkannya pulang, hanya karena ia tersulut oleh cerita dari Dimas.
"Aku gak pernah seperti ini sebelumnya, kenapa aku begini sekarang?" Gumamnya dengan aneh dan mondar mandir bingung pada dirinya sendiri.
Saat ia tahu bahwa Adnan juga menyukai Adel, dan meninggalkanya bersama Adnan setelah ia yang pergi untuk belajar bisnis, tak sekalipun ia bersikap seperti ini, meski rasa cemas itu terkadang ada. Namun, meski jauh, komunikasi di antara mereka tetap lancar, karena itu dia dengan segera bisa mengatasi kecemasannya.
"Apa sebenarnya selama ini rasa sukaku tidak sebesar itu, ya?" Ucapnya bingung setelah memikirkanya. "Ah, entahlah, aku.. bingung sekarang." Sambungnya tak lagi perduli.
Melemparkan tubuhnya pada sofa terdekatnya, melamun dalam kesendirian dan kembali teringat pada pertemuanya dengan Kinan tadi.
"Dia hanya ingin bertemu denganku lagi, karena mau mengembalikan kalungnya? apa dulu aku pernah bilang seperti itu ya?"
Bian tak ingat pernah bilang seperti itu pada Kinan, justru ingatanya hanya agar Kinan menyimpan kalung pemberiannya.
"Kalau sudah dikembalikan, apa dia tidak mau bertemu lagi gitu?" Mengingat akan itu, entah mengapa membuatnya tak suka dan juga kesal.
...
Senada dengan Bian, Kian juga tengah dilanda perasaan bingung dalam menghadapi sikapnya tadi. Agaknya, sikap Bian tadi sedikit membuatnya terkejut.
"Kenapa beliau tidak mau kalungnya dikembalikan sekarang? padahal tadi aku tinggal mengambilnya dari kosan?"
Kinan merasa bingung, karena Bian enggan untuk menerima kalungnya sekarang. Teringat pula pada sikap Bian yang tiba-tiba menghampirinya, bahkan mengantarkanya pulang.
"Padahal motorku sudah tidak apa, sebenarnya kenapa beliau seperti itu ya?"
Dalam kosanya, Kinan tak bisa untuk tidak memikirkan tentang Bian. Mengingat ia merasa sedikit aneh dengan tingkahnya yang membingungkan. Ia juga jadi teringat pada pertanyaan darinya soal pertemuanya kembali dengan kakak kenalanya dulu, yang tak lain adalah dirinya sendiri.
"Bertanya dengan ekspresi seperti itu, membuatku canggung dan malu. Sumpah, tadi aku benar-benar bingung." Gumamnya merasa malu.
__ADS_1
Terlihat mukanya sedikit memerah, ia memegang wajahnya dengan kedua tanganya karena malu mengingatnya, pada tatapan intens yang dilakukan oleh Bian padanya tadi.
"Sadar Kinan, apasih yang sedang kamu pikirkan, dasar.." Tepuk-tepuk dirinya, pada wajahnya untuk menyadarkan diri agar tak berfikir terlalu jauh. "Tapi, aku benar-benar senang bertemu lagi denganya, hanya.. sekarang merasa bingung karena statusnya." Lanjutnya dengan mimik murung.
...
"Kenapa kamu bilang aku keluarga?"
"Soalnya kakak memang keluarga, apa kakak tidak suka menjadi keluarga Kinan?"
"Oh, bukan kok. Aku senang, bisa menjadi keluarga untuk Kinan."
"Baiklah, karena kakak sudah menjadi keluarga untukku, aku berjanjinsuatu hari nanti akan memberikan kakak hadiah jika bertemu lagi, seperti kakak yang memberikan kalung ini padaku." Ucapnya sembari menunjukkan kalaung yang dipakainya.
"Kapan itu? apa tidak bisa sekarang saja hadiahnya?
"Kalau sekarang aku tidak punya uang." Ucapnya murung. "Bagaimana kalau nanti saat aku sudah besar? saat aku sudah punya uang sendiri?" Ucapnya lagi dengan ceria.
"Benarkah? ok deh, aku akan menantkkan janji itu nanti."
...
"Sepertinya aku salah. Perasaanku padamu dulu hanya sebatas saudara. Maaf."
"Maaf, Del. Sepertinya aku sudah tidak punya perasaan apa-apa lagi padamu."
Adel terbangun dari tidurnya pada tengah malam, karena sebuah mimpi buruknya yang datang dan menperlihatkan kedua temanya, yaitu Bian dan Adnan berhenti untuk bertemu dan menyukainya lagi. Bahkan ekspresi keduanya saat menatapnya, terlihat marah dan juga benci padanya.
"Mimpi apa itu? kenapa aku bermimpi seperti itu? kenapa?" Gumamnya dengan ekspresi takut. "Nggak, itu tidak akan pernah terjadi. Benar, mana mungkin mereka bisa membenciku. Tapi.. apa maksudnya dengan tidak menyukaiku lagi?"
Berusaha menyangkalnya sekuat tenaga, karena percaya pada kedua sahabatnya itu. Adel bangkit dari tidurnya untuk mencari ponselnya. Dengan muka gelisah, dia mencoba menghubungi seseorang. Ia memencet berulang kali dengan rasa gelisah dan frustrasi.
"Sial, kenapa tidak di angkat." Umpatnya kesal hingga membanting ponselnya ke atas kasur. "Mereka selalu mengangkat telfon dariku, tapi sekarang..?" Ucapnya dengan nada gelisah. "Tenang Del, kamu harus berfikir positif." Sambil mondar mandir tak tenang, Adel mencoba menenangkan dirinya sendiri, lalu di lihatnya lah jam yang masih menunjukkan pukul 2 malam. Ia tersenyum "Benar, ini kan masih malam, pasti mereka sudah tidur sekarang." Ujarnya mulai tenang.
Seperti bukan dirinya, ia tak lagi bisa tenang dengan situasi yang sedang di alaminya sekarang. Padahal, ia yang biasa akan selalu tenang dan mencoba mencari solusinya. Namun, kini dia gelisah pada hal yang belum terjadi.
__ADS_1
Sepertinya karena kedua teman yang selalu menghubungi dirinya terlebih dahulu, lalu menjadi jarang menghubungi dirinya membuatnya frustrasi sendiri hingga tak bisa berfikir jernih. Karena komunikasi mereka tak seintens dulu, bahkan sangat sulit untuk sekedar membalas chat darinya.
"Aku tidak akan pernah membiarkan kalian menjauh dariku. Kalian berdua harus selalu ada disisiku." Ucapnya dengan muka serius dan tatapan yang penuh penekanan. "Aku benar-benar tidak bisa kehilangan kalian berdua." Ucapnya lagi dengan ekspresi sedih.
Setelah kembali tenang, ia melanjutkan kembali tidurnya yang sempat terganggu. Dengan tenangnya ia kembali tidur dan menutup kembali matannya. Mencoba berfikir positif dengan tidak terlalut dari rasa cemasnya.
......................
Saling bergejolak, dan saling menggelora. Pada hati mereka yang kini mulai berubah. Rasa yang dulu besar dan penuh kebahagiaan, perlahan mengikis karena ketidakpercayaan.
"Aku ingin menenangkan diriku dulu, karena itu aku menjauh dari segalanya." Adnan yang kini mencoba untuk menenangkan kembali hatinya.
Rasa suka, cinta atau sekedar basa-basi belaka hanya ingin semua terlihat jelas, hingga tak lagi menimbulkan kegelisahan pada dirinya.
...
"Aku sudah dengar dari Adel, apa kamu tidak apa-apa?" Ucapnya pada Bian dari sebrang telfon.
"Kenapa apanya? aku tidak apa, toh bukan yang pertama." Jawab Bian tenang.
"Aku minta maaf.."
"Kenapa kamu meminta maaf? apa kamu berbuat salah?" Bingung Bian pada Adnan yang membuat nada bersalah padanya.
"Hari sebelum kamu mengatakan perasaan, aku menyatakan perasaanku pada Adel, dan mungkin itu yang buat Adel merasa bersalah dan bingung, hingga akhirnya tidak bisa menjawab perasaanmu."
"Ah..." Bian mengerti sekarang. "Bodoh, memangnya itu jadi salah kamu apa? aku memang cemas kamu juga suka pada Adel, tapi bukan berarti ini salah kamu, karena perasaanmu ya perasaanmu, dan aku tidak berhak untuk mengontrol perasaan itu. Tapi.. untuk kemarin, terimakasih." Ucapnya mengara pada Adnan yang memberikan ruang untuknya mengobrol berdua dengan Adel di kafe.
"Emm.." Jawab Adnan dengan sedikit tak nyaman.
"Karena kamu, aku bisa ngobrol berdua dengan Adel. Terlepas jawabanya, biar itu jadi urusanku, yang penting aku sudah mengatakanya kemarin." Sambungnya lagi tak mempermasalahkan hal itu lagi.
Meski sama-sama memendam perasaan, nyatanya keduanya masih memikirkan perasaan masing-masing, meski menjadi saingan dalam urusan asmara.
"Sepertinya aku sedang melarikan diri sekarang." Seringainya tak percaya, setelah teringat kembali pada obrolanya dengan Bian beberapa hari lalu.
__ADS_1